Tuesday, November 29, 2022

Aquarama 2009: 3 Inovasi, 3 Peluang Ilusi Warna di Kotak Kaca

Rekomendasi

 

Atraksi singkat Linda Lin sekitar 2 menit itu mendapatkan tepuk tangan dari beberapa pengunjung Aquarama 2009 Singapura yang terhibur oleh pertunjukan itu. ‘Bagaimana Anda bisa melakukannya?’ tanya Gavin LQ dari Hongkong yang berdiri di samping Trubus. Dengan tangkas buru-buru staf perusahaan aksesori akuarium laut, Sky High Enterprise dari Guangdong, China Selatan, itu mengeluarkan remote control seukuran kotak korek api yang disembunyikan di tangan sebelah kiri. Ini rupanya sumber aksi sulap warna itu.

Menurut Linda yang dilakukan merupakan aplikasi dari inovasi baru lampu untuk akuarium laut. ‘Banyak hobiis ingin mendapat suasana akuarium laut yang berbeda,’ katanya. Cara paling memungkinkan hanya ‘bermain’ di lampu. Lampu metal halide yang selama ini dipasang sebagai sinar matahari tiruan itu hanya memancarkan warna tunggal: putih terang.

Linda menggunakan lampu lumen LED light yang dirancang sedemikian rupa sehingga memancarkan aneka sinar sampai 6 warna: biru, hijau, merah, jingga, kuning, dan ungu. ‘Jadi hobiis mempunyai banyak pilihan warna,’ ujar Linda setengah berpromosi. Jantung pengubah warna lampu itu terletak pada sebuah kotak hitam yang dipasang di ujung atas akuarium. Kotak seukuran bungkus rokok itu memiliki tombol yang dapat diputar 180 derajat. Agar warna-warna itu keluar, hobiis cukup memutar tombol itu ke kiri atau ke kanan. Pol ke kiri merah; pol ke kanan biru. Warna lain di antara keduanya. Jika malas memutar, lakukan seperti Linda, memakai remote control.

Inovasi akuarium

Beragam inovasi baru bentuk kotak kaca juga disuguhkan di Aquarama 2009. Sebut saja model akuarium mini, bulat, kotak seperti koper, hingga berlekuk-lekuk dinding kacanya. Pun aksesori penunjang akuarium seperti filter mini, lampu mini, dan penghias dinding kaca, hingga ornamen artifisial berupa patung. Beberapa merupakan produk baru.

Data dari panitia menunjukkan 40% peserta Aquarama 2009 adalah perusahaan pembuat dan penjual aksesori. Mereka datang dari berbagai negara seperti China, Taiwan, Singapura, Jepang, Korea, dan Jerman.

Akuarium dinding – unggulan stan Atlantis Aquatic dari Singapura – salah satu yang ramai dilihat pengunjung pameran. Jika 2 tahun lalu, pada Aquarama 2007, mereka lebih fokus menampilkan pemandangan aquascaping, kini menawarkan keindahan dasar laut. Menurut Tan Lye Hee perubahan ini sejalan tren dunia. ‘Banyak hobiis menganggap merawat akuarium laut mudah, tidak sesulit aquascaping,’ ujar perancang Atlantis Aquatic itu.

Mudah? Sesungguhnya tidak juga. Akuarium yang paling kecil ukurannya 45,7 cm x 39,4 cm x 14 cm, terbesar 242,6 cm x 39,4 cm x 14 cm itu, perlu ganti air setiap pekan. Ini karena akuarium yang dijual seharga Rp5-juta – Rp8-juta itu tidak dilengkapi protein skimmer. Alat ini penting karena perannya menguraikan amonia dari sisa-sisa pakan dan hasil metabolisme ikan hias laut seperti ikan badut dan yellow tang. Namun, yang meringankan hobiis adalah mereka tak perlu repot memangkas tanaman. Jika ujung tanaman dibiarkan tumbuh besar dan memanjang membuat kadar oksigen terlarut drop. Akibatnya fatal, ikan dalam akuarium mati. Hobiis pun diuntungkan karena tak perlu memupuk tanaman agar senantiasa tampil sehat.

Lampu pintar

Bagaimana membuang rasa penat saat rapat berjam-jam? Inovasi akuarium dari Qian Hu asal Singapura boleh menjadi solusi. Qian Hu, eksportir ikan hias nomor satu di Negeri Singa itu membuat akuarium bundar bergaris tengah 30 cm dengan tinggi 25 cm. Dengan ukuran seperti itu akuarium dapat diletakkan di tengah-tengah meja rapat. Jadi kalau pusing silakan tatap akuarium itu! Dua tahun lalu Qian Hu juga mengeluarkan inovasi dengan merilis akuarium meja yang cocok mengisi ruang tamu atau ruang keluarga. Inovasi itu mendapat sambutan bagus dari pengunjung.

Ruang keluarga dapat menjadi indah dengan kehadiran akuarium. Itu pula yang mendorong Reef One LTD, masih dari Singapura, merilis 2 bentuk akuarium unik. Yang pertama akuarium akrilik seperti koper. Sisi pendek akuarium itu diberi penutup plastik. Warna plastik dapat disesuaikan dengan cat ruangan. Nah, titik fokus akuarium terletak pada sisi lebar yang tembus pandang. Di situlah mata dimanjakan isi akuarium yang dapat ditengok dari dua arah berlawanan: depan dan belakang. Akuarium kedua berbentuk bundar mirip bola rugby. Akuarium berdiameter 60 cm ini dapat dinikmati dari segala penjuru.

Agah Nugraha, desain interior di Bandung, Jawa Barat, menyambut baik kehadiran akuarium-akuarium cantik untuk penghias rumah atau kantor. Selain memandanginya untuk menghilangkan stres, ‘Unsur air di dalam akuarium memberi efek visual pada ruang sehingga tidak terkesan berat dan kering,’ ujar Agah.

Menurut Lotis, staf penjualan Reef One LTD , perawatan kedua akuarium itu sangat mudah. Air bahkan tak usah diganti sampai setahun. Ini karena akuarium dilengkapi filter bioOrb yang bekerja secara biologis selama 24 jam. Air pertama kali disaring melalui bebatuan yang diletakkan di dasar akuarium. Selanjutnya air mengalir ke wadah bundar dan disaring lagi oleh batu-batu kecil serta 6 lapis filter mat. Berikutnya ia didorong berputar ke atas oleh pompa. Dengan diputar, air yang keluar padat oksigen terlarut.

Keunggulan lain rancangan Reef One itu hadirnya lampu pintar. Lampu yang posisinya menempel di atas akuarium, tetapi masih di dalam kotak kaca, itu secara otomatis menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya sekitarnya. Pada pagi atau siang hari ketika sinar matahari masuk dan ruangan menjadi terang, lampu akuarium itu meredup. Sebaliknya, saat malam tiba atau ketika ruangan menjadi gelap, lampu akuarium akan memancarkan cahaya terang.

Pilih ikan

Kehadiran inovasi baru akuarium dan aksesori di Aquarama 2009 disambut gembira oleh pelaku bisnis mancanegara. Gavin, misalnya, berencana membeli lampu warna-warni akuarium laut yang dibandrol Rp7-juta per set. Pun Priyantaka, eksportir ikan hias dari Sri Lanka, tengah bernegosiasi harga untuk akuarium dinding di stan Atlantic Aquatic.

Hobiis akuarium di Indonesia hanya melihat-lihat kemajuan teknologi itu. ‘Orang kita masih fokus pada ikan,’ ujar Herman Oei, peternak ikan di Tangerang, Provinsi Banten. Contoh Lilian dari Semarang, Jawa Tengah. Penjual ikan hias dan aksesori akuarium itu hadir di Aquarama untuk melihat ikan-ikan baru. Saat ditanyakan minatnya mendatangkan inovasi terbaru akuarium, Lilian hanya menggelengkan kepala.

Boleh jadi penyebab utama keengganan mendatangkan akuarium-akuarium ‘ajaib’ itu karena mahalnya nilai inovasi baru itu bila dijual pada hobiis tanahair. Menurut Harli dari PT Sarana Wahana Eltronido, agen pemasaran peralatan akuarium di Grogol, Jakarta Barat, harga murah tetap menjadi ukuran. ‘Untuk akuarium komplit seharga Rp600.000 saja sudah sulit dijual,’ katanya. Kalau pun mencoba meniru, tetap tersandung mahalnya biaya produksi.

‘Makanya sampai sekarang kita impor dari China karena mereka bisa memproduksi massal. Di sini harga jualnya jadi murah,’ kata Harli. Satu-satunya cara agar akuarium berharga mahal itu laku, harus ada ikan baru populer di masyarakat. ‘Ini seperti zaman lou han. Banyak orang membeli ikan lou han pasti butuh akuarium dan perlengkapannya,’ tambahnya. Jadi kehadiran ikan baru bakal sekaligus mendorong hobiis untuk menikmati akuarium, seperti akuarium penuh warna yang dipertontonkan Linda Lin. (Dian Adijaya S)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img