Saturday, January 24, 2026

Artemisinin Antara Malaria dan Korona

Rekomendasi
- Advertisement -

Anggota Konsorsium Riset Kemandirian Bahan Baku Artemisinin, Dr. Ir. Yuli Widyastuti, M.P. mengatakan, meski banyak riset ilmiah masyarakat mesti menunggu hasil kesimpulan penelitian-penelitian uji klinis. Yuli menuturkan, masyarakat tidak bisa sembarang menggunakan daun anuma seperti tanaman herbal pada umumnya. Musababnya daun anuma satu-satunya sumber senyawa aktif artemisinin untuk obat malaria.

Selama ini anuma merupakan sumber senyawa aktif artemisinin, pengganti klorokuin sebagai obat malaria. Penemuan artemisinin begitu diapresiasi lantaran memiliki aktivitas antiplasmodium, khususnya Plasmodium falciparum—parasit penyebab penyakit malaria—yang sudah resisten terhadap klorokuin. Artemisinin sebagai obat malaria digunakan dalam kombinasi yang disebut artemisinin-based combination therapy (ACT).

Yuli yang merupakan peneliti di Balai Besar Penelitian Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional mengatakan, penggunaan anuma sembarangan berpeluang menciptakan efek resistensi plasmodium—penyebab malaria—pada ACT. Oleh karena itu, pengembangan artemisinin lebih aman dilakukan dalam bentuk isolat senyawa, bukan herbal. Jadi, masyarakat sebaiknya menghindari bentuk seduhan, ekstrak, atau rebusan daun anuma tanpa dosis yang terhitung.

“Meskipun memang terbukti Artemisia annua bermanfaat untuk Covid-19, efek negatif terhadap resistensi plasmodium penyebab malaria perlu dipertimbangkan. Sampai saat ini belum ada obat baru untuk pengobatan di seluruh dunia,” kata Yuli. Tanaman sekerabat dekat, yakni Artemisia vulgaris juga kerap digunakan sebagai pengobatan tradisional di berbagai negara seperti Tiongkok, Jerman, Jepang, dan Korea. Menurut Yuli senyawa aktif kedua tanaman bergenus Artemisia itu berbeda. Tanaman yang mengandung senyawa artemisinin hanya Artemisia annua. (Tamara Yunike)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img