“Kalau dalam 4 tahun seluruh tanaman berhasil berbuah kopyor, saya akan memperluas menjadi 1—2 ha,” katanya kepada Prakoso Heryono. Sayang, hasrat Adi mesti pupus lantaran penangkar bibit di Demak itu tak kuasa memenuhi permintaan pasokan bibit dengan jaminan pasti kopyor.
Keinginan Adi 2 tahun silam itu bakal terluluskan kalau saja ia bertandang kembali ke Demak awal tahun ini. “Sekarang saya berani menyediakan bibit yang menghasilkan 40% kopyor,” kata Prakoso. Bibit dipasok dari seorang pekebun di Pati. Pemilik nurseri Satya Pelita itu yakin lantaran mengecek sendiri ke kebun produksi.
Nun di Kalianda, Lampung Selatan, ada H Hasan Mataraja yang juga menyediakan bibit kopyor. Berbekal pengalaman lebih dari 17 tahun, pria setengah baya itu dapat memilih kelapa tua untuk bibit dan kelak menghasilkan kopyor.
Dua kiat
Produsen kopyor itu mempunyai 2 cara untuk mencari bibit yang pas. Pertama, melihat bentuk daun. Bibit kelapa normal daunnya hijau mengkilap dan tegap; kopyor, cenderung hijau gelap dan terkulai. Cara ini jelas sulit karena diperlukan mata ahli untuk melihat perbedaan itu.
Kiat kedua lebih mudah. H Hasan selalu menandai pohon penghasil kopyor. Pohon kelapa yang sekali saja tidak mengkopyorkan diri pada tandannya saat dipanen, tidak akan digunakan sebagai sumber bibit. Begitu sebuah pohon mengeluarkan kopyor pada 4—5 tandan secara berturut-turut, itulah calon indukan terpilih.
Buah yang dijadikan bibit kopyor adalah buah normal dari janjang buah kopyor. Misalkan dalam satu janjang ada 8 buah kelapa dan 3 di antaranya kopyor. Tiga kopyor itu diambil. Sisanya yang tidak koclak dituakan di pohon untuk dijadikan bibit. Teknik seleksi itu lumayan sukses. Sekitar 70% bibit yang ditanam bila sudah besar juga menghasilkan kelapa kopyor. Setelah dewasa mereka pun memunculkan kopyor sebanyak 1—25% seperti pohon induknya.
Buah kopyor itu sendiri tidak dapat dipakai sebagai bibit karena embrionya sudah lepas dari endosperm saat buah sudah tua. Jadi, untuk mendapatkan bibit kopyor yang dapat berbuah 100% kopyor, hanya dapat diperoleh dengan menumbuhkan embrio dari buah kopyor di laboratorium. Metode yang dipakai kultur embrio.
Teknik kultur embrio dilakukan dengan menumbuhkan embrio dalam media tumbuh buatan. Waktu yang diperlukan sekitar 1 tahun dalam kondisi aseptik di laboratorium. Selanjutnya dilakukan adaptasi selama 1 tahun pada lingkungan luar sebelum ditanam di lapang. Metode kultur embrio itu sudah dilakukan di Balai Penelitian Perkebunan Ciomas, Bogor, dan Balai Penelitian Kelapa Manado.
Langka
Tidak sulit mengetahui kekopyoran kelapa setelah dipanen. H Hasan Mataraja biasanya mengetuk tempurungnya. Jika bunyinya tek… tek….tek…, daging buahnya pasti kopyor. Uji juga bisa dilakukan dengan mengocok buah kelapa itu. Kalau saat dikocok terdengar suara riak bagai air sabun, itulah kopyor.
Keunikannya terletak pada daging buah yang lunak, kenyal, menggumpal, dan tidak sempurna menempel di tempurung. Sebagian malah terapungapung berbaur dalam air. Daging buah nan lunak itu dicampur es dan sirup. Rasanya menyegarkan tenggorokan yang kering. Rasanya yang unik itulah yang melambungkan permintaan. Sentranya saat ini ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Toh, walaupun pusat kelapa kopyor sudah diketahui, ketersediaan bibit masih langka.
Tampilan kelapa kopyor mirip sekali dengan pohon kelapa normal yang biasa tumbuh di pekarangan atau kebun petani. Ia diduga berasal dari hasil mutasi almiah tanaman kelapa normal yang menyebabkan kelainan genetik pada pembentukan daging.
Hasil penelitian biokimia endosperm buah kopyor memperlihatkan, terjadinya defi siensi enzim á-D Galaktosidase yang menyebabkan tidak normalnya pembentukan endosperm. Akibatnya tidak ada dukungan untuk perkecambahan embrio. Gen lethal pada endosperm kelapa kopyor menyebabkan daging buah mudah terlepas dari tempurung. Putuslah hubungan jaringan endosperm dengan embrio.
Pohon kelapa berbuah kopyor yang terdapat di lapang atau yang sekarang dikembangkan petani diduga memiliki genotipe heterozigot (Kk). Atau, cuma 50% bersifat kopyor. Buah kelapa normal dari pohon itu jika ditanam berpeluang tumbuh menjadi tanaman kelapa berbuah kopyor.
Persentase menghasilkan buah kopyor sekitar 1—5%, bergantung pada genotipe tepung sari yang menyerbuki bunga betina. Buah kopyor memiliki gen resesif kopyor homozigot sehingga tidak mampu tumbuh menjadi tanaman baru. (Ir Ismail Maskromo, staf Peneliti Pemuliaan Balai Penelitian Kelapa Manado)
