Sunday, July 14, 2024

Papan Kuat Arang Aur

Rekomendasi
- Advertisement -

Arang bambu menjadi bahan papan partikel kualitas tinggi.

Produsen olahan bambu di Tangerang, Provinsi Banten, Edy Mulyadi, menyodorkan sekeping papan—sangat mirip kayu—setebal 11 mm. Serat lurus searah di permukaan menguak bahan baku papan itu. Serat itu mencirikan karakter bambu, berbeda dengan serat kayu yang cenderung melingkar. Teknologinya, menurut Edy, berjuluk strand woven. Itu bukan barang baru, sudah ada sejak 20 tahun lalu.

“Saya membuatnya 15 tahun lalu,” katanya. Teknologi itu dipelajarinya selama 2 tahun di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu itu mengekspor lantai bambu strand woven ke seluruh dunia. Empat tahun silam, Edy melangkah maju. Ia beralih ke arang bambu untuk membuat papan plastik komposit. Dalam bidang teknik, namanya adalah plastik komposit arang bambu (bamboo charcoal plastic composite, BCPC).

Liat

Kreator plastik komposit arang bambu (Bamboo Charcoal Plastic Composite) Edy Mulyadi.

Papan komposit itu liat, tahan panas atau tekanan semen, dan awet. Sifat-sifat itu menjadikan BCPC cocok untuk pengerjaan bangunan tinggi, yang bentuknya cenderung berulang setiap lantai. “Makin awet, biayanya makin murah,” ujar Edy Mulyadi. Semula sulung dari 4 bersaudara itu berniat menjadikan papan komposit itu sebagai penutup (casing) proses pembetonan tiang atau dak pada bangunan tinggi.

Kini pengerjaan beton bangunan tinggi lazim mengandalkan penutup kayu lapis. “Itu alternatif paling murah dan mudah diperoleh.Tapi masa pakainya singkat, 4—8 kali,” kata Edy. Salah satu pemicunya, suhu adukan semen yang bisa mencapai 120ºC menyebabkan papan terdeformasi alias mengalami perubahan bentuk. Pemicu lain, kerusakan permukaan papan kayu lapis yang menempel ke permukaan semen basah.

Makin banyak dipakai, makin rusak permukaan papan. Artinya, untuk membuat gedung 10 tingkat, pemborong mesti 2—3 kali belanja papan penutup. Padahal, yang marak saat ini adalah pembangunan hunian vertikal 15—17 lantai di tengah kota, dekat perkantoran, sarana transportasi, atau pusat belanja. Jika menggunakan papan BCPC, pemborong tidak perlu sering belanja penutup. “Komposit arang bambu tahan lebih dari 50 kali pemakaian,” kata Edy.

Menurut ayah 7 anak itu, arang bambu mampu menyerap panas sehingga papan tidak memuai berlebih. Soal ketahanan terhadap tekanan pun BCPC unggul. Edy memperlihatkan video uji ketahanan BCPC dibandingkan dengan kayu lapis dengan cara memukulkan martil. Kayu lapis patah hanya dengan sekali pukulan, sedangkan papan BCPC mampu memantulkan pukulan. Dalam tayangan video, kepala martil terpantul ke atas usai menghantam permukaan BCPC, seolah-olah membentur pegas.

Sifat liat itu salah satu “keajaiban” bambu atau arang bambu. Musababnya, “Kohesivitas (daya tarik antarpartikel, red.) bambu kuat,” kata Edy. Untuk membuat BCPC, Edy menambahkan resin polivinil klorida (PVC) sebagai campuran. Kadar arang bambu bervariasi 25—60%, makin tinggi makin kuat. Kepadatan papan komposit itu bisa diatur dengan penambahan bahan pengembang, mirip penggunaan soda kue dalam pembuatan roti.

Makin minim pengembang, makin tinggi kepadatan, makin berat dan solid papan BCPC yang dihasilkan. Tentu harganya juga bertambah mahal. Kelebihannya, BCPC ramah lingkungan. Pembuatannya semata melibatkan proses komposit. Papan itu tidak menggunakan lem berbasis formalin yang lazim digunakan dalam pembuatan kayu lapis. Lantaran mengandung PVC, BCPC mudah didaur ulang.

Dengan daur ulang, kebutuhan arang bambu berkurang. Penggunaannya pun multifungsi tidak terbatas sebagai kesing beton. Permukaan halus dan warna hitam eksotis menjadikan papan itu cocok untuk memperindah dinding atau sebagai partisi ruangan.

Kuat

Dibandingkan dengan kayu lapis, BCPC jelas lebih ramah lingkungan. Hitung-hitungan berdasarkan pengalaman Edy, setiap bulan kebutuhan kayu lapis untuk konstruksi bangunan tinggi di Jabodetabek saja mencapai 300.000 lembar. Itu pun mengabaikan kota besar lain seperti Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang, atau Pontianak. Ia juga mengabaikan kebutuhan kayu lapis untuk konstruksi bangunan “biasa” seperti rumah hunian atau ruko.

Bambu strand woven, salah satu komoditas ekspor andalan Tiongkok.

“Dari mana kayu sebanyak itu? Sampai kapan ketersediaannya?” ungkapnya. Sifat kayu yang mudah terurai justru menjadikan kayu lapis tidak bisa didaur ulang, hanya sekali pakai. Artinya tekanan terhadap hutan tanaman kayu berlangsung terus. “Bambu bisa ditanam di lahan kritis atau marjinal,” kata Edy. Alumnus Jurusan Manajemen Industri Universitas Islam Jakarta itu mengatakan, pertumbuhan bambu lebih cepat ketimbang kayu.

Dalam waktu sama, setiap satuan luas tanaman bambu menghasilkan lebih banyak biomassa daripada kayu. Apalagi pembuatan BCPC bisa menggunakan arang dari semua jenis bambu. Kelebihan bambu sebagai bahan konstruksi itu diakui periset di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Cibinong, Bogor, Dr. Ir. Subyakto, M.Sc. “Dengan pengolahan yang tepat, bambu lebih kuat daripada kayu,” kata pria kelahiran Banyuwangi 59 tahun lalu itu.

Kekurangannya, BCPC mahal. Harga selembar BCPC ketebalan 18 mm hampir sama dengan 2 lembar kayu lapis ukuran sama. Maklum, arang bambu juga mahal lantaran menjadi bahan baku industri pakaian. Edy yakin suatu saat nanti papan komposit karyanya akan dicari pembeli. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Bahan Alami untuk Ternak Ayam

Trubus.id—Lazimnya kunyit sebagai bumbu masakan. Namun, Curcuma domestica itu juga dapat menjadi bahan untuk menambah nafsu makan ayam....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img