Wednesday, August 10, 2022

Atas Bawah Berkhasiat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Ogi Setiawan shut Msc,Meriset etnobotanisongga pada 2010
Ogi Setiawan shut Msc,
Meriset etnobotani
songga pada 2010

Bagian daun hingga akar bidara laut berkhasiat obat.

Cukup dengan buah bidara laut Strychnos lucida untuk mengobati beragam penyakit ini: kudis, ruam, luka bakar, kusta, dan luka. Itulah kebiasaan suku Aborigin di Australia sejak abad ke-10. Mereka memanfaatkan buah seukuran 3 cm yang matang berkulit merah itu menjadi bubur lalu mengoleskannya di bagian tubuh yang sakit.

Buahnya bercitarasa pahit sehingga masyarakat Aborigin juga menggunakan buah bidara laut untuk menangkap ikan di sungai. Mereka menebarkan larutan buah bidara laut di sungai. Begitu pahitnya rasa buah bidara laut hingga ikan pun mati. LS de Padua mengisahkan kebiasaan suku Aborigin itu di “Plant Resources Southeast Asia”.

Hidup berkelompok

Meski namanya bidara laut, pohon anggota anggota famili Loganiaceae itu juga tumbuh di pegunungan hingga ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Di Desa Hu’u, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, habitat kayu songga—nama bidara laut di sana—berada di ketinggian 100 meter di atas permukaan laut.  Peneliti di Balai Penelitian Kehutanan Mataram, Dewi Maharani, SHut, menjelaskan bahwa kayu ular—sebutan lain—tumbuh di daerah dengan kemiringan lereng 0—8%.

Habitat kayu bidara laut di Dompu juga berbatu-batu, dekat alur sungai, ketebalan tanah relatif tipis (0—30 cm). Selain itu pH tanah rata-rata dalam kondisi keasaman sedang, berkisar antara 5,6—5,98. Jenis batuan yang mendominasi adalah andesit dan basalt. Di Dompu songga juga banyak tumbuh di dekat daerah aliran sungai kecil.

Peneliti di Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Kayu bukan Mataram, Ogi Setiawan S Hut MSc, meriset pada 2010 bahwa kerapatan songga mencapai 6 individu untuk tingkat pohon dan 2.935 individu untuk tingkat semai per ha. Menurut Ogi aju mapai—sebutan songga di Bugis—hidup berkelompok. Penelusuran Trubus di sentra itu tidak menemukan pohon soliter. Harap mafhum, biji songga jatuh tak jauh dari pohon induk atau hanya tergelincir karena daerahnya yang landai di sekitar pohon. Sebab, tidak ada satwa pemencar biji pohon itu. “Tidak ada burung pemakan biji yang berani memakannya karena rasanya yang pahit,” ujar Ogi.

Batang kecil

Songga merupakan pohon yang dapat mencapai diameter batang hingga 30 cm dan tinggi rata-rata 120 m. “Pertumbuhan songga terhitung lambat. Sayangnya, belum ada angka pasti tentang hal tersebut,” ujar Ir Wayan Widhiana MP dari Balai Penelitian Kehutanan Mataram yang melakukan penelitian mengenai kuantifikasi songga di Kabupaten Bima.

Di halaman rumah Siti Sarah (50 tahun) di Desa Panda, Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima, tumbuh dua pohon kayu songga berumur 20 tahun. Trubus mengukur diameter pohon itu hanya 10 cm.

Artinya penambahan diameter rata-rata hanya      0,5 cm per tahun. Angka itu tentu sangat kecil jika dibandingkan dengan pohon sengon, misalnya, pada umur yang sama berdiameter mencapai    100 cm.

Periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan di Kota Bogor dr Tati Rostiwati MSi menjelaskan bahwa saat ini songga dan mimba menjadi target utama pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Mataram. Sebab, daun, buah, kayu songga memang multikhasiat. Selain itu perakaran songga pun mampu mengurangi tegangan geser tanah. (Rizky Fadhilah/Peliput: Pressi Hapsari Fadlilah)

 522-Mei-2013-19

Previous articleKayu Ular Halau Kista
Next articleAntiketombe
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img