
bambu karya Utang Mamad.
Bambu bernilai ekonomi tinggi setelah diolah menjadi berbagai produk.
Trubus — Bambu tak ubahnya “penyelamat” bagi Utang Mamad. Ia terpaksa menunda impiannya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) karena ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditahan. Utang masih “berutang” karena belum mampu membayar lunas biaya pendidikan. Warga Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu menganyam si rumput ajaib alias bambu menjadi berbagai perabotan rumah.

mengembangkan kerajinan
bambu untuk ekspor.
Utang menjual hasil anyaman bambu kepada para pengepul atau pedagang barang kelontong. Ia menabung laba hasil penjualan untuk menebus ijazah. Bertahun-tahun kemudian hidup Utang tak pernah lepas dari si rumput ajaib alias bambu. Ia memang tidak lagi berutang, tapi jalan hidupnya tak terpisahkan dari bambu. Utang menggeluti kerajinan bambu. Kini tiga dasawarsa berselang, ia memiliki pabrik kerajinan bambu.
Berdasarkan pesanan
Utang mempekerjakan 6 karyawan untuk membuat berbagai aneka kerajinan bambu. Utang memproduksi rata-rata 300 buah produk dengan desain yang sederhana per bulan. “Kalau desainnya rumit paling hanya 50 buah produk per bulan,” ujar pria yang kini berusia 48 tahun itu. Ia memproduksi kerajinan bambu hanya berdasarkan pesanan pelanggan. Utang memanfaatakan beragam jenis bambu seperti bambu hitam, betung, dan tali untuk membuat beragam kerajinan.
Bambu-bambu itu tumbuh di hutan-hutan dan beberapa kebun warga di desanya. Harga jual bervariasi tergantung jenis dan tingkat kerumitan desain produk, yakni Rp30.000 hingga Rp2 juta. Utang mengatakan, omzet perniagaan bambu mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Selain itu ia juga memenuhi undangan untuk memberikan pelatihan pembuatan kerajinan bambu di berbagai kota di Indonesia. “Saya bisa keliling Indonesia berkat bambu,” tutur pria kelahiran 25 Juni 1970 itu.

memproduksi sangkar burung.
Utang tak menyangka bila keterampilan membuat kerajinan bambu bakal membawa kesuksesan. Sebelumnya ia menganyam bambu hanya untuk menebus ijazah yang tertahan di sekolah. Ia belajar menganyam bambu dari sang ayah. “Daerah saya dikenal sebagai pusat kerajinan anyaman bambu,” ujarnya.
Pada 1980-an permintaan kerajinan bambu menggeliat seiring maraknya hobi merawat burung berkicau. “Permintaan sangkar burung melonjak tajam,” ujar pria 48 tahun itu. Apalagi harga jual sangkar burung 10 kali lebih tinggi daripada harga boboko—wadah nasi. Sejak itu Utang dan para perajin bambu di desanya beramai-ramai beralih memproduksi sangkar burung. Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Garut juga membina para perajin bambu pada 1998.
Mereka bekerja sama dengan intruktur nasional kerajinan bambu dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), mendiang Dodi Mulyadi. Utang menggunakan kesempatan itu untuk belajar berbagai desain kerajinan bambu. Ia beralih mempelajari teknik pembuatan produk berbahan bambu lain, seperti kursi, tas, lampu, dan jam meja.
Ekspor
Bisnis Utang makin menanjak pada 2013. Ia bekerja sama dengan dosen Jurusan Desain Produk ITB, Harry Mawardi. Utang memproduksi berbagai kerajinan bambu yang didesain Harry. Harry lalu menjualnya dengan merek Amygdala Bamboo. Produk besutan master bidang desain Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu tak hanya sukses menembus pasar lokal, tapi juga pasar mancanegara, seperti Australia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan.
Produsen lain, Omi Suhaemi, memproduksi sangkar burung sejak 2006. Perajin di Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, itu memproduksi 30 set sangkar burung per bulan. Ia menjualnya ke produsen perlengkapan burung berkicau ternama di tanah air. Satu set biasanya terdiri atas 3 buah sangkar. Harga sangkar burung bervariasi tergantung ukuran dan desain, yakni berkisar Rp300.000—Rp1,2 juta per set.

Omi bersama perajin lain memproduksi sarang burung lantaran permintaannya masih tinggi seiring tren hobi burung berkicau. Apalagi sangkar burung menjadi produk andalan Kecamatan Selaawi. “Banyak sekali perajin yang menggantungkan hidup dari sangkar burung,” ujarnya. Menurut Omi produksi sangkar burung tergolong industri padat karya. Pasalnya, untuk membuat sebuah sangkar burung melibatkan banyak perajin.
“Jadi ada perajin yang khusus membuat jeruji sangkar, alas, tutup, hingga ukiran gantungan sangkar,” kata Omi. Contohnya Iwan Ridwan. Pria asal Desa Selaawi, Kecamatan Selaawi, itu bersama istrinya fokus membuat jeruji sangkar. Mereka mampu menghasilkan 1.000—1.500 batang jeruji per hari. Ridwan menghabiskan 3—4 batang bambu untuk menghasilkan jeruji sebanyak itu. Harga jual jeruji Rp8.000 per 100 batang.
Potensi bambu

Menurut Camat Selaawi, Ridwan Effendi, S.S.T.P., M.Si., hingga kini industri kerajinan bambu menjadi andalan masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga. “Hingga kini terdapat sekitar 1.600 perajin bambu di Kecamatan Selaawi,” tutur alumnus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) itu. Produk yang dihasilkan perajin beragam, mulai dari anyaman, mebel, dekorasi rumah, aksesori, hingga alat musik tradisional.
Effendi mengembangkan program Kawasan Perdesaan Industri Bambu Kreatif Selaawi (baca Serbabambu di Selaawi halaman 60—62). Menurut ahli taksonomi bambu dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Elizabeth Anita Widjaja, bambu sejatinya banyak dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat sejak dulu.
Produk berbahan bambu kini juga menjadi tren seiring meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap produk ramah lingkungan. Tren itulah yang dimanfaatkan Yoyo Budiman dengan memproduksi berbagai perlengkapan sehari-hari menggunakan bambu. Salah satunya sendok dan gelas dari bambu. Pria asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu juga memproduksi tumbler atau botol minuman dan sedotan bambu. Untuk memproduksi kerajinan itu ia memiliki karyawan sendiri dan juga bermitra dengan para perajin yang tersebar di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Ia menjual produknya itu ke hotel, rumah makan, dan juga konsumen langsung. Harga produk bervariasi, mulai dari Rp1.500—Rp200.000 per buah.
Salah satu faedah bambu yang terus berkembang variasi bentuk dan jenisnya hingga saat ini adalah sebagai bahan konstruksi bangunan. “Perkembangannya makin pesat dalam 10—15 tahun terakhir,” tuturnya. Masyarakat biasanya menggunakan beberapa jenis bambu untuk konstruksi, seperti bambu andong, betung, ori, dan tali. Elizabeth menuturkan, kini produk bambu juga tak hanya berupa kerajinan konvensional.

Contohnya kini hadir bambu dalam bentuk laminasi, yakni menggabungkan potongan-potongan bambu menggunakan perekat, lalu dibentuk sesuai keinginan. “Produk bambu laminasi merupakan langkah alternatif dan inovatif menghadirkan produk bambu dengan desain lebih beragam,” tutur Elizabeth. Namun, Elizabeth menyayangkan keberadaan bambu di Indonesia belum menjadi perhatian utama.
Pemanfaatannya masih kalah dengan kayu. Padahal, keragaman jenis bambu di tanah air luar biasa. Di Indonesia tumbuh 161 jenis bambu. Dari jumlah itu 126 jenis di antaranya merupakan jenis asli Indonesia. “Itu setara 15,5% dari total spesies bambu dunia tumbuh di Indonesia,” tuturnya. Hingga saat ini belum ada industri bambu berskala nasional. Industri bambu masih berupa industri kecil dan rumahan berskala lokal.
Di tanah air juga belum ada kebun-kebun bambu dalam skala luas yang tertata dan terkelola dengan baik. Bambu masih dipanen dari kebun-kebun milik warga dengan kondisi seadanya. “Padahal, industri yang baik membutuhkan pasokan bahan baku berkualitas baik pula,” tutur Elizabeth. (Imam Wiguna)
