Thursday, August 18, 2022

BADAK BINGKUANG

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Segar dan ringan. Kata sahabat saya, Gek Ari Catrini dari Bali, bangkuang adalah umbi yang tak pernah bikin kita puas. Baang berarti beri; kuang bermakna kurang. Jadi semakin dimakan, semakin baang, kuaang! Namun, kalau besok putri-putri ingin kelihatan cantik, hari ini harus banyak melahap rujak bengkuang. Begitu pesannya. Di restoran kelas atas, saya bertemu bapak-bapak yang suka bengkuang. Katanya bengkuang menurunkan kadar asam urat dan baik untuk menangkal diabetes.

Kosmetik

Penulis dan dosen school of public relations, Yvonne de Fretes, mengaku senang membuatnya sebagai bahan lulur dan maskara. Pantaslah kalau dia tekun mengikuti serial kosmetik bengkuang yang dilansir oleh industri kosmetik Martha Tilaar. Bengkuang memang tanaman kosmetik, herbal, sekaligus tanaman pangan. Tukang kebun yang pintar memakai bengkuang untuk mengukur kesuburan tanah.

Segera setelah kami membeli sebidang tanah, tukang kebun menanam bengkuang di beberapa sudutnya. Hasilnya? Tidak terlalu besar, tetapi manis sekali. Artinya, humus tanah kami tipis, airnya kurang, tapi kandungan mineralnya istimewa.

Memang ada bengkuang yang besar, dengan bobot mencapai 5 kg atau lebih. Namun, kalau mau dimakan mentah, justru yang bundar-bundar kecil lebih disukai. Bengkuang varietas inilah yang banyak ditanam di lahan kritis. Biasanya biji disebar pada awal April dan dipanen bulan Agustus. Cocok untuk kudapan musim kemarau. Namun, kenyataannya, bengkuang tersedia sepanjang tahun dan tidak mengenal musim.

Boleh dicatat, sebetulnya batang, daun, dan biji bengkuang mengandung rotenon, semacam racun tuba. Racun itu tidak mematikan, tapi memabukkan. Kalau keracunan, penawarnya minum air kelapa hijau. Biji bengkuang yang ditumbuk dan dicampur belerang bisa jadi obat eksem dan kudis. Bengkuang juga mengandung inulin yang dapat mencegah osteoporosis, karena daya serap kalsiumnya tinggi.

Secara sederhana, bengkuang dapat menyehatkan tulang dan gigi. Itu sudah dimasyarakatkan oleh Ning Harmanto, pejuang hidup sehat bersama tanaman. Kenyataannya, bengkuang berperan membantu ibu-ibu yang sedang menghadapi menopause. Kalau kita mengonsumsinya secara teratur, bisa terhindar dari obesitas atau kegemukan. Bengkuang memang dijadikan menu untuk orang-orang yang sedang berdiet.

Resepnya biasa dikombinasi dengan mentimun, paprika, dan jeruk lemon. Jangan lupa, inulin dalam bengkuang berupa serat makanan yang bisa dipakai pengganti gula pada es krim. Seorang ibu bermata biru berkata pada saya, “Saya suka bengkuang. Tetapi setiap kali makan sedikit saja, rasanya perut langsung kenyang.” Mungkin karena itulah bengkuang pandai mencegah kegemukan. Di Eropa dan Amerika termasuk umbi-umbian sehat bersama turnip atau lobak dan yam.

Salad bengkuang disukai karena kaya citarasa dan mudah menyiapkannya. Umbi bengkuang yang disimpan dalam suhu 12o Celcius bisa tahan sampai 2 bulan. Jadi apa salahnya kalau selalu tersedia bengkuang di dalam lemari es Anda. Praktisnya, selain mengandung inulin, fosfor, dan kalsium, bengkuang juga membawa vitamin B-1 dan vitamin C. Itu menjaga konsistensi tulang, mencegah beri-beri, dan sariawan.

Bersifat pendingin

Secara alami, bengkuang yang banyak mengandung air mempunyai sifat sebagai pendingin. Ia bukan hanya cocok untuk dirujak bersama apel dan wortel, tapi dikonsumsi sebagai buah sehari-hari. Bengkuang dikategorikan sebagai pemasok fitoestrogen. Manusia memerlukan kehadiran fitoestrogen untuk mempertahankan kualitas hidup. Ibu-ibu yang memasuki masa menopause tidak lagi memproduksi hormon estrogen. Akibatnya mulai mengalami kemunduran fisik, kulit mengeriput, organ tulang mulai rapuh dan mudah patah.

“Bila sedari muda perempuan sering mengonsumsi fitoestrogen seperti bengkuang, maka di saat menopause, tubuh masih memilki cadangan estrogen. Fisik akan tetap fit dan tulang tetap kuat meski sudah memasuki usia nenek-nenek.” Begitu kata Ning Harmanto dalam blognya yang terkenal: cariobat.wordpress.com. Dalam tradisi lama di desa-desa, bengkuang adalah bahan untuk membuat bedak dingin. Sifat dingin dan menyejukkan pada bengkuang adalah modal utama bagi industri kosmetik.

Padahal, secara mudah setiap orang sebetulnya bisa membuat sendiri bedak pendingin tradisional dan personal. Caranya dengan memarut bengkoang dan mengencerkannya dalam air. Setelah diaduk dan disaring, diamkan sekitar 4 jam. Pati bengkuang yang mengendap dapat diambil, dengan membuang air di atasnya. Pati itulah yang dicampur dengan bubuk  beras halus dengan perbandingan 1 : 1.

Untuk bahan pewangi, setiap satu kilogram bedak, bisa diberi 5 kuntum mawar atau 10 lembar daun pandan, tergantung aroma yang ingin didapat. Boleh juga 5 kuntum kenanga atau segenggam sedap malam. Bedak bengkuang tradisional itu dibuat bulat-bulat sebesar kelereng, lalu dipipihkan dan dikeringkan. Jangan terlalu lama, 2 jam saja.

Promosi bengkuang

Dalam upaya menyehatkan dan mempercantik manusia, bengkuang tidak sendiri. Seorang penyuluh lahan kritis dari Ambon, lebih mempromosikan bengkuang untuk osteoporosis. Penggiat pertanian, Alifah Lestari dari Madura, termasuk mendukung kampanye cinta bengkuang.

Pada saat menghadapi perubahan iklim yang tidak menentu, mungkin produksi bengkuang bisa digenjot. Tanaman berumbi termasuk sangat kuat dan membantu manusia meneruskan hidupnya. Masih ingat ketika terjadi letusan gunung berapi? Semua tanaman hancur terkena abu dan awan panas.

Namun, ada berbagai jenis umbi-umbian yang tetap bertahan dan dapat dikonsumsi. Teman saya, Inda Citraninda, menyebut bangkuang dengan istilah “juicy tuber”. Mungkin karena berbentuk seperti bejana yang mengandung air. Memasuki usia 50-an, perempuan perlu menengok kepada bengkuang. “Bukan hanya bermanfaat, tapi segar dan enak bener,” katanya. Kalau bukan ibu-ibu yang mempromosikan bengkuang, siapa lagi? Harganya pun termasuk murah. Satu kilogram berkisar Rp2.500-Rp3.000.

Kalau di Jakarta, dalam supermarket biasa dijual dalam ikatan sedang, berkisar Rp5.000-an. Padahal, bangkuang sudah dikenal sejak berabad-abad silam. Tanaman yang berasal dari Amerika Tengah itu merambat sampai 5 meter. Untuk mencoba menanam sendiri, silakan menebar biji di lahan yang gembur dan banyak mendapat matahari. Siapa tahu, sekaligus menjadi tanaman hias, dan menghasilkan umbi yang menyehatkan. Kata novelis Minang, Sastri Bakry, badak bingkuang bikin kulit bercahaya. Bedak bengkoang bikin wajah berseri-seri. ***

Eka Budianta, konsultan Jababeka Botanic Gardens, kolumnis Trubus, anggota Dewan Pakar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI)

Pas untuk konsumsi ibu-ibu menjelang menopause

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img