Sunday, May 19, 2024

Banting Setir dari Bankir Jadi Petani Bawang

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Firdaus Agustian memilih banting setir dari seorang bankir menjadi petani bawang. Ia mantap keluar pada Agustus 2018 dari pekerjaan yang telah ditekuni 11 tahun itu. Setelah melakukan beberapa riset, ia memutuskan fokus pada komoditas bawang merah.

“Kebanyakan petani menanam cabai, tomat, dan kol. Sayangnya, harga komoditas-komoditas itu selalu turun ketika panen raya,” kata pria berusia 33 tahun itu.

Sadar kemampuan di bidang pertanian nihil, Firdaus memutuskan belajar budidaya bawang merah terlebih dahulu ke Kecamatan Lembahgumanti, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Alasannya, daerah itu merupakan sentra bawang merah dataran tinggi.

Kampung halaman Firdaus di Desa Warnasari, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berketinggian 800 meter di atas permukaan laut (m dpl). Bermodal tabungan selama bekerja, Firdaus nekat berangkat langsung ke Kabupaten Solok, Sumatra Barat.

“Padahal tidak ada kenalan atau kolega, bermodal informasi daring saja,” kata Firdaus.

Meski bermodal nekat, tujuan yang diharapkan tercapai, ia kemudian mendapatkan banyak ilmu dari petani bawang merah senior di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, selama 2 tahun. Setelah itu, Firdaus segera kembali ke kampung halaman untuk menanam bawang merah.

Ia menjual motor sebagai modal awal menanam bawang merah di lahan 7.500 m2 secara bertahap. Sekali penanaman seluas 1.000–1.500 m2. Bisa dibilang, Firdaus pelopor penanaman bawang merah skala luas di Sukabumi.

Firdaus memilih varietas bawang merah yang adaptif dataran medium ke tinggi, yakni varietas tajuk. Menurut Firdaus, varietas bawang introduksi asal Thailand itu optimal ditanam hingga ketinggian 1.200 m dpl.

Dengan perawatan intensif, ia berhasil memanen 3 ton bawang dari lahan 1.000 m2 pada panen perdana. Harga jual mencapai Rp46.000 per kg, sedangkan harga pokok produksi (HPP) hanya Rp11.000 per kg.

Lahan bawang merah pun meningkat menjadi 2 hektare pada 2022. Ia mengatur waktu tanam sehingga pemanenan bawang merah bisa setiap bulan. Hasil panen dari kebun Firdaus mencapai 2,5 ton per 1.000 m2 setiap bulan.

Firdaus mengatur luas tanam agar produksi berkelanjutan. Petani itu menanam rata-rata 1.000 m2 per bulan. Demikian juga luas panen, 1.000 m2 setiap bulan.

Sejatinya, permintaan bawang merah di Kabupaten Sukabumi jauh lebih tinggi daripada kapasitas produksi kebun Firdaus. Andai pasokan dua kali lipat pun, pasti terserap pasar.

Meskipun demikian, nyatanya, harga jual bawang merah fluktuatif. Pada 2022 harga bawang merah lebih rendah dibanding 2020. Jika harga jual rata-rata Rp28.000 per kg, omzet Firdaus sekitar Rp70 juta per bulan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img