Monday, August 8, 2022

Andry Agus Pada Koi Rindu Tak Pernah Usai

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Koi bagi Andry Agus tak ubahnya belahan jiwa. “Koi bagi kami seperti anak,” ujar Suyani Komala Agus, istri Andry Agus, yang juga gandrung koi. Itulah sebabnya ketika mendengar koinya mati acara menengok anak bungsu yang tengah belajar di Amerika Serikat disudahi. Mereka segera pulang ke tanahair. Pria 69 tahun itu lantas meluncur ke vilanya nan asri di Pacet, Cianjur, Jawa Barat.

Di sana pintu lemari es ditariknya. Di sudut freezer tampak seekor koi membujur kaku. Beku. Andry mengamati luka di bagian bawah tubuh ikan malang itu. Kemudian ayah 7 anak itu memerintahkan agar kerabat ikan mas itu dikubur. Sedih tak dapat lagi disembunyikan kakek 3 cucu itu. Ia merasa kehilangan. Harap mafh um koi telah menjadi bagian dari kehidupan eksekutif itu.

Sebab, ia mereguk kebahagiaan dengan koi-koi koleksinya. Di halaman vilanya yang hijau ditumbuhi rumput, terdapat sebuah kolam. Lokasinya persis di tepian kebun mawar—terdiri atas 6.200 batang dengan bunga beragam warna. Puluhan koi jumbo—rata-rata sepanjang 75 cm—hilir-mudik di jernihnya air. Ke sanalah Andry menghabiskan akhir pekan. Namun, kadang-kadang jika bukan akhir pekan pun ia ke sana.

Tujuannya satu: membuang letih akibat rutinitas pekerjaan dan kemacetan Jakarta. Keletihan dicampakkan dengan memandangi liukan ikan samurai alias koi dan memandangi pola warna di tubuhnya. Aktivitas itu dilakoninya hingga berjamjam. Bahkan hingga menjelang hari berganti. Sesekali ia melempar pakan. Inilah salah satu kebahagiaannya: saat mulut koi itu mencaplok pakan di atas permukaan air.

Kerap kali koi-koinya juga menyantap pakan di atas telapak tangan Suyani. Sementara tangan kiri memegang pakan, tangan kanan perempuan itu membelai punggung koi. Direktur sebuah perusahaan di Jakarta Kota itu merasakan kebahagiaan. Sama seperti suaminya, Suyani juga betah berjam-jam menikmati kemolekan nishikigoi—sebutan koi di Jepang. Itulah sebabnya ketika tetirah ke vila sekaligus melongok koleksinya, mereka selalu bersama.

Makan siang

Ketertarikan Andry memelihara koi ketika ia makan siang di sebuah restoran di Puncak, Cianjur. Saat memasuki rumah makan itu matanya tertumbuk pada deretan foto-foto koi. Ia akhirnya tahu itu bukan koi biasa, tetapi koi jawara di Jepang. Dengan ukuran 100 cm x 50 cm, foto itu tampak mencolok di dinding putih. Rumah makan itu ternyata sekaligus sebagai ruang pamer koi. Bak-bak berisi puluhan koi terdapat di sana.

Setelah memesan menu, Andry pun melihat-lihat koi. Ia bagai jatuh cinta pada pandangan pertama. “Saya suka warna-warni ikan yang beragam,” katanya. Kebetulan saat itu—awal 2001—ia tengah membangun vilanya di atas lahan 6.000 m2. Makanya usai makan ia memborong puluhan koi lokal sepanjang 40—50 cm. Itulah pengalaman pertama Andry memelihara ikan hias asal Cina. Koi-koi itu ditempatkan di sebuah kolam sedalam kira-kira 30 cm.

Sayang, di tengah gandrungnya Andry memelihara koi, musibah itu datang. Dari 130 ekor rata-rata sepanjang 50—60 cm hanya tersisa 48 koi. Artinya 82 ekor meregang nyawa. Di antara ikan naas itu, 12 di antaranya koi impor yang juga dijemput ajal. “Hanya satu ekor koi impor yang selamat,” ujar Andry mengenang. Ia menduga penyebab matinya koi-koi itu lantaran air yang tercemar. Saat itu ketika herpes mewabah ia memang memanfaatkan air sungai. Di sekitar Puncak, Jawa Barat, terdapat banyak farm koi.

Agar peristiwa itu tak terulang, ia menguras kolam. Seluruh permukaannya disikat dan dikeringkan untuk beberapa saat. Langkah berikutnya, ayah 7 anak itu lantas memanfaatkan air tanah untuk mengisi kolam. Di sisi kolam ia menempatkan 3 fi lter sebagai penyaring air. Dengan sistem itu ia mengganti air setiap 3 bulan. Sekitar 60% air kolam dibuang dan air baru dimasukkan ke kolam.

Sehat

Kematian puluhan ikan tak menyurutkan langkah Andry untuk memelihara koi. Buktinya pascamusibah ia malah membeli puluhan koi impor. Beberapa di antaranya malah koi jawara berjenis sanke 45 cm yang harganya relatif mahal. “Koi impor warnanya lebih cemerlang. Pattern-nya juga jelas. Yang lokal kalau besar warnanya pecah,” ujar Andry. Itulah sebabnya ia kini lebih memilih koi impor ketimbang lokal.

Jenis favoritnya antara lain kohaku, sanke, dan ogon. Sedangkan Suyani, “Semua saya suka yang penting warnanya cerah.” Dengan perawatan memadai, tak ayal koi koleksinya bermutu bagus. Wajar ketika ia mengikutkan koinya ke ajang bagus-bagusan jawara pun diraih. Contoh, saat kontes di Taman Mini Indonesia Indah 9 Desember 2001, koromo andalannya meraih jawara kedua. Andry hanya sesekali mengikutkan koleksinya ke ajang kontes.

Itulah sisi lain kebahagiaan memelihara koi. Selain karena karakter, warna, dan gerakan tubuh sang klangenan, Andry tertarik memelihara koi lantaran dapat menyehatkan. Penat dan stres bakal terurai begitu ia memandangi kemolekan kerabat ikan emas itu. Yang pasti untuk mencapai kolam dari beranda vila ia mesti berjalan kira-kira 200 m. Setelah melewati hamparan rumput hijau bak permadani barulah ia tiba di tepi kolam.

Faktor lain pemicu kesehatan udara di pedalaman Cianjur yang segar dan bersih. Pantas rekanan bisnisnya dari Singapura dan Jerman juga betah jika berkunjung ke tepi kolam itu. Sebaliknya bila Andry mesti pergi ke mancanegara. Di negeri orang itu kerinduan terhadap koi-koinya tak pernah pupus. Terus tumbuh. Melalui telepon genggamnya ia mengecek kondisi kesehatan ikan-ikannya. Meski membayar mahal ia tak hirau. Sebab rindu pada koi tak pernah usai. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img