Tuesday, August 9, 2022

Di Atap Mereka Berkebun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ida Amal mengebunkan sayuran di atap rumah dengan bantuan tanaman peredam panas.

Beberapa orang memanfaatkan dak rumah untuk berkebun sayuran sekaligus tempat kongko.

Trubus — Ida Amal menyulap dak rumah di lantai dua seluas 100 m2 sebagai lahan sayuran. “Luas efektif yang ditanami seluas 70 m2. Sisanya untuk kongko melepas penat di tengah kebun,” kata warga Lengkonggudang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten itu. Hampir setiap hari ia memanen brokoli, selada, peria, cabai, tomat, dan terung. Ida sengaja mendesain lantai dua rumahnya untuk kebun pada tujuh tahun silam.

Ida Amal berkebun di rumah untuk memenuhi kebutuhan sayuran sehari-hari.

Sebagian lantai seluas 40 m² khusus dibuat menjadi pot raksasa yang diisi media tanam sebanyak 4 bak mobil pick up. Ida melapisi dasar dak dengan bahan biotekstil yang kedap air sehingga air penyiraman tidak tembus ke langit-langit rumah lantai di bawahnya. “Dulu kami ditertawakan karena menghijaukan atap rumah dengan sayuran yang biasa tumbuh di dataran tinggi. Lazimnya juga orang menghijaukan atap rumah dengan tanaman hias,” kata Ida.

Peredam panas

Ida punya alasan sendiri mengapa menanam sayuran di lantai atas. “Jika saya tanam sayuran di depan, samping, atau belakang rumah, sayuran akan ternaungi karena ada pohon besar. Fotosintesis pasti tidak optimal,” kata dokter hewan alumnus Universitas Gadjah Mada itu. Di lantai atas yang terkena sinar matahari penuh sehingga fotosintesis dapat optimal. Ida mendesain atap dari kaca sehingga sinar matahari dapat menembusnya, tetapi tetap dapat melindungi kebun dari terpaan hujan deras.

Persoalannya sinar matahari terbuka di lantai atas menimbulkan suhu yang terlalu tinggi. “Suhu di halaman terlalu teduh, sebaliknya di lantai atas terlalu panas,” katanya. Ida lantas menyiasati dengan menanam tanaman peredam panas seperti bunga telang Clitoria ternatea dan kemangi Ocimum africanum di pinggiran lantai atas. Prinsip tanaman peredam panas adalah toleran suhu tinggi dan cepat tumbuh. Kini dari kebun sayuran itu Ida memenuhi kebutuhan sayurannya sehari-hari.

Kemandirian pangan dapat dimulai dari berkebun sayuran di rumah.

Sering kali kebun sayuran di lantai dua itu menjadi lokasi kunjungan anak-anak sekolah yang ingin belajar berkebun di tengah perkotaan. “Anak-anak kita ajarkan ketahanan pangan sejak dari rumah,” kata Ida yang kini malah menekuni agribisnis seperti pupuk hayati dan pembenah tanah itu. Menurut Ida ruang terbuka berupa kebun di lantai atas juga sangat menguntungkan di era pandemi korona.

“Bila kami menerima tamu, kami ajak berbincang di kebun atas yang sirkulasi udaranya terbuka,” kata Ida yang juga menjadi pegiat Indonesia Berkebun itu. Artinya Ida tidak menerima tamu di dalam ruang dengan pengatur suhu yang tertutup. Hobi berkebun sayuran di dak rumah juga dilakoni oleh Kamila Alawiyah. Asisten peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menanam beragam sayuran seperti selada, sawi, kailan, okra, kemangi, basil, cabai, dan tomat di lantai 3 seluas 40 m2.

“Seru panen sayuran setiap hari, kami hanya belanja di pasar sayuran yang tidak ada di rumah saja,” kata Magister Biologi alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Kamila hanya menggunakan pot untuk menanam beragam sayuran. Agar air penyiraman tidak tembus ke lantai di bawahnya, Kamila menggelar karpet dan nampan sebagai alas pot. “Saya atur sedemikian rupa agar air dari terpal mengalir ke saluran pembuangan sehingga tidak tergenang dan bocor ke lantai bawah,” kata Kamila.

Jenis sayuran

Kamila menanam tanaman peredam panas berupa tanaman hias seperti hanjuang, kemangi, sutra bombay, dan coleus. Warga Batuampar, Jakarta Timur, itu juga menanam tanaman buah berukuran kecil seperti miracle fruit sebagai peredam panas. “Tanaman hias dan tanaman buah sebagai tanaman tepi yang menahan panas. Sementara sayuran sebagian diletakkan di tengah kebun,” kata Kamila.

Kamila Alawiyah berkebun sayuran di atap rumah sebagai tempat melepas penat.

Menurut Kamila aktivitasnya berkebun itu berawal saat semasa kuliah ikut terlibat pada Pekan Kreativitas Mahasiswa dengan membuat bioreaktor untuk pengomposan. “Saya lalu sebarkan semangat membuat kompos dan pupuk organik cair pada masyarakat, khususnya petani untuk bercocok tanam. Dampaknya saya sendiri harus memberi contoh sehingga malah menjadi hobi yang tidak bisa berhenti,” kata Kamila.

Di kebun di atas rumahnya itu, Kamila menempatkan kursi dan meja untuk mengisi waktu seperti membaca buku maupun menerima teman. Tren menanam sayuran di lantai atas diacungi jempol oleh Syahroni, S.P., dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri). Menurut Syahroni yang perlu diperhatikan adalah pemilihan jenis sayuran yang tepat. “Secara umum terdapat dua tipe benih sayuran yaitu benih dataran tinggi dan dataran rendah. Pilih benih dataran rendah agar meminimalkan kegagalan bertani di kota yang berada di dataran rendah,” kata Syahroni.

Menurut Syahroni bertanam sayuran di dak rumah di wilayah perkotaan juga mendapat keuntungan karena lokasi kebun bukan di wilayah sentra. “Risiko ledakan hama yang berasal dari kebun sebelah tidak ada,” kata Syahroni. Tentu keuntungan itu harus tetap dijaga dengan cara pengamatan hama dan penyakit yang rutin setiap hari. Dengan cara itu ledakan hama dan penyakit dari tanaman sendiri dapat dihindari. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img