Tuesday, April 28, 2026

Asyik Berhidroponik Sejak Pandemi

Rekomendasi
- Advertisement -
Ignasius Jonan memanfaatkan lantai atas rumah untuk berkebun sayuran dengan metode nirtanah.

Memanfaatkan dak rumah dan halaman sebagai lokasi budidaya beragam sayuran.

Ignasius Jonan menuai sayuran hasil budidaya hidroponik untuk konsumsi pribadi dan dibagikan kepada lingkungan sekitar.

Trubus — Dak rumah Ignasius Jonan semula menganggur. Sejak pandemi korona, dak rumah itu hijau royo-royo karena kehadiran beragam sayuran seperti kangkung, pakcoi, dan selada. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2016—2019 itu bercocok tanam di atap rumah di di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jonan membudidayakan beragam sayuran tanpa tanah atau hidroponik.

Selain di dak rumah, Jonan juga memanfaatkan halaman sebagai lokasi budidaya sayuran. Menurut Jonan modal berhidroponik skala hobi relatif terjangkau, termasuk biaya pemasangan instalasi, benih, nutrisi, dan perawatan. Menteri Perhubungan 2014—2016 itu menuturkan, investasi untuk instalasi hidroponik di halaman rumahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di lantai atas. Musababnya, ia membangun rumah tanam, sedangkan di dak tanpa rumah tanam atau greenhouse.

Berbagi sayuran

Jonan mengatakan, bila pH air mencapai 7 tanaman tumbuh kurang bagus. Kunci lain yakni kesungguhan dan tanggung jawab untuk mengurus tanaman agar tumbuh sentosa. Menurut Jonan bercocok tanam bisa di mana saja, bahkan di rumah sekalipun dengan lahan sempit. Ia membuktikan sukses berhidroponik di dak dan halaman rumah.
Menjelang panen, Jonan menyiapkan bibit siap tanam. Oleh karena itu, halaman rumahnya selalu hijau dengan sayur-sayuran segar. Jonan mengolah sebagian sayuran hasil panen untuk kebutuhan keluarga. Selain itu ketika panen tiba, Jonan membagikan hasil berkebunnya kepada tetangga dan kerabat. Keberhasilan memanen sayuran dari budidaya nirtanah itu memacu semangat Jonan menanam sayuran buah, misalnya tomat.

Kegiatan menanam bibit.

Namun, ia tak berniat berbisnis sayuran hidroponik. Ia menekuni hobi itu selama pandemi korna. Menurut Jonan berhidroponik bisa menjadi pilihan kaum urban untuk bercocok tanam. Masyarakat bisa mengurangi biaya belanja rumah tangga dengan bercocok tanam sederhana. “Di sisi lain kegiatan itu dapat membantu menghijaukan kota dan mengurangi polusi udara,” ujarnya.

Faedah lain, menjaga kesehatan karena paparan sinar matahari pagi. Mantan direktur PT Kerata Api Indonesia itu memilih hidroponik karena merasa tertantang. Teknologi hidroponik merupakan hal baru bagi Ignasius Jonan. Namun, ia mampu memanen berbagai macam sayuran segar secara berkala. “Kunci utama berhidroponik adalah menjaga sirkulasi air dan pH pada kisaran 5,5, serta sinar matahari cukup,” ujar Jonan.

Banyak faedah

Jonan menekuni hidroponik ketika purnatugas pada akhir 2019. Ia ingin mencari kegiatan yang belum pernah ditekuni sebelumnya. Pria kelahiran 21 Juni 1963 itu menginginkan hobi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang sekitar. “Kegiatan itu setidaknya harus memberikan manfaat bagi keluarga, teman, dan tetangga,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga itu.

Pilihannya jatuh pada menanam sayuran secara hidroponik. Berkebun kegiatan yang menyenangkan bagi Jonan. “Cobalah berkebun sesuai kemampuan dan carilah sayuran yang mudah ditanam,” kata pria 57 tahun itu. Ia menyarankan budidaya sayuran yang relatif mudah seperti kangkung, lalu bayam, sawi, pakcoiy, dan selada secara berurutan. Jika memilih hidroponik, “Gunakan alat pengukur pH dan cek air dalam instalasi setiap hari,” kata Jonan.

Kegiatan menyemai benih.

Jonan tak perlu risau jika pH air naik. Tuangkan saja air aki untuk menurunkannya. “Siapa pun bisa berhidroponik asal sungguh-sungguh,” kata Jonan. Bagi kaum urban berkebun sering sulit dilakukan. Mereka terkendala lahan, kondisi tanah yang buruk, dan polusi udara. Namun, kendala itu mestinya tidak mengendurkan semangat berkebun. Pasalnya, berkebun pun bisa diwujudkan di halaman rumah yang sempit.

Pemanfaatan lantai atas rumah milik warga perkotaan untuk berkebun pun ide yang sangat bagus. Tanaman bisa mendapatkan sinar matahari melimpah yang penting bagi proses fotosintesis. “Kalaupun bukan hidroponik, mereka bisa memanfaatkan pot yang di gantung di tembok maupun gang-gang rumah,” kata Jonan.

Bila warga kota bercocok tanam setidaknya mereka membantu menjaga udara kota selalu bersih dan bisa makan sayur lebih banyak. Kemandirian dan ketahanan pangan masyarakat pun terjaga. Dampak positif lainnya yakni kesehatan tubuh pun terjaga. (Andari Titisari)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Kemegahan Macfrut 2026: Pameran Buah dan Sayur Internasional Resmi Dibuka, Soroti Daya Saing dan Kemitraan Global

Pameran internasional rantai pasok buah dan sayuran, Macfrut 2026, akhirnya resmi membuka pintu untuk edisi ke-43. Berlokasi di Rimini...

More Articles Like This