
1998
Muhaimin Ikbal menghemat Rp70-juta dengan menanam benih alfalfa lokal.
Kepulan asap dari ikan yang tersaji itu menguarkan aroma rempah memikat. Juru masak di restoran Porto, Bandung, Jawa Barat, memasak fish fondue itu dengan baluran kaldu sapi, minyak, dan racikan rempah. Untuk memperkuat rasa, ia menaburkan kecambah alfalfa. Dalam suapan pertama, citarasa tumis yang renyah menyerbu rongga mulut.
Hidangan ikan memang salah satu andalan restoran ala Eropa itu, selain berbagai olahan daging sapi. Tempat makan kelas atas itu khusus menyajikan hidangan asal Eropa yang kebanyakan berbahan dasar daging dan ikan. “Setiap bulan, menu itu terjual rata-rata 150-an porsi,” kata Irfan Firmansyah, manajer restoran Porto.
Kecambah alfalfa memang lazim digunakan dalam masakan Eropa. Menurut Irfan, pelanggan menyukainya lantaran rendah kalori dan memiliki citarasa unik. Kerabat sengon Paraserianthes falcataria itu memang mempunyai rasa khas yang berbeda dengan sayuran lain. Di tanahair, Medicago sativa itu terbilang pendatang baru. Sayuran asal dataran Mediterania itu juga kaya nutrisi. Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat setiap 100 g kecambah alfalfa mengandung 2 mg vitamin A, vitamin C, kalsium, dan zat besi. Bandingkan dengan kecambah kedelai, yang sama sekali tidak mengandung vitamin A.
Impor
Mafhum akan kandungan nutrisi, Muhaimin Ikbal di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, menanam alfalfa di lahan 2 ha. Namun, kalau restoran Porto menggunakan kecambah itu untuk pelengkap hidangan kaum elite, Ikbal menggunakan daun dan batang alfalfa untuk pakan kambing perah dan potong miliknya. “Kambing potong menjadi lebih cepat gemuk, sementara kambing perah menghasilkan lebih banyak susu,” kata Ikbal. Alih-alih memberikan rumput atau daun-daunan, setiap pagi dan sore tenaga kerja kandang memberikan daun dan batang alfalfa.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan, Ikbal pun bermaksud memperluas penanaman alfalfa. Sayang, ia terhambat ketersediaan benih. Pada pertengahan 2011, Ikbal terpaksa mendatangkan 100 kg benih dari Amerika Serikat. “Harga setiap gram benih Rp1.000 sehingga total Rp100-juta,” kata Ikbal. Uang sebanyak itu hanya untuk pengadaan benih. Kebutuhan benih mencapai 25 kg per ha.
Beruntung Ikbal berjumpa Dr Nugroho Widiasmadi, periset alfalfa dari Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Jawa Tengah. Nugroho sukses membenihkan alfalfa di tanahair setelah berjibaku sejak 15 tahun silam. “Coba saja tanam benih alfalfa impor, tunggu sampai panen, lalu tanam biji. Kalau biji itu bisa tumbuh, saya acungkan 2 jempol,” kata Nugroho. Pasalnya, eksportir di negara asal sengaja memandulkan biji untuk menjaga kontinuitas pasar.
Ahli Fisiologi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Edhi Sandra, MSi menyatakan, pemandulan tanaman dilakukan dengan rekayasa genetika. “Kromosom tanaman dibuat menjadi haploid atau triploid sehingga akan ganjil saat penyerbukan,” kata Edhi. Akibatnya tanaman mampu tumbuh dan berbuah seperti induknya tetapi tidak berbiji.
Pada 1998, Nugroho mendatangkan tanaman alfalfa dari hutan semak di perbatasan Iran dan Irak. Ia mendapatkan tanaman itu ketika kunjungan tugas 15 tahun silam di Iran. Ketika itu ia membawa segram biji alfalfa dan 4 batang tanaman setinggi 25 cm. Sayang, ketika sampai di tanahair, semua tanaman dewasa mati kekeringan. Tinggal tanaman asal biji yang kemudian ia kembangkan di Indonesia.
Lebih cepat
Sebelum menyemai, Nugroho merendam biji dalam pupuk organik cair tinggi nitrogen dengan dosis 50 ml pupuk per liter air. Selang 12 jam, ia menyemai benih alfalfa di media campuran pasir dan humus dengan perbandingan 1 : 1. Setelah 14 hari, sepertiga benih mulai menampakkan tunas mungil. Lainnya gagal tumbuh dan membusuk. Dari sepertiga benih itu ia memperoleh 10 tanaman. Kesepuluh tanaman itulah yang menjadi perintis alfalfa tropis ala Nugroho. Pada 2000, ia mulai mengujicoba penanaman di Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yang memiliki ketinggian 2.100 meter diatas permukaan laut.
Dua tahun pertama keteguhan Nugroho mendapat ujian berat. Ia banyak menemui kegagalan baik pada stabilitas kualitas, fase awal, fase tumbuh, dan gagal panen. Menurut Nugroho kegagalan itu karena ‘kecolongan’ mempertimbangkan suhu udara, tekanan udara luar dengan faktor internal seperti kelembapan dan permeabilitas sebagai media aliran secara akurat. Akibatnya proses tumbuh alfalfa kurang sempurna dan tidak stabil. Nugroho pun merekeyasa lingkungan dan tanah agar mendekati kondisi laboratorium.
Tahun ketiga, Nugroho memperoleh keturunan ketiga (F3) yang mampu tumbuh stabil dalam variasi suhu malam dan siang daerah tropis. “Adaptif juga di permukaan tanah mulai dari daerah pesisir sampai pegunungan dengan ketinggian hingga 2.000 meter dpl,” kata Nugroho. Kandungan protein bertambah secara signifikan mulai dari nilai 16% pada induk, 18% pada F1, untuk F2 dan F3 mempunyai kandungan protein konstan yaitu 32%. Demikian juga pada kandungan klorofil pada F2 dan F3 mencapai puncak kandungannya yaitu 6,2043 mg/l.
Pascapengujian laboratorium di Universitas Wahid Hasyim, kandungan nutrisi alfalfa yang ia kembangkan mengungguli indukannya (lihat tabel). “Kandungan protein meningkat hampir 80%; klorofil meningkat 50%,” tuturnya. Masa puncak kandungan protein tercapai pada usia 45 hari, sedangkan di daerah asalnya kandungan protein tertinggi dicapai pada hari ke 65. “Menanam alfalfa menjadi lebih mudah dan murah,” kata Nugroho. Di Jonggol, Ikbal, hanya perlu merogoh kocek Rp300 untuk setiap gram benih alfalfa dari Nugroho. (Bondan Setyawan)
