Tuesday, August 9, 2022

Berkah Kafe di Kebun Kopi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Wandhe Kopi, kafe kreasi pemuda Dusun Sirap, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Dok. Trubus)

Cara lain membangun desa dengan mengelola kafe di tengah kebun kopi.

Trubus — Wahkid Budi Utomo bisa saja hidup nyaman bekerja di perusahaan pangan ternama di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pendapatan Wahkid yang bekerja di bagian sortasi perusahaan bonafide mencapai Rp10 juta per bulan. Pada 2017 Wahkid memilih kembali ke kampung halamannya di Dusun Sirap, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pendiri Wandhe Kopi,
Wahkid Budi Utomo. (Dok. Trubus)

Kembali ke desa pemuda 22 tahun itu mengelola perkebunan kopi warisan orang tuanya. Ia mengelola 7.500 m2 berpopulasi 1.200 tanaman. Ketika kembali ke desa, umur pohon kopi robusta itu 20—30 tahun. Pohon anggota famili Rubiaceae itu menghasilkan 600—800 kg green beans atau kopi beras per hektare per tahun. Wahkid mengolah sendiri kopi hasil panen dengan teknologi full wash dan natural.

Hulu-hilir

Selain itu ia juga mendirikan kafe Wandhe Kopi pada 2017. Jadilah, Wahkid mengelola kopi dari hulu ke hilir yang memberikan omzet Rp20 juta per bulan. Kafe di tengah-tengah kebun kopi itu jawaban atas kesulitan warga menjual hasil panen berupa biji kopi. Di kiri-kanan lahan Wahkid memang terhampar 16 hektare kopi robusta organik milik warga setempat. Para petani tergabung di Kelompok Tani Rahayu IV memiliki lahan rata-rata 7.500 m².

Wandhe Kopi dikelola Karang Taruna Dusun Sirap,
Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jawa
Tengah. (Dok. Trubus)

Adapun populasi mencapai 25.600 pohon yang memproduksi 800 kg kopi sangrai per bulan. Menurut Wahkid 1 kg kopi sangrai berasal dari 5 kg kopi ceri atau kopi berkulit. Namun, warga hanya mampu menjual 50 kg kopi per bulan. Keberadaan kafe meningkatkan volume penjualan hingga 200 kg kopi sangrai per bulan. Wahkid turut menyerap kopi produksi para petani.

Konsumen berdatangan ke kafe ingin menikmati sajian kopi di tengah kebun. Pengunjung makin ramai terutama saat akhir pekan. Wahkid menyajikan minimal 30 cangkir per hari saat akhir pekan dengan harga jual Rp10.000—Rp25.000 tergantung varian. Wahkid juga kerap menyelenggarakan pelatihan kopi dari hulu hingga hilir. Ia menuturkan, peserta pelatihan “Belajar budidaya diisi oleh petani senior dan belajar hilir oleh pemuda atau barista yang ahli pengolahan.”

Setidaknya 7 pemuda setempat menjadi barista bersertifikat dan turut mengelola kafe. Wahkid lebih tertarik di penyangraian atau roastery. “Semua pengelola ada bagiannya sendiri, sehingga proses hulu-hilir digarap bersama,” kata alumnus SMK Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang, itu. Menurut pengelola kafe, Nur Anisyah, pemuda karang taruna juga turut aktif ketika ada festival atau pameran. Nur contohnya, mengenal ilmu pengolahan hingga penyajian kopi saat mengikuti pameran. Para pemuda belajar pascapanen, menyangrai, hingga menyajikan kopi.

Cita rasa 81

Ragam menu di Wandhe Kopi. (Dok Trubus)

Menurut Ketua Gerakan Kelompok Tani setempat, Ngadiyanto, sinergi antargenerasi sangat penting. Ngadiyanto menuturkan, generasi senior fokus membudidayakan kopi dan generasi muda di pascapanen. “Meski pemuda bergerak di hilir, juga harus belajar dan mengerti proses budidaya,” katanya. Sinergi itu ibarat estafet meneruskan budidaya kopi di Dusun Sirap dari generasi senior ke generasi milenial. Padahal, semula budidaya kopi di kampung halamannya meredup. Wahkid membangkitkannya dengan mendirikan kafe.

Kualitas kopi optimal berimbas terkereknya harga jual. Semula harga jual di bawah Rp100.000 per kilogram kopi sangrai. Kini harga melonjak menjadi Rp120.000—Rp200.000 kopi sangrai per kilogram, tergantung teknik pengolahan. Contohnya pengolahan natural lebih mahal karena proses lebih lama dan cita rasa buah kopi lebih optimal. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img