Trubus.id — Peluang bisnis ayam kampung masih terbilang besar. Baik untuk ayam olahan siap masak atau pun ayam hidup. Kukuh Budi Jatmiko, S.T. produsen ayam kampung di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, misalnya, mampu menjual 200 porsi olahan ayam kampung saban bulan.
Harga ayam kampung siap masak itu Rp80.000 per porsi (sekitar 600—700 gram). Kukuh beromzet Rp16 juta per bulan dari perniagan olahan ayam kampung. Selain menjual olahan, Kukuh juga menjajakan 2.000—2.500 ayam hidup dan karkas per bulan.
Dari 1 kg bobot hidup menjadi 600—700 gram karkas utuh (termasuk kaki, kepala, hati, dan ampela). Kukuh menjual produk itu seharga Rp70.000. Menurut Kukuh biaya produksi dari ayam kampung hidup ke karkas sekitar Rp7.000 per kg.
Sementara biaya produksi dari karkas ke olahan Rp4.000—Rp5.000 per porsi. Selain dari olahan dan karkas, pria berumur 60 tahun itu menjual filet dada dan paha, daging giling, kulit, kaki ayam, dan hati ampela.
Ia mengemas semua produk itu dalam kemasan berbobot 400—500 gram. Ayam-ayam itu berasal dari ayam probiotik. Ayam kampung probiotik yakni ayam yang diberi air minum dengan campuran mikrob baik seperti Lactobacillus casei dan racikan herbal seperti kencur, lengkuas, dan kunyit. Ramuan itu untuk meningkatkan fungsi pencernaan ayam.
Menurut Kukuh olahan ayam kampung siap masak menambah nilai dari bisnis ayam kampung. Peternak lain seperti Faizal Prabowo, S.E., mengatakan bahwa olahan ayam kampung menguntungkan.
Semula peternak di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu sulit menjual 5.000—7.000 ayam kampung pada Maret—April 2020. Saat itu pemerintah menetapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Faizal dan tim Citra Lestari Farm berinovasi membuat olahan siap saji beragam rasa seperti ayam ungkep, rempah, dan kremes. Olahan itu dijual Rp50.000 per porsi (400— 500 gram). Penjualan tertinggi pada 2020 mencapai 7.000 porsi per bulan. Omzet saat itu Rp350 juta.
Penjualan produk ke Jabodetabek, Sukabumi, Semarang, dan Surakarta. Produk itu tahan 5—6 bulan dalam keadaan beku. Penjualan saat ini 1.500— 2.000 kemasan per bulan.
Produk ayam kampung dan olahan memiliki segmen pasar khusus dan cenderung menengah ke atas. Harga lebih tinggi karena durasi pemeliharaan lebih lama. Namun konsumen menginginkan produk sehat dan praktis, mengingat mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.
Menurut peneliti di Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Ir. Tike Sartika, M.Si., mengolah ayam kampung menambah nilai dari unggas itu.
Apalagi ayam dari hasil budidaya sendiri, jadi tidak hanya bergerak di hulu saja, tetapi juga mulai pada hilirisasi produk. Menurut Tike ayam kampung memiliki cita rasa khas sehingga mudah dimasak dengan berbagai resep olahan tradisional.
