Friday, December 2, 2022

Awali Hari Dengan Teh Herbal

Rekomendasi

Aroma khas nan segar segera tercium ketika air beruap tipis itu membasahi kantong putih berisi ramuan herba kering. Lambat laun air yang semula bening berubah menjadi hijau kecokelatan. Lima menit berselang, dari mulut teko mengucur teh segar yang ditampung di cangkir mungil.

Begitulah ritual sederhana yang dilakukan Mohammad Ali Assegaf setiap pagi. Ia selalu mengawali hari dengan menyeruput teh herbal. Takarannya selalu sama, 10 gram daun songgolangit kering diseduh dengan air mendidih sebanyak 250 ml. Meski tanpa gula sama sekali, komisaris di sebuah perusahaan keamanan itu terlihat meresapi nikmatnya teh. “Rasanya segar, jauh lebih nikmat dari teh biasa. Apalagi bila ditemani sebatang Dunhill (rokok, red),” kata menantu Jenderal Farouk Mohammad, Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, itu.

Tradisi meminum teh herbal berulang siang hari usai santap siang. Bila ia tak keluar kantor, ia meminum teh di ruang kerjanya yang apik. Bedanya, ia langsung mengucurkan kantong teh ke dalam gelas besar dan menuangkan air panas. Maklum, menyajikan teh herbal tak sesulit membuat jamu. “Di kantor lebih instan, tak perlu pakai teko yang bagus. Cukup dengan air panas dari dispenser,” kata adik Nurhayati Ali Assegaf, aktivis Partai Demokrat, itu.

Sebaliknya, bila sedang keluar kantor, Ali Assegaf menikmati teh herbal di restoran atau kafe hotel tempat beristirahat di siang hari. Ia tak perlu kesulitan mencari teh herbal karena di dalam tas kerjanya selalu terselip sekotak teh herbal sebagai bekal. “Anda lihat sendiri, saya selalu berbekal ini. Tinggal panggil pelayan untuk minta air,” katanya sambil memperlihatkan isi tasnya pada Trubus. Pada malam hari, sepulang beraktivitas, Ali Assegaf kembali menikmati teh herbal sambil menonton TV.

Buang ketergantungan

Rutinitas Ali Assegaf meminum teh herbal baru berlangsung sejak setengah tahun lalu. “Teh herbal menggantikan kebiasaan minum vitamin asal luar negeri,” katanya. Memang sejak 16 tahun lalu Ali mengkonsumsi vitamin buatan Singapura untuk meningkatkan stamina tubuh. Lama kelamaan, obat itu menimbulkan ketergantungan. Sekali absen minum vitamin, Ali merasa pusing dan lemas. Tentu itu sangat mengganggu aktivitas Ali yang super sibuk.

Maklum, ketika itu pada 1989—1997 Ali bekerja sebagai marketing manajer di Union Air Service, sebuah perusahaan turisme Jepang, yang berkantor di Los Angeles (LA). Posisi itu menuntut Ali selalu bertubuh sehat. “Bayangkan, hari ini di Tokyo, besoknya harus sudah di LA. Lalu presentasi lagi di Las Vegas atau San Fransisco. Pokoknya tiada hari tanpa presentasi, seminar, dan jumpa klien,” katanya.

Beruntung pada awal tahun ini seorang sahabat memperkenalkan teh herbal. “Saya betul-betul bersyukur bisa lepas dari ketergantungan. Saya yakin konsumsi teh herbal tak akan berefek samping seperti obat dan vitamin modern buatan pabrik,” katanya. Menurut Ali, setelah minum teh herbal, badan terasa sehat dan segar. Tak ada lagi keluhan lemas dan pusing. Pun tidur malam, terasa lebih nyenyak.

Pertimbangan rasa

Ritual minum teh herbal ala Ali Assegaf agak sedikit berbeda dengan minum teh biasa. Sebab teh herbal tidak sama dengan teh biasa yang kita kenal selama ini. Menurut Dr Mangestuti Agil, farmakolog dari Universitas Airlangga, teh herbal merupakan sebutan teh untuk komoditias yang belum tentu daun teh Camelia sinensis. Teh herbal berarti suatu minuman yang dibuat dari bahan tumbuhan—daun, rimpang, daging buah, dan kulit kayu—yang penyajiannya dicelupkan atau cukup direndam 3—5 menit dengan air panas.

Teh herbal juga berbeda dengan jamu. “Memang keduanya sama-sama berbahan tumbuhan, tapi jamu identik dengan digodog dan pahit,” kata penanggung jawab aromaterapi di Poli Obat Tradisional Dr Sutomo, Surabaya, itu. Makanya, teh herbal tak ada yang pahit. Semua bahan baku dipilih dari tumbuhan yang tidak mempunyai citarasa pahit. Misal, daun pegagan, daun ceremai, jahe, dan sejenisnya. Bila ada yang berbahan pahit, maka diperlukan citarasa untuk menghilangkannya. Contohnya rimpang bangle yang agak pahit dicampur dengan mint atau daun jeruk.

Menurut Mangestuti, sebagai gaya hidup baru, meminum teh herbal pasti bermanfaat. Ia juga jauh lebih aman ketimbang jamu biasa. “Khasiat jamu godog lebih tinggi karena senyawa terlarut lebih banyak, tapi efek samping jauh lebih besar. Sebaliknya, khasiat teh herbal terasa lebih lama karena senyawa terlarut sedikit, tapi ia lebih aman,” katanya. Khasiat teh herbal baru terasa bila diminum secara rutin.

Sebagai terapi

Yang juga percaya khasiat teh herbal ialah Dudut Wahyudi, seorang asisten manajer di Pertamina Pusat. Seperti Ali Assegaf, ia menikmati teh herbal sebelum ngantor. Bahkan, Dudut lebih pagi lagi. Ia menyeruput teh herbal jauh sebelum mentari pagi bersinar terang. “Sehabis sholat shubuh, saya langsung minum teh,” katanya. Maklum, waktu pagi bagi Dudut sangat berharga. Ia harus tiba di kantor pukul 06.00 untuk menghindari kemacetan.

Di kantor, sebelum teman-teman sekerja berdatangan, kelahiran Semarang 53 tahun silam itu kembali ngeteh. Ia menikmati secangkir teh sembari membaca koran pagi. “Rasanya lebih nikmat. Bekerja terasa lebih bersemangat,” katanya. Pun pada siang dan malam hari. Tiada hari tanpa minum teh herbal. Pantas saat Trubus berkunjung ke kantornya Oktober lalu, lemari kerja Dudut dipenuhi beragam teh herbal. Mulai dari jati belanda, songgolangit, dan sirih merah.

Kebiasaan Dudut meminum teh herbal bermula karena sebuah penyakit. Pada 2001 ia diserang stroke karena darah tinggi. Tubuh Dudut mati sebelah sehingga selama 10 hari dirinya terbaring tak berdaya. Sejak itulah ia mencoba beragam terapi untuk memulihkan kondisinya. Dari berbagai terapi yang dijalani, alumnus Teknik Mesin ITB itu merasa cocok dengan teh herbal. Khasiatnya lama, tapi aman dan tanpa efek samping. “Anda lihat saya sekarang, sehat bugar bukan,” katanya. Mau tahu berapa kocek yang harus dikeluarkan Dudut untuk teh herbal? Hanya Rp1,6-juta per bulan.

Tren

Banyak orang seperti Ali dan Dudut yang menggilai teh herbal. Sebut saja Rissa Susmex, juara II Puteri Indonesia 2002. Setiap hari ia meminum teh herbal untuk menjaga kebugaran. Pun Zainal Gani di Malang, Jawa Timur. Herbalis itu menjadikan teh mengkudu sebagai minuman sehari-hari. Di Surabaya ada Doddy Baswardojo, produsen VCO, yang gemar meminum teh sirih merah sejak 2 bulan terakhir. “Dia minuman alternatif yang menyegarkan,” katanya. Di Yogyakarta ada juga Butet Kertarajasa, yang gemar minum teh secang dan kayu manis.

Umumnya mereka menyukai teh herbal karena ingin kembali ke alam. “Sekarang ada indikasi gerakan back to nature,” kata Bambang Sadewo, pemilik PJ Sekar Kedaton. Gayung pun bersambut, setahun belakangan produsen jamu dan obat tradisional mengolah bahan baku jamu dalam bentuk teh herbal (baca: Teh Herbal, Hanya Namanya Saja Teh, hal 86). Bahkan, beberapa penggemar teh herbal mewujudkannya dengan mendirikan kafe. Contohnya Butet yang mendirikan Rumah Makan dan Bakeri Sobo Pakualaman. Di sana teh herbal menjadi menu wajib yang dihidangkan.

Di Bogor, Jawa Barat, ada Erliza Hambali, pemilik Herbal Information Centre yang membuka Herbal Tea Place di Hotel Salak, Bogor sejak sebulan silam. Kini hotel berbintang 4 itu menjadikan teh herbal sebagai welcome drink bagi para tamunya. “Setiap minggu pasti ada pesanan teh herbal untuk setiap acara jamuan,” kata kelahiran Padang 43 tahunsilam itu.

Hati-hati

Begitulah gambaran teh herbal di masyarakat saat ini. Namun, menurut Mangestuti Agil, konsumen harus tetap berhati-hati. Saat ini sudah banyak diketahui ternyata tak semua tanaman aman dikonsumsi dalam jumlah banyak. “Jahe dan pala saja kalau terlalu banyak tak baik. Intinya hindarkan semua yang berlebihan,” katanya. Karena alasan itulah Bambang Sadewo menyarankan, sebaiknya konsumsi teh herbal tak lebih dari 2 gelas setiap hari.

Pun soal kemasan teh herbal. Pastikan bahan pembungkus teh aman. Saat ini ada laporan beberapa bahan pembungkus teh celup dicampur dengan pemutih. Karena itu pilih produsen yang kita yakini menggunakan bahan pembungkus secara selektif. Biar aman, pilih teh herbal tubruk tanpa pembungkus. Selain itu pastikan produsen yang membuat teh herbal mengerti prosedur standar pengolahan bahan baku. Bila itu semua telah disadari, tak ada salahnya Anda berharap pada teh herbal seperti Ali dan Dudut. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img