Friday, December 2, 2022

Aquarama 2009: 3 Inovasi, 3 Peluang Maggot, Pakan Hebat

Rekomendasi

Evita Hu, pebisnis asal Negeri Singa sampai 2 kali bolak-balik ke stan Indonesia. Naluri bisnis perempuan itu langsung terusik begitu melihat hasil riset Saurin Hem dan Melta Rini Fahmi SPi MSi, peneliti Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT) di Depok, Jawa Barat. Evita menghitung maggot sepertinya cocok untuk pakan alami ikan hias karena kandungan proteinnya tinggi.

Emerson dari Filipina yang berkali-kali membidik maggot lewat kamera digitalnya berniat menjadikan larva lalat itu sebagai pakan cupang koleksinya. Menurut hobiis di Manila itu, dengan kadar protein tinggi ikan tumbuh lebih cepat. Ikan pun tidak akan kesulitan menyantapnya karena ukuran maggot sebesar pelet yang selama ini diberikan.

Maggot pula yang menarik sekretaris Parlemen Pembangunan Nasional Singapura, Dr Mohamad Maliki bin Osman berkunjung selama 5 menit lebih di stan Indonesia. Ia mengacungi jempol kepada Saurin Hem yang sesekali meraup maggot itu ke atas supaya Osman lebih jelas melihat sosoknya. ‘Penemuan ini sangat menarik,’ katanya.

Kaya nutrisi

Maggot alias belatung sebenarnya larva lalat Hermetia illucens. Namun, jangan dibayangkan rupa hermetia dewasa itu seperti lalat rumah Musca domestica atau lalat hijau Lucia soricata. Lalat hermetia berwarna hitam pekat sehingga dijuluki black soldier. Sosoknya mimikri – menyerupai bentuk – tabuhan Trypoxylon politum, sebangsa lebah. Hermetia dijumpai hidup di sela-sela tanaman penutup tanah wedelia Wedelia trilobata yang gampang ditemui di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Menurut Melta Rini Fahmi maggot kaya nutrisi. Kandungan protein maggot mencapai 40%. Kadar ini lebih tinggi ketimbang nilai protein pelet buatan, sekitar 20 – 25%. ‘Protein penting bagi kelangsungan hidup ikan, terutama untuk pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit,’ kata kandidat doktor genetika ikan itu.

Hasil uji maggot sebagai pakan memakai ikan hias langka asal perairan di Jambi dan Kalimantan Barat, balashark Balantiochelius melanopterus berbobot 1 – 2 g/ekor memuaskan. Asupan 70% pelet udang dan 30% maggot sebagai pakan selama 12 pekan membuat ikan balashark tumbuh 3 kali lebih besar daripada kontrol yang diberi 100% pelet udang. Tingkat kelulusan hidup alias survival rate balashark naik 2 kali lipat menjadi 90% dari sebelumnya 65% pada fase pembesaran.

Begitu pula daya tahan ikan yang masuk daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) terhadap penyakit itu terdongkrak berlipat ganda. Indikasi ini tergambar jelas dari peningkatan jumlah sel darah putih dari 2-juta sel/mm3 menjadi di atas 3-juta sel/mm3. Di tubuh, sel darah putih adalah pasukan tempur penggempur penyakit. Sel darah merah yang bertugas menyebarkan sari-sari makanan ke seluruh tubuh pun melambung sampai 4.500 sel/mm3 dari sebelumnya 2.800 sel/mm3. Efeknya sari-sari makanan lebih cepat diserap tubuh menjadi energi.

Pacu pertumbuhan

Riset lain LRBIHAT memakai ikan hias botia Chromobotia macracanthus menunjukkan hasil serupa. Botia umur sebulan yang diberi pakan maggot pertumbuhannya terdongkrak 2 kali lipat ketimbang ikan asal sungai-sungai di Sumatera dan Kalimantan itu yang diasup pakan bloodworm dan cacing tanah.

Pun uji lain memakai ikan konsumsi seperti lele Clarias gariepinus, nila Oreochromis niloticus, dan toman Chana micropeltes memperlihatkan efek sama. Pengujian tim Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi pada Januari – Desember 2006 pada lele bahkan menunjukkan penurunan signifikan nilai FCR (rasio konversi pakan). Dengan memakai campuran 50% maggot pada pakan pelet, nilai FCR turun menjadi 1,16 dari sebelumnya, 1,42. Di sini ada selisih nilai FCR sebesar 0,26. Artinya untuk mencetak sekilo lele cukup membutuhkan 1,16 kg pakan.

Berapa banyak dampak penurunan FCR sebesar 0,26 itu? Jumaryanto, pembesar lele di Kulonprogo, Yogyakarta, membutuhkan 350 kg pelet selama 2 bulan untuk membesarkan 4.000 bibit ukuran 3 – 5 cm. ‘Ini dengan FCR sekitar 1,1,’ ujar Jumaryanto. Dengan asumsi nilai FCR turun menjadi 0,9 setelah pakan dicampur 50% maggot, maka Jumaryanto menghemat pakan sebanyak 63 kg. Bila dikonversikan ke nilai rupiah dengan berpatokan harga per sak pelet isi 30 kg berkisar Rp190.000 – Rp200.000, ia mengirit Rp380.000 – Rp400.000.

Pantas dengan keunggulan itu para peternak ikan konsumsi budidaya di Kecamatan Sarolangun, Kabupaten Sarolangun, Jambi, kini berpaling menggunakan maggot sebagai pakan alternatif. ‘Sesudah memakai maggot mereka mencanangkan desanya sebagai Desa Pakan Mina Mandiri,’ ujar Melta Rini Fahmi. Atas kerja sama LRBIHAT, BBAT Jambi, dan peternak, setiap bulan desa itu memproduksi hingga 1 ton maggot.

Peluang besar

Peluang maggot menjadi pakan alternatif ikan memang terbuka lebar. Apalagi ia dapat menggantikan fungsi tepung ikan sebagai sumber protein pada pelet. Selama ini pabrik-pabrik pakan di tanahair masih bergantung pada tepung ikan impor dari negara Amerika Latin seperti Chili dan Peru. Berdasarkan data LRBIHAT impor tepung ikan Indonesia mencapai US$200-juta setiap tahun.

Jutie Limin, produsen pakan ikan di Pakanbaru, Riau, menuturkan konsumsi tepung ikan perusahaan miliknya dengan kapasitas produksi 100 – 200 kg pelet per hari meningkat 50% dibandingkan 3 tahun lalu. Kini pemilik Mutiara Mas Aquarium di bilangan Jalan Riau itu menyerap sampai 1 ton per bulan tepung ikan yang dipasok dari agen di Medan, Sumatera Utara. ‘Biasanya komposisi tepung ikan pada pelet mencapai 20 – 30%,’ katanya.

Tidak selamanya negara produsen bisa menjamin pasokan tepung ikan. Itu paling tidak terlihat dari gejolak harga pakan berbahan baku tepung ikan impor yang banyak membuat peternak ketar-ketir. Contoh pelet lele. Sekitar 8 tahun lalu per sak isi 30 kg hanya Rp78.000, kini mencapai Rp190.000 – Rp200.000. ‘Biaya pakan pelet menyerap 80% ongkos produksi,’ kata Mirsi, peternak lele paiton di Cilegon, Provinsi Banten.

Maka dari itu munculnya maggot sebagai sumber pengganti tepung ikan sangat dinantikan. ‘Tepung ikan berasal dari ikan tangkapan laut yang kini jumlah penangkapannya terus menurun. Padahal, kebutuhan pakan untuk ikan budidaya terus meningkat seiring meningkatnya konsumsi ikan akibat pertambahan jumlah penduduk,’ kata Melta Rini. Saat ini konsumsi ikan Indonesia sekitar 15 kg/kapita/tahun. Jauh di bawah standar FAO sebesar 25 kg/kapita/tahun.

Maggot tidak sulit dibudidayakan. Media ampas tahu, tapioka, dan palm kernel meal alias bungkil kelapa sawit, dapat dipakai membiakkan larva lalat. Yang membedakan ragam media itu adalah produksi maggot. Sejauh ini media bungkil kelapa sawit terbaik. Riset LRBIHAT menunjukkan dengan 3 kg bungkil dapat diproduksi 1 kg maggot. Ampas tahu? Dengan jumlah sama paling pol menghasilkan 0,25 – 0,5 kg maggot.

Sayangnya bungkil kelapa sawit sulit didapat di luar sentra penanaman kelapa sawit. Berbeda dengan ampas tahu dan tapioka, tersedia di banyak tempat. Padahal, ‘Secara hitung-hitungan biaya produksi maggot memakai limbah sawit lebih rendah. Biayanya sekitar Rp1.000/kg,’ ujar Melta Rini. Kecilnya biaya produksi itu tak lepas dari rendahnya harga bungkil, sekitar Rp200/kg; ampas tahu Rp10.000/kg. Toh semua itu bukan hambatan besar bila ke depan pasar dalam dan luar negeri benar-benar membutuhkan maggot dalam jumlah besar. (Dian Adijaya S/Peliput: Tri Susanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img