Baju dari serat bambu lebih nyaman, sehat, dan ramah lingkungan
Teny Tantiana Sary sedang berlari pagi saat hari bebas kendaraan di Dago, Kota Bandung, Jawa Barat. Ia menghentikan langkah ketika mendengar teriakan, “Baju bambu, baju bambu.” Teny pun melihat-lihat pakaian yang terbuat dari serat bambu itu karya Ridwan Fadhillah. Ia pun penasaran dan ingin mencoba mengenakan baju dari serat bambu itu. Itulah sebabnya Teny membeli 3 kaos polos sekaligus.
Ridwan memanfaatkan kain hasil serat bambu menjadi pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pria kelahiran 2 Desember 1993 itu menuturkan, sejatinya teknologi memproduksi pakaian dari bahan dasar bambu sudah terkenal di Tiongkok.
Ramah lingkungan
Ridwan mengatakan, “Pakaian asal serat bambu di Indonesia masih dianggap langka. Kalaupun ada, belum banyak dikenal masyarakat luas.” Produsen baju bambu di Buahbatu, Kota Bandung, itu tertarik memproduksi pakaian bambu sebagai partisipasi menjaga lingkungan lantaran aktivitas bisnis. Aktivis lingkungan dan pencinta alam itu mengangkat konsep konservasi alam dengan sistem nirlimbah.
Pengemasan produk FunBoo—merek produk milik Ridwan—pun menggunakan wadah bekas pintalan benang. Ridwan ingin mengurangi penggunaan plastik yang dapat merusak lingkungan karena memerlukan masa penguraian hingga ratusan tahun. Menurut Ridwan produksi pakaian berbahan baku lain seperti katun, poliester, dan rayon sangat tidak proekologi.
Sebab, untuk memperoleh bahan dasar itu harus menebang banyak pohon dan prosesnya sarat dengan kimiawi. Bambu merupakan bahan baku pakaian generasi terbaru yang sudah berkembang dengan pesat di Tiongkok.

Riset ilmiah Denny Nurkertamanda dari Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, membuktikan bahwa umur produksi bambu relatif lebih cepat, hanya 3—5 tahun. Pada umur itu, bambu sudah bisa dipanen untuk berbagai keperluan bahan bangunan atau industri pakaian. Bambu juga mengandung zat antibakteri dan anticendawan alami bernama penny quinine sehingga menghilangkan bau tak sedap.

Pencucian dan penjemuran berulang tidak menghilangkan zat antibakteri itu. Bakteri di serat bambu akan terbunuh 95% dalam waktu 24 jam. Itulah yang membuat handuk dan pakaian serat bambu bebas bau dan gatal, juga punya efek menjaga tubuh terhadap serangan bakteri penyakit. Kelebihan lain, struktur pori-pori kecil khusus di dalam serat bambu memiliki daya serap tinggi, dapat menyerap formaldehida, toluene, amonia, dan substansi berbahaya lain.
Fungsi bambu yang menyerap air juga bisa diketahui setelah diproduksi berbagai jenis pakaian dari serat bambu. Di bawah mikroskop elektron dengan pembesaran 2.000 kali di permukaan serat bambu terdapat banyak cekungan dan cembungan yang membentuk lubang-lubang berbentuk oval, sehingga daya kapilaritas serat bambu cukup tinggi. Oleh karena itu, pakaian bambu mudah menyerap dan menguapkan air.
Antioksidan
Menurut peneliti dari Balai Besar Tekstil di Bandung, Tatang Wahyudi dan Cica Kasipah, dari semua serat di dunia, daya kapilaritas bambu paling tinggi. Serat bambu berdaya sirkulasi udara 3,5 kali lipat dibandingkan dengan katun, sehingga disebut serat yang bisa bernapas. Dengan begitu, bila menggunakan pakaian serat bambu seolah-olah sebagai kulit manusia lapisan kedua.
Secara alamiah, tanaman bambu bisa menyesuaikan diri dengan panas atau cuaca pada umumnya. Kondisi itu juga terjadi pada saat serat bambu diproduksi menjadi pakaian, yang berbeda dengan bahan lainnya. Selain pakaian, beberapa perusahaan besar seperti King koil dan Foresta juga mengeluarkan produk berupa seprei dan sprei berbahan dasar serat bambu.

Daya tembus ultraviolet di katun 25%, sedangkan pada serat bambu 0,6%. Hal itu menunjukkan serat bambu mampu menahan efek panas dan radiasi matahari jauh lebih baik daripada katun. “Kalau kita menggunakan pakaian dari serat bambu di panas matahari akan terasa lebih sejuk dari pada bahan katun,” tutur Ridwan. Selain itu, bambu mengandung banyak pektin, madu bambu, tirosine, vitamin E, dan berbagai elemen lain yang dapat melawan kanker dan penuaan dini. Antioksidan bambu dapat dengan efektif menghilangkan radikal bebas di dalam tubuh.
Gabungan dari peroksida dan esters dapat menghentikan karsinogen dan N-nitrite amonia yang dapat meningkatkan antibodi tubuh.”Serat bambu lembut, nyaman di kulit, dan dapat memperbaiki sirkulasi darah di dalam tubuh, serta mengaktifkan sel-sel tubuh yang berguna untuk meningkatkan kualitas tidur,” ujar rekan Ridwan, Fajar Ar Rahman.
Nyaman
Ridwan dan Fajar memproduksi pakaian serat bambu setelah melihat pangsa pasar yang luas dan terus berkembang. Mereka acap beraktivitas di luar ruangan sehingga ingin memiliki pakaian yang nyaman dan anti bau. Bermodalkan Rp500.000 hasil uang saku semasa kuliah, mereka pun memberanikan diri merintis usaha produksi busana serat bambu pada 2016.
Serat bambu berupa pintalan benang masih impor dari Tiongkok. Proses pemintalan benang untuk kain mentah pasokan salah satu produsen pakaian di Bandung, mitra Ridwan dan Fajar. Untuk pembuatan baju dan pencetakan sablon, alumnus Universitas Pasundan itu melakukannya sendiri. Pada 2018, Ridwan dan Fajar berencana untuk menambah produk seperti baju muslim, hijab, manset, dan handsock.

Harga jual mulai Rp125.000—Rp150.000 per baju, tergantung ukuran. Dalam sebulan FunBoo berhasil membuat 50 baju. Melihat kapasitas produksi itu, omzet FunBoo Rp6,25 juta—Rp7 juta per bulan. “Sebetulnya saya tidak mengejar keuntungan, tujuan saya berbisnis pakaian dari serat bambu ini agar teman-teman lebih nyaman ketika beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama,” ujar Ridwan. Peminat baju serat bambu di berbagai kota di Jawa Barat, Banten, dan Sulawesi Selatan. (Tiffani Dias Anggraeni)
