Monday, August 8, 2022

Bisnis Enak Lalapan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sayuran lokal untuk lalapan penting untuk ketahanan pangan keluargaHarga sayuran lalapan memang murah. Namun, laba para pebisnis dan pekebun menggiuran.

Aktivitas Ujang Nurjaman 15 tahun terakhir selalu ajek: setiap malam menunggu minibus datang di halaman rumahnya di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. Minibus itu mengangkut 24.000—32.000 ikat alias 150—200 koli daun kemangi. Tak banyak perlakuan terhadap daun Ocimum basilicum itu. Ujang dibantu 2 pekerja mengikat 2—3 pucuk daun dengan rafia. Ia lantas menyatukan 4 ikatan kecil itu dalam satu kesatuan atau sekantet.

Keesokan hari, Ujang membawa daun kemagi segar itu ke Pasar Andir, Kotamadya Bandung. “Menjualnya gampang, letakkan saja pasti laku,” kata Ujang. Dalam 5—7 jam sejak ia tiba, daun beraroma semerbak itu ludes diborong pembeli. Ia menjual setiap koli Rp15.000 sehingga meraup omzet Rp2,25-juta—Rp3-juta per hari. Laba bersihnya mencapai Rp1,2-juta per hari.

Perawatan mudah

Ujang mengatakan bahwa penjualan daun kemangi berlangsung 7 hari dalam sepekan. Ia tidak memiliki hari libur, kecuali pada perayaan hari besar seperti Lebaran atau Idul Adha. Itulah sebabnya boleh dikatakan ia berjualan kemangi saban hari.  Selain Ujang, pedagang lain yang menikmati laba berniaga kemangi adalah Soma Kartiwa di Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ia mendatangkan daun kerabat selasih itu dari Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Setiap hari Soma memperoleh kiriman 1.500—2.000 ikat besar. Seikat besar terdiri dari 25 ikatan kecil atau kira-kira segenggam. Soma membanderol Rp5.000 per ikat besar. Dengan demikian omzet Soma yang berdagang kemangi sejak 1997 di Pasar Kemang, Kota Bogor, itu mencapai Rp7,5-juta. per hari. Baik Soma maupun Ujang selama ini memperoleh pasokan kemangi segar dari para pekebun. Mereka memang tidak membudidayakan sendiri tanaman anggota famili Lamiaceae itu.

Ujang rutin mendapatkan pasokan sayuran lalapan itu dari pekebun di Desa Jalitri, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung. Para pekebun pada umumnya menanam kemangi sebagai selingan ketika menanam kangkung atau bayam. Luas penanaman pun tak seberapa, berkisar 500—1.000 m2 per petani. Bahkan, kerap kali petani hanya menanam kemangi di tepi lahan untuk penghasilan tambahan di luar komoditas utama.

Menurut Didin Rohidin, petani dan pengepul di Desa Jalitri, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, sekali menanam kemangi panen 10—15 kali selama 1,5—2 tahun. Panen perdana ketika tanaman berumur 2 bulan. Panen berikutnya dengan interval 20—25 hari. Sebab setelah pucuk tanaman dipetik ketika panen, maka akan muncul tunas baru yang siap panen 25 hari kemudian.

Pekebun meremajakan tanaman setelah sayuran lalapan itu berumur 1,5—2 tahun atau saat tinggi tanaman melebihi semeter. Pasalnya, ukuran daun baru yang keluar cenderung mengecil dan pertumbuhan melambat. Kemangi tak menuntut perawatan ekstra.

Dari lahan 500 m2, pekebun itu menuai hingga 2 ton kemangi selama 2 tahun. Selama 30 tahun terakhir ia rutin membudidayakan kemangi karena budidaya relatif mudah, biaya produksi rendah, dan menguntungkan. Serangan hama dan penyakit, misalnya, hampir tidak pernah terjadi. Artinya ia tidak perlu menganggarkan biaya pestisida. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar fisiologi tanaman di Jakarta, daun kemangi mengandung etheric oil alias minyak terbang yang menjauhkan organisme pengganggu tanaman.

Poh-pohan

Selain kemangi, sayuran lalapan lain yang mendatangkan laba adalah poh-pohan Pilea trinervia, daun singkong Manihot esculenta, dan kenikir Tagetes erectus. Soma mendatangkan sebak mobil terbuka poh-pohan per hari. “Penggemarnya banyak, buktinya selalu habis meski didatangkan satu mobil,” kata Soma. Sayuran lalapan itu sohor di rumah makan khas Sunda.

Pedagang lain seperti Nana Sumarna menjual total 20.000 ikat daun kerabat aster itu ke pasar-pasar di Bogor, seperti Pasar Cipanas, Pasar Kemang, dan Pasar Cikoko setiap hari. Ia menjual seikat poh-pohan seharga Rp70—Rp100 tergantung pasokan. Total omzetnya mencapai Rp2-juta per hari.

Di sana masyarakat menanam poh-pohan di lahan total seluas 2 ha sejak 10 tahun lalu. Luas penanaman bervariasi 0,2—1 ha di lahan seluas 80 ha milik PT Perhutani. Seperti kemangi, poh-pohan juga tak menuntut perawatan ekstra. Dua bulan setelah penanaman, pekebun panen perdana dengan cara memetik pucuk tanaman. Interval panen rata-rata 21 hari. Dari lahan 2.000 m2, pekebun menuai total 1.500 bal—setara 1,5 ton—poh-pohan dalam satu periode budidaya selama 18 bulan.

Bisnis poh-pohan selama ini nyaris tanpa kendala, kecuali saat muim hujan. “Akses lahan sulit lantaran medan menjadi becek dan berlumpur,” kata Nana. Itulah sebabnya biasanya harga poh-pohan justru meningkat ketika musim hujan. Di tingkat pekebun, harga menjadi Rp100 per ikat. Bandingkan dengan harga komoditas itu ketika musim kemarau yang hanya Rp70 per ikat.

Dari semua jenis sayuran lalapan yang diusahakan Soma, pasokan kenikir terbilang paling seret.  Seretnya pasokan kenikir karena jarang petani yang membudidayakannya. Padahal, harga jual kenikir relatif mahal, mencapai Rp250 per ikat. Soma memperoleh sayuran itu dari kelompok tani di Kecamatan Ciapus dan Tamansari, Kabupaten Bogor.

Lokal

Kebutuhan sayuran lalapan memang lebih sedikit daripada sayuran lain seperti kangkung dan bayam. Di pasar induk Kemang, Kotamadya Bogor, Jawa Barat, misalnya, puluhan pedagang menjajakan lalapan dalam jumlah sedikit. Sebagai perbandingan seorang pedagang rata-rata mendatangkan masing-masing 3 mobil bak terbuka kangkung dan bayam. Sementara sayuran lalapan terdiri atas poh-pohan dan kemangi hanya satu mobil per hari.

Ada pula pekebun yang membudidayakan adas di lahan untuk tujuan komersial. “Secara komersial nilainya cukup prospektif, tetapi masih terbatas di tempat tertentu,” tutur Ir Kusmana, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung. Menurut Ida Hanarida S dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor, Jawa, Barat, sayuran lokal untuk lalapan berperan penting dalam peningkatan ketahanan pangan rumahtangga.

Sayuran lalapan bisa berupa tanaman asli daerah tertentu atau sayuran introduksi yang telah berkembang lama. Di sekitar wilayah Bogor dan Bandung, masyarakat mengenal daun poh-pohan sebagai lalapan sejak dahulu. Berbeda dengan masyarakat Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, yang memanfaatkan daun adas Foeniculum vulgare sebagai bahan lalapan. Masyarakat setempat menanam sayuran anggota famili Umbelliferae itu di pekarangan untuk konsumsi domestik sebagai lalapan.

Ada pula pekebun yang membudidayakan adas di lahan untuk tujuan komersial. “Secara komersial nilainya cukup prospektif, tetapi masih terbatas di tempat tertentu,” tutur Ir Kusmana, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Bandung. Menurut Hanarida sayuran lokal seperti poh-pohan dan kemangi mudah beradaptasi sehingga dapat tumbuh baik. Selain itu sayuran lokal juga membantu penguatan keamanan pangan dan kecukupan gizi, dan memangkas pengeluaran untuk konsumsi. Bagi para pekebun dan pedagang, sayuran lalapan adalah sumber matapencaharian. (Pranawita Karina/Peliput: Muhamad Khais Prayoga)

Previous articleLahan Kecil Laba Besar
Next articleBasmi Gulma
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img