Wednesday, August 17, 2022

Bedah Investasi Jabon

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Bibit jabon siap jual
Bibit jabon siap jual

Investasi jabon menjanjikan modal berlipat sampai 5 kali dalam 5 tahun. Logis atau bombastis?

Bayar Rp3,5-juta lalu duduk manis. Lima tahun mendatang saldo tabungan bertambah Rp11,2-juta. Kurang? Masih ada paket lebih besar, senilai Rp72-juta. Dengan proses dan waktu tunggu sama, uang itu akan menjadi Rp375-juta. Biaya itu mencakup sewa lahan, penanaman, sampai jaminan 100% penggantian pohon jabon Anthocephalus cadamba yang mati. Itulah penawaran sebuah perusahaan investasi kepada calon penanam modal.

“Di paket termurah, yakni Rp3,5-juta, pemodal ibarat membeli 14 batang jabon lalu menyerahkan perawatannya sampai panen kepada perusahaan investasi,” kata Dias Alan dari PT Global Media Nusantara (GMN), perusahaan investasi di Bandung, Jawa Barat. Jika memilih paket termahal—Rp72-juta, pemodal memiliki 469 pohon. Setiap investor memperoleh jaminan keamanan berbentuk sertifikat bermeterai yang membuktikan kepemilikan jabon dan diperkuat stempel dari notaris.

Investor: 80%

Menurut Dias, hingga Juni 2013 sekitar 1.000 pemodal berinvestasi di kebun jabon. Itu sebabnya PT GMN sejak 2011 membuka lahan lebih dari 300 ha di berbagai daerah seperti Cianjur, Sumedang, Garut, semua di Provinsi Jawa Barat, Bali dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.  GMN membudidayakan bibit tanaman anggota famili Rubiaceae itu dengan jarak 3 m x 4 m. Populasi  mencapai 834 tanaman per ha. Investasi penanaman jabon seperti itu marak dalam tiga tahun terakhir.

Harap mafhum, tiga tahun belakangan jabon memang sohor sebagai komoditas yang cepat panen dan menguntungkan.  Beberapa perusahaan seperti PT Asia Agro Sejahtera, PT Asa Forestry, dan PT Adidaya Bumi Sumatera menawarkan penanaman jabon kepada calon investor.  Mereka cuma menyetor sejumlah uang. Penanaman hingga panen dan pemasaran menjadi tanggung jawab perusahaan itu. “Pemodal tinggal menyerahkan modal tanpa harus repot menanam, memupuk, menyiangi, atau merawat kebun,” kata Dias.

Konsultan budidaya tanaman kehutanan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ardha Primatopan, mengatakan,  “Orang yang ingin menanam jabon sangat banyak. Namun, mereka terkendala lahan, kesibukan, atau jarak antara tempat tinggal dan lahan.”  Primatopan mencontohkan orang Jakarta yang mempunyai lahan di Jawa Timur tidak akan menanam jabon tanpa adanya  kerabat atau orang kepercayaan yang bisa diandalkan. Celah itulah yang dilirik perusahaan investasi untuk menawarkan beragam paket menarik.

Sebagai gambaran Global Media Nusantara menargetkan setiap pohon berumur 5 tahun menghasilkan kayu 0,9 m3. Menurut periset di Departemen Silvikultur Institut Pertanian Bogor, Dr Irdika Mansur MForSc, dalam 5 tahun jabon mampu tumbuh hingga diameter 40 cm dengan batang lurus mencapai 30 m. Irdika mengatakan jika perawatan intensif, sebuah pohon berumur 5 tahun dapat menghasilkan 0,9 m3. Jika populasi  833 pohon per ha, maka investor menuai 750 m3 kayu.

Dias memprediksi 5 tahun mendatang setiap pohon bernilai minimal Rp1-juta. Dari hasil itu, pemodal memperoleh bagian 80%. Sementara sisanya menjadi bagian perusahaan sebagai pengganti biaya perawatan, panen, dan sewa lahan selama 5 tahun. Itu berarti, biaya perawatan selama 5 tahun Rp 200.000 per pohon. Menurut Agus Hendarto SE, direktur utama PT Kupajala Wanantara Kalyana, perusahaan yang menyelenggarakan kemitraan tanam jabon sejak 2009, biaya perawatan per pohon per tahun bervariasi antara Rp14.000—Rp15.000.

Pengalaman Agus, biaya perawatan 2 tahun pertama di lahan 35 ha mencapai Rp14-juta per ha. “Saat itu jabon masih rentan dan perlu pemupukan serta perawatan tepat agar tumbuh optimal,” kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu. Setelah 2 tahun, tajuk tanaman saling bertemu dan menghalangi sinar matahari sehingga pertumbuhan gulma terhambat. Total biaya sampai pemanenan sekitar Rp15-juta per ha dengan populasi 1.000 tanaman.

Berpeluang

Pada awal penanaman, pekebun memang bisa memadatkan jarak tanam hingga 3 m x 3 m, bahkan 2,5 m x 2,5 m. Namun, menurut Irdika, mereka mesti melakukan penjarangan pada tahun ketiga untuk mencapai populasi atau jarak tanam ideal. Jarak tanam ideal 4 m x 4 m alias populasi 625 pohon per ha. Semakin rapat, persaingan untuk mendapatkan hara semakin tinggi dan bisa menyebabkan beberapa pohon kerdil. “Ujung-ujungnya kubikasi turun sehingga harga jual murah,” kata Irdika.

Artinya hanya ada 2 kemungkinan: melakukan penjarangan, yang berarti produksi kayu per ha berkurang atau mempertahankan kubikasi tapi memperoleh harga lebih rendah. Kayu hasil penjarangan  belum dapat terserap industri pengolahan karena diameter relatif kecil. Menurut Sukandar dari PT Sumber Graha Sejahtera (SGS), industri pengolahan kayu memerlukan pohon berdiameter 30 cm. Syarat lain batang lurus tanpa cacat setinggi 10—16 m untuk mencapai volume 0,9 m3 per pohon.

“Memang biasanya batang untuk membuat kayu lapis harus berdiameter minimal 15 cm dengan ukuran panjang 130 cm. Batang berdiameter kurang dari 15 cm buat core atau pengisi kayu lapis,” kata Sukandar.  Menurut Sukandar PT SGS bersedia menampung pasokan sampai berapa pun sebagai bahan kayu lapis.

Bagaimana menyikapi penawaran investasi yang kini marak? Irdika menyarankan calon pemodal untuk waspada. “Pastikan pengalaman perusahaan dalam membudidaya tanaman kehutanan,” kata Irdika. Keuntungan dua kali lipat dari modal cukup logis; lebih dari itu, hati-hati.

Apalagi tidak ada kepastian harga kayu akan terus naik seperti gembar-gembor banyak pihak. Kebutuhan kayu memang kian meningkat, tapi seiring waktu muncul alternatif pengganti seperti pelat aluminium ataupun baja ringan. Bandingkan dengan investasi emas yang nilainya pasti, harganya naik rata-rata 20% per tahun. Lain halnya dengan jabon yang belum memiliki harga dasar karena panen baru terjadi 2—3 tahun mendatang. Peluang tetap terbentang, tetapi tetap waspada dan hati-hati agar tidak merugi. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

Previous articleEmas Hijau Berkilau
Next articleKakao Anyar Tahan Hama
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img