Monday, January 26, 2026

Bisnis Sekaligus Hijaukan Bumi

Rekomendasi
- Advertisement -

Anggi Murni

Selama puluhan tahun, Anggia Murni konsisten pada arsitektur lanskap. Ia bukan sekadar berbisnis, tapi juga idealisme menghijaukan Bumi.

Kesuksesan Anggia
Murni diraih dengan
melewati berbagai
fase pembelajaran dari
satu perusahaan ke
perusahaan lain.

Trubus — Anggia Murni menghabiskan waktu 7 hari untuk mendesain pameran perdagangan Republik Indonesia di Kota Sarjah, di pinggir Dubai, Uni Emirat Arab. Perancang taman itu memanfaatkan beragam tanaman seperti beringin, plumeria, dan aneka palem. Untuk mengangkut ratusan tanaman berbagai ukuran itu, ia menggunakan truk besar ke arena pameran seluas 4.000 m² itu.

Murni pun menghadirkan panorama alam Indonesia yang mencengangkan para pengunjung pameran solo itu. Semua tanaman untuk mendekorasi taman itu tumbuh di Indonesia. Namun, Murni tak membawa sendiri tanaman-tanaman itu. Ia menghubungi rekannya di Uni Emirat Arab, David, importir yang selama ini meminta pasokan beragam tanaman hias dari Murni.

Kontraktor taman

Memberi keleluasaan karyawan untuk berkreasi dengan bertanggungjawab.

Kementerian Perdagangan RI kembali meminta Anggia Murni untuk mendekorasi paviliun Indonesia pada pameran World Expo di Nagoya (Aichi), Jepang, pada 2005. Membawa tanaman ke Jepang sangat sulit karena pemerintah setempat amat ketat menjaga sanitasi. Murni merasa beruntung karena ia juga menjalin kemitraan dengan importir di Jepang. Selain merancang taman, Murni memang mengekspor beragam tanaman hias ke berbagai negara.

Di samping Uni Emirat Arab dan Jepang, negara lain tujuan ekspor tanaman hias adalah Siprus, Belanda, Italia, Jepang, Korea Selatan, Kuwait, Lebanon, Spanyol, dan Singapura. Itulah sebabnya Murni tidak perlu membawa pohon ke Jepang meski kebutuhan tanaman cukup besar lantaran ekshibisi berlangsung 6 bulan. Ketika itu peserta dari Malaysia dan Singapura menggunakan pohon plastik karena tidak mampu menghadirkan pohon asli selama itu.

“Karena penampilan paviliun Indonesia sangat apik, adik Kaisar Jepang, Pangeran Akishino pun mengunjunginya,” kata Murni. Menurut Murni salah satu kunci sukses usahanya adalah banyak relasi baik di dalam maupun di luar negeri, terutama di negara pengimpor. Nilai ekspor tanaman ke Uni Enirat Arab mencapai US$200.000 setara Rp1.84 miliar dengan kurs dolar Rp9.200. Frekuensi ekspor satu kali per bulan. Sekali kirim mencapai 4 kontainer.

Tropica Greeneries membuat vertical garden pertama di Indonesia pada 2005.

Contoh tanaman yang ia ekspor ke Uni Emirat Arab ialah beringin, plumeria, dan beragam jenis palem. Adapun importir di Belanda lebih menyukai palem waregu berumpun yang tertata dalam pot dengan ketinggian bervariasi. Sejatinya Murni rutin mengirimkan beragam tanaman hias setiap bulan dengan negara tujuan berbeda-beda. Namun, setelah krisis global pada 2008, permintaan tanaman hias pun anjlok.

Itu yang menyebabkan Murni menggiatkan kembali usahanya di bidang konsultan dan kontraktor lanskap, latar belakang pendidikan dan pekerjaannya. Murni juga menjalankan peran sebagai konsultan untuk memelihara lanskap istana Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dan Istana Tampaksiring, Bali. “Di Istana Tampaksiring kami memperkaya jenis kembang sepatu, sedangkan di Istana Cipanas, menanam aneka jenis cemara,” kata Murni.

Menjaga mutu

Sebanyak 10 % dari lahan bangunan berfungsi sebagai serapan air.

Murni juga merancang taman rumah pengusaha kondang mendiang Bob Sadino. Ketika merancanag taman dalam skala luas di sebuah kompleks perumahan hingga 20 hektare, banyak pemasok yang menawarkan tanamannya. Namun, Murni menolak pasokan itu karena tanaman mereka tidak sesuai spesifikasi. “Kalau spesifikasinya tinggi tanaman 3 m, ya harus 3 meter. Pokoknya kalau spesifikasi tidak cocok, ditolak,” kata Murni.

Menurut Murni jika menerima tanaman yang tak layak, menimbulkan masalah seperti pohon tidak bisa hidup. Dampaknya pemilik taman enggan membayar sehingga merugikan Murni. Oleh karena itu, “Saya membiasakan kualitas nomor satu,” kata perempuan kelahiran Jakarta itu. Selain ketat memilih tanaman, perancang lanskap juga harus memahami karakter tanaman. Misal penanaman palem putri Veitchia merillii di dekat dinding akan membuat tanaman tumbuh bengkok.

Menghadirkan taman berwarna-warni harus mengetahui karakter tanaman.

Begitu juga penanaman pisang kipas Ravenala madagascariensis dekat bangunan menyebabkan susunan daunnya tidak membentuk kipas yang merupakan ciri khasnya. Dengan demikian Murni memperhitungkan pertumbuhan tanaman agar kualitas taman pun terjaga. Kualitas pekerjaanya akhirnya banyak beredar dari mulut ke mulut sehingga permintaan pun berdatangan.

Pantas jika Tropica Greeneries—perusahaann milik Murni—juga mengerjakan taman hotel, apartemen, perumahan, perkantoran, mal, dan bandar udara. Kolega Tropica di antaranya Hotel Kempinsky, Hotel De Paviljoen, Bandung, Cenang Hotel, Langkawi, Malaysia. Tropica juga mengerjakan taman Bandara Udara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, dan taman di terminal Ultimate 3, Bandara Soekarno Hatta.

Anggia Murni

Selain sebagai eksportir, Tropica Greeneries pun mengimpor tanaman. Namun, Murni hanya mengimpor tanaman tertentu seperti washingtonia dan kurma dengan jumlah amat terbatas. Murni mengimpor kurma dari Mesir. Ia mendatangi nurseri di Kairo dan Alexandria. “Saya pilih pohon yang saya inginkan, bayar sendiri, selanjutnya pengiriman ke Indonesia diurus kolega,” kata alumnus Universitas Trisakti itu.

Ia mengimpor tanaman berdasarkan permintaan dari konsumen atau bagian dari inovasi agar perusahaannya yang mempekerjakan 25 karyawan itu bertahan dan berkembang. “Perkembangan arsitek lansekap cepat sekali,” tutur istri Asroel Alamsjah itu. Contoh inovasi itu mendesain lanskap dengan memasukkan tanaman buah dan sayuran. Kedua spesies itu tak lazim sebagai bagian dari taman.

Namun, Murni memasukkannya karena fungsinya sebagai sumber pangan. Bila taman luas, ia menanam sayuran langsung di tanah. Namun, jika halaman terbatas, penanaman sayuran di pohon buah atau dalam pot. Tropica Greeneries mendirikan bangunan berbasis lingkungan atau green building. Pada prinsipnya green building adalah upaya untuk menghasilkan bangunan dengan menggunakan proses-proses yang ramah lingkungan pada semua tahap pengerjaan.

Green building membawa penghuni lebih sehat.

Murni menekuni profesi sebagai konsultan lanskap di berbagai perusahaan pada 1990—1997. Saat berkarya di PT Forestech, anak perusahaan Grup Lippo, ia menjadi manajer proyek seluas 20 ha yang mempekerjakan 100—200 orang, sebagian besar laki-laki. Banyak pemasok tanaman yang melakukan berbagai cara agar tanamannya diterima. “Ada yang mengaku sebagai kerabat orang penting, tetapi saya tidak takut,” ujar ibu 3 anak itu.

Saat bekerja di Forestech itulah Murni menyadari bahwa ketersediaan tanaman siap tanam sangat terbatas, sehingga mereka harus keliling mencari tanaman ke berbagai daerah agar sesuai pesanan klien. Atas kondisi itulah pemilik Forestech kemudian mendirikan PT Benar Flora Utama untuk menyediakan tanaman bagi keperluan proyek taman. Anggia Murni merintis dan mengelola perusahaan seluas 25 ha itu pada 1997.

Proyek yang ditangani Anggia Murni terdapat di berbagai kota.

Ia memutuskan berusaha sendiri pada 2002, setelah keluar dari PT Benar Flora Utama. Di perusahaan itu, Murni menimba ilmu propagasi, pembibitan, penjualan morfologi, dan taksonomi tanaman. Bahkan ia pun sempat berguru ke Benara Nurseri di Australia untuk memperlajari manajemen nurseri. Ia memanfaatkan uang pesangon dari perusahaan itu untuk mendirikan perusahaan sendiri. (Syah Angkasa)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img