Avokad pameling bersosok jumbo, bobot hingga 1,5 kg per buah. Daging buah berserat halus, rasa gurih agak manis.
Trubus — Sosok avokad itu unik, bentuk lonjong, ujung buah membesar dan sedikit melengkung. “Mirip mangga manalagi situbondo, ada berkerut di ujung. Bentuk itu berbeda dengan avokad jenis lain,” ujar peneliti di Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, Sumatera Barat, Farihul Ihsan, S.P. Bobotnya pun tergolong jumbo antara 700—1.500 gram per buah. Avokad itu bernama pameling, unggulan Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Bupati Malang Dr H Rendra Kresna yang memberi nama pameling. Makna pameling dalam bahasa Jawa pengingat. “Harapannya mudah diingat-ingat oleh masyarakat kalau Lawang punya avokad unggulan,” ujar Pemilik Pohon Induk Tunggal (PIT) pameling, Sanari. Menurut Sanari penanaman avokad kali pertama pada Januari 1999. “Waktu itu saya tanam lima bibit hasil sambung. Tinggal tiga pohon, yang dua mati,” kata Sanari mengenang.

Juara nasional
Tiga pohon yang bertahan itu ada di Turen, Kabupaten Malang. Adapun dua pohon lain tumbuh di belakang rumah di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu. Sanari mendapatkan bibit grafting itu dengan menyambung batang bawah avokad lokal dengan batang atas berupa entres avokad dari Kecamatan Lawang. Pada umur tiga tahun setelah penyambungan, tanaman anggota famili Lauraceae itu belajar berbuah.

Pada magori atau panen perdana ia memetik 10 kg per pohon. Avokad pameling mulai rajin berbuah pada umur 5 tahun. Volume produksi melonjak 50—100 kg per pohon tahun. Kini pohon induk pameling berumur 21 tahun dengan produktivitas 500 kg per per tanaman per tahun. Sanari mengikutsertakan pameling di kontes Pekan Nasional Petani Nelayan (PNPN) XV di Aceh. Pameling mendapat juara kedua sebagai buah unggulan nasional.
Ketika itulah pameling mencuri perhatian penggemar tanaman buah di Indonesia pada 2017. Pemerintah Kabupaten Malang mengajukan pameling sebagai avokad unggulan dalam negeri. Dalam deskripsinya, panjang buah pameling 14,5—18,9 cm dan diameter 8,2—10,3 cm. Tekstur daging buah berserat halus, legit, gurih, dan agak manis.
Edible portion atau bagian buah yang dapat dikonsumsi 80,7—88% dengan kandungan air 89,31%, kadar gula 1,8%, kandungan lemak 4,35%, kadar protein 1,07%, dan kadar serat 1,75%. Pameling beradaptasi dengan baik di dataran sedang sampai tinggi dan mampu berbuah dua kali setahun. Musim berbunga sekitar Oktober dan Mei. Sementara panen pada Maret dan November.
Bibit menyebar

Salah satu penggemar avokad yang terpincut pameling adalah Sulisyono. Pekebun di Lawang, Jawa Timur itu membudidayakan 150 tanaman avokad pameling. Pekebun kelahiran 18 Agustus 1964 itu menanam pameling pada 2017.
“Saat ini ada 15 tanaman yang baru belajar berbuah. Per pohon bisa dapat 30—50 kg,” Sulisyono. Bobot buah rata-rata 800 g. Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Lawang, Kabupaten Malang, itu tergoda memiliki pameling lantaran sosok buahnya yang istimewa. “Daging buahnya tebal. Soal rasa tidak bakal kecewa. Teksturnya kesat dan tidak berair,” ujarnya.
Selain di Kabupaten Malang, avokad pameling kini sudah tersebar di berbagai daerah di tanah air. “Para pembeli bibit dari Sukabumi dan Bekasi, (Jawa Barat), Tangerang (Banten), Boyolali (Jawa Tengah), serta Yogyakarta. Saat ini ia sedang mengembangkan 5.000 bibit pameling melalui teknik grafting. (Bondan Setyawan)
