Bambu dan ijuk menggantikan baja dan akrilik untuk dinding tambak udang di atas lahan pasir. Awet, bebas karat, dan ramah lingkungan.
Lahan di Desa Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berpasir sehingga tidak cocok untuk membuat tambak udang. Namun, PT Noerwy Aqua Farm (NAF) mengoperasikan tambak udang di atas tanah pasir itu. Selama ini petambak memilih lokasi tanah liat agar mudah membangun tambak. “Di tanah liat, pembuatan kolam dengan cara kedok-teplok yang lebih cepat dan murah,” kata penyuluh perikanan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Awang Rochadiyan Okrista.

Dengan teknik biokret (biocrete), calon petambak tidak perlu membeton dasar kolam. Baja dan pelapis akrilik untuk membeton dinding kolam diganti bambu dan ijuk. Dasar tambak dibiarkan berpasir.
Sukses panen

Untuk mencegah air merembes, pekerja membentangkan plastik PE di dasar kolam. Di atas plastik, dihamparkan lapisan pasir setebal 3—5 cm. Menurut periset di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Bambang Widigdo, lapisan pasir mencegah terbentuknya lumpur akibat akumulasi kotoran udang atau sisa pakan. Hasilnya dasar kolam minim bakteri atau virus patogen.
Kadar zat beracun seperti nitrit, nitrat, atau amonia berada di tingkat aman. Pengurasan dan disinfeksi kolam pascapanen pun optimal menyingkirkan kotoran dari budidaya sebelumnya. Ketika Trubus ke tambak itu pada November 2018, empat truk berjajar siap membawa hasil panen NAF. Hari itu, pekerja tambak mengangkat 38 ton vannamei berumur 70 hari pascatebar. Panen yang disebut panen parsial atau penjarangan itu bertujuan menurunkan kepadatan.
Itu sebabnya bobot udang belum optimal. Menurut manajer tambak NAF, Rachman Qutub, ukuran belum optimal tidak menyurutkan minat pembeli. Truk yang berjajar di samping kolam itu bukan milik NAF. Pembeli mengambil sendiri udang yang mereka beli.
Oleh karena itu, boks, es batu, maupun tenaga mengemas pun urusan pembeli. NAF memanen parsial kalau kadar oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen). Angka DO yang mendukung kehidupan udang adalah 4—6 ppm. Dalam setiap siklus pemeliharaan selama 110 hari, NAF menjarangkan dengan panen parsial 2—3 kali.

Pertama ketika bobot udang 10—11 gram atau 90—100 individu per kg ketika umur pemeliharaan 60 hari atau (DOC 60, day old culture). Secara teori, penjarangan berikutnya berjarak 14 hari sejak panen parsial sebelumnya. Praktiknya, NAF panen parsial kedua ketika bobot udang 14,3—16,7 gram (60—70 udang per kg) saat DOC 70.
Menurut Rachman patokan utamanya ukuran udang. Penjarangan terakhir pada DOC 90, saat itu sekilogram berisi 40—50 udang. Terakhir, panen total pada 110 hari budidaya, mengangkat udang berbobot 33,3—50 gram (20—30 udang per kg). Namun, kalau pada DOC 90 bobot udang mencapai 30 ekor per kg, mereka memanen total. Produksi total per siklus, termasuk hasil penjarangan, mencapai 350 ton.
Dengan durasi itu, “Dalam setahun kami bisa membudidayakan 2,5 siklus atau 5 siklus per 2 tahun,” kata pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, itu. Tingginya frekuensi pemeliharaan itu lantaran NAF menggunakan kolam berdinding beton. Bandingkan dengan frekuensi budidaya di tambak tanah, yang lazim digunakan petambak tradisional, hanya 2 kali per tahun.
Itu sebabnya petambak bermodal besar memilih membuat kolam beton yang lebih mudah dibersihkan dan tidak perlu sering ditambal. Kepraktisan itu meningkatkan frekuensi budidaya. Namun, pembangunan kolam beton di tanah pasir pun relatif sulit. Sudah begitu, air laut yang bergaram mengorosi rangka baja dalam beton sehingga mempersingkat masa pakai.
Kualitas udang

Dr. Ir. Bambang Widigdo menginvensi teknik biokrit untuk mengatasi berbagai kekurangan tambak di atas pasir. Dalam buku Bertambak Udang dengan Teknologi Biocrete, Bambang menyatakan bahwa biokret mempermudah pembangunan tambak di lahan berpasir. Sebelumnya, orang menghindari lahan berpasir untuk membuat tambak. Mereka memilih lahan eks-mangrove yang bertanah liat.
Akibatnya luasan mangrove kian sempit, padahal keberadaan hutan bakau itu penting bagi ekosistem dan masyarakat pantai. Rama—sapaan Rachman Qutub—menyatakan bahwa meski dasar kolam diganti dari beton menjadi lapisan plastik dan pasir, biaya konstruksi tidak jauh berbeda. Pasalnya, pengganti rangka baja untuk dinding mesti menggunakan bambu petung, yang lebih mahal daripada lainnya. “Ijuk pun harus dipotong-potong sepanjang ruas jari untuk membentuk lapisan yang rapat,” kata bungsu dari 3 bersaudara itu.
Kelebihannya, bambu bebas korosi sehingga dinding jauh lebih awet. Menurut direktur operasional NAF, Miftakhul Munir, bagian yang harus sering diganti adalah plastik PE di dasar kolam. Pasalnya ketika dikuras, plastik terpapar matahari kadang sampai 2 minggu lebih. Selama pengisian atau pengurasan, plastik terinjak-injak pekerja sehingga rentan sobek. Akibatnya, “Rata-rata masa pakai plastik hanya 5 tahun,” kata pria kelahiran Magelang itu.

Budidaya udang di dasar pasir menghasilkan udang berkualitas tinggi. Miftakhul Munir mengatakan, pembeli mengatakan udang produksi NAF lebih enak. “Daging lebih manis dan kenyal,” kata pria berusia 48 tahun itu menirukan perkataan pembeli. Itu sebabnya NAF tidak pernah kesulitan menjual. Berapa pun hasil panen mereka selalu diminati pembeli. Rama mengatakan pembeli membayar uang muka sebelum udang keluar dari kolam.

Sebelum panen mereka menghubungi calon pembeli dan menawarkan dengan sistem lelang. “Penawar harga tertinggi harus membayar separuh harga seminggu sebelum panen dan melunasi kekurangannya maksimal seminggu setelah panen,” kata Rama.
Fantastis
Dari 53 kolam produktif di Ujunggenteng, untuk sementara 20 di antaranya mengadopsi metode plastik HDPE. “HDPE digunakan sementara untuk mengejar waktu. Setelah dibereskan, nanti semua kembali ke biokrit,” kata Rama. Hitungan kasar, 20 ha lahan menghasilkan 350 ton udang per siklus dengan padat tebar awal 100—150 benur per m2. Artinya produksi 17,5 ton per ha atau 1,75 kg per m2.
Angka itu sangat tinggi dibandingkan dengan produktivitas vannamei, yang menurut literatur hanya 0,8—8 ton per ha. Dengan harga jual minimal Rp60.000 per kg, omzet NAF per siklus Rp21 miliar. Rama memberi gambaran kasar biaya produksi. Biaya produksi vannamei secara umum adalah 2 kali harga pakan dikalikan rasio konversi pakan (FCR). Dengan FCR 1,3 dan harga pakan Rp15.000 per kg, biaya produksi vannamei Rp39.000 per kg.

Itu hanya hitungan kasar karena selain pakan, faktor produksi lain yang biayanya cukup tinggi antara lain listrik dan tenaga kerja. Daya listrik 1 unit kincir aerasi untuk mengaduk luasan 100 m2 adalah 1 horse power (HP) setara 700—800 watt. Artinya untuk 20 ha perlu 1.000 kincir. Meski demikian, ada margin Rp21.000 per kg yang setelah dikalikan jumlah total panen per siklus menghasilkan jumlah fantastis. Tentu saja, mencapainya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Pemantauan kualitas air dilakukan harian dan mingguan untuk memastikan penanganan segera begitu terjadi perubahan paramater. Sebagai manajer tambak, Rama harus berada di sana minimal 3 minggu dalam sebulan. Semua itu karena vannamei terbukti memberikan hasil menggiurkan. (Argohartono Arie Raharjo)
