Trubus.id— Kebun milik Ahmad Fahrizal hanya seluas 3.000 m². Namun, Fahrizal mampu memproduksi 2.000—5.000 bibit alpukat cipedak atau miki saban bulan.
“Pengiriman ke seluruh daerah di Indonesia,” kata warga Kelurahan Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Provinsi Jakarta itu. Pengiriman bibit terjauh terjauh antara lain ke Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan Utara, dan Papua.
Menurut Rizal—panggilan akrab Ahmad Fahrizal—permintaan bibit alpukat itu terus meningkat sejak 2020. Alasannya tren mengebunkan buah tanaman anggota famili Lauraceae itu terus mlonjak saban tahun di Indonesia.
“Permintaan paling banyak hingga 4.000 bibit saban bulan,” kata pembibit alpukat sejak 2017 itu. Sebelumnya kapasitas produksi 1.000—3.000 bibit per bulan.
Rizal menjual bibit alpukat hasil sambungan atau grafting setinggi 50 cm seharga Rp50.000. Harga jual berbeda tergantung dari jumlah pembelian. Harga Rp40.000 untuk pemesanan minimal 50 bibit, sedangkan pemesanan minimal 100 bibit berharga Rp30.000.
Jika penjualan rata-rata 3.000 bibit seharga Rp40.000 maka omzet Rizal mencapai Rp120 juta saban bulan. Keistimewaan bibit Rizal yakni tersertifikasi Kementerian Pertanian sejak 2015 dengan nama varietas cipedak.
Pohon induk tunggal (PIT) tumbuh di Kelurahan Cipedak, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Oleh sebab itu, “Nama varietas sesuai dengan lokasi pohon,” kata Rizal. Jadi, pembeli meyakini kualitas bibit produksi Rizal karena tersertifikasi.
Meskipun bernama resmi cipedak, ada nama lain yang tak kalah populer yakni miki. Nama dagang itu merupakan akronim dari nama orang tua pemilik PIT, H. Yunus, yakni Miah dan Kinan. Nama miki justru lebih dikenal di kalangan pencinta alpukat dibandingkan dengan cipedak.
“Artinya, cipedak dan miki masih jenis yang sama hanya perbedaan nama,” kata pria berumur 34 tahun itu.
Rizal optimis tren berkebun alpukat masih terus naik hingga 5 tahun mendatang. Alasannya, produksi di dalam negeri masih belum memenuhi permintaan.
“Alpukat berproduksi tidak mengenal musim, bisa berproduksi sepanjang tahun sehingga tidak pernah ada istilah harga turun karena pasokan berlebih,” kata pria kelahiran Jakarta itu.
Lebih lanjut ia mengatakan, kondisi terkini semua jenis alpukat laku terjual. Apalagi jenis premium seperti cipedak atau miki yang persediaannya masih terbatas di pasar.
Buktinya 200 kg alpukat miki per musim dari pohon induk di pekarangan Rizal selalu terserap habis. Dengan kata lain pekebun tidak kesusahan menjual alpukat apalagi jenis premium karena pasar masih terbuka lebar.
