
TRUBUS — Sektor pertanian tumbuh positif di tengah pandemi korona. Para pelaku agribisnis justru menikmati lonjakan omzet.
Penjualan mangga premium milik Juliana, S.T., cenderung meningkat setiap tahun termasuk pada masa pandemi korona pada 2020. Peningkatan penjualan mencapai 10% dibandingkan dengan 2019. Tentu saja pencapaian itu menggembirakan Juli—sapaan akrab Juliana. Penjualan dan pemasaran daring salah satu kunci sukses Juli menekuni bisnis mangga premium. “Kami berjualan daring sejak awal menekuni berbisnis,” kata pengusaha mangga premium sejak 2010 itu.
Menurut ahli agribisnis Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., pemasaran digital dan penjulan daring bisa menjadi strategi bisnis karena masyarakat menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak. “Suka tidak suka arahnya ke sana. Yang menarik hal itu membuat rantai pasok lebih cepat dan alami,” kata Tomy. Strategi itu membantu pelaku agribisnis terutama di awal pandemi.
Pasar daring

Berlakunya pembatasan sosial dan berskala besar (PSBB) memunculkan penjualan bisnis ke konsumen atau business to consumer (B2C). Artinya produsen bisa menjual produknya langsung ke konsumen akhir. Itu memungkinkan dan menjadi lebih mudah berkat lapak digital. Tomy mengatakan, B2C mungkin menurun saat PSBB tidak berlaku lagi sehingga penjualan bisnis ke bisnis atau business to business (B2B) mulai meningkat lagi.
Meski begitu, “Level penjualan B2C lebih tinggi daripada sebelum pandemi korona,” kata Dosen Berprestasi Unpad 2010 itu. Bisnis mangga premium Juli tidak hanya bertahan di masa pandemi. Bahkan, ia mengekspor ratusan kg mangga ke Singapura pada September—Oktober 2020. Tomy menuturkan, komoditas hortikultura terutama buah paling terakhir terdampak pandemi korona, tapi cepat bangkit dengan portofolio ekspor.
Pada kondisi normal tanpa pandemi pun, kita tidak bisa hanya fokus pada satu pasar. Pakar agribisnis di Departemen Agribisnis, Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, M.Si., mengatakan, produk olahan komoditas pertanian berpeluang besar di pasaran dan meningkatkan kesejahteraan petani. Hal itu disampaikan ketika Bayu mengisi acara Dialog Agribisnis Seri #1: Tantangan dan Peluang Agribisnis di Era New Normal.

Berdasarkan pengalaman para pelaku agribisnis seperti Juli, kunci sukses bertahan pada masa pandemi antara lain kreatif, inovatif, dan melek teknologi. Tomy menuturkan, tantangan agribisnis setelah pandemi harus menemukan cara memasok pasar dengan konsisten menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Termasuk aspek keamanan pangan. Semua itu berdampak pada cara kita membangun basis pertanian yang kuat.
Kelak setelah pandemi, para pelaku agribisnis memang harus menyesuaikan dengan kebiasaan baru. Sejarawan Universitas Ibrani, Yerusalem, Yuval Noah Harari, seperti dinukil The Economist mengatakan, “Badai akan berlalu, umat manusia akan selamat, kebanyakan dari kita akan tetap hidup. Namun, kita akan menghuni dunia yang berbeda.” Adaptasi itu penting agar pelaku agribisnis terus berkembang di tengah badai. (Riefza Vebriansyah)
