Thursday, August 11, 2022

Lahan Kecil Laba Besar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Saat musim hujan banyak petani enggan menanam cabai atau tomat lantaran rentan penyakitAde Rohimat menumpang-sarikan 4 jenis sayuran pada musim hujan. Laba lebih dari Rp200-juta dalam 9 bulan.

Pekebun di Desa Sukamenak, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Ade Rohimat, menumpangsarikan empat komoditas–sawi putih, cabai rawit, kol, dan tomat—secara susul-menyusul di sebuah bedeng. Padahal banyak pekebun sayuran menghindari cara seperti itu lantaran serangan penyakit meningkat. Wajar jika pasokan melorot dan harga melambung.

Ade Rohimat (kiri) meraup omzet seperempat miliar dari budidaya di musim hujanMeski menanam 4 komoditas ketika musim hujan, Ade Rohimat mampu mengatasi beragam penyakit sehingga produksi pun terjaga. Laba pun meningkat signifikan. Buktinya ia mampu membeli lahan hampir 1 ha dari laba panen tumpangsari.

Hanya pupuk kandang

Biasanya Ade hanya menanam 2 jenis sayuran berbarengan—kombinasi sawi putih dan tomat, cabai rawit dan kol, atau tomat dan cabai rawit. “Kol atau sawi di bawah, sementara cabai atau tomat di atas dengan turus alias ajir sebagai penyangga,” kata Ade. Ia melakukan cara itu selama hampir setahun sejak pertengahan 2012. Tujuannya memaksimalkan pemanfaatan lahan agar memperoleh lebih banyak hasil dalam waktu bersamaan.

Atas saran Hendra Gunawan Hadmidiredja, pehobi asal Bogor yang kerap mengutak-atik tanaman, Ade menanam komoditas yang lebih beragam. Untuk meningkatkan peluang sukses, pria tamatan sekolah dasar itu mengubah komposisi pupuk dasar. Semula ia memberikan 150 kg pupuk kandang dan masing-masing 100 kg  pupuk ZA, TSP, dan KCl untuk lahan hampir 6.000 m2. Adapun untuk tumpangsari 4 sayuran, ia hanya membenamkan 600 kg pupuk kandang tanpa pupuk kimia

Ade Rohimat membuat 5 baris bedengan sepanjang 10 meter dengan jarak antarbaris 20 cm. (lihat ilistrasi) Setiap baris berisi 100 bedengan. Total jenderal di lahan berukuran 50 m x 120 m itu ia membuat 500 bedengan. Selanjutnya ia memasang mulsa plastik hitam perak di setiap bedengan.

Cara memasang mulsa pun berbeda. Ia memasang mulsa di tengah-tengah bedengan sehingga menyisakan bagian yang tak tertutup masing-masing selebar 20 cm di tepi kiri dan kanan bedengan. “Cara itu dijuluki mulsa legging karena sebagian bedengan terbuka, mirip orang mengenakan celana selutut,” kata Acep Suherlan, putra pertama sekaligus asisten kebun Ade Rohimat.

Dengan teknik itu, Ade memangkas kebutuhan mulsa dan menghemat Rp1,92-juta. Di tengah bedengan, Ade melubangi mulsa untuk menanam benih cabai dan tomat—tanpa disemaikan terlebih dahulu—secara berselang-seling dengan jarak antarbenih 50 cm. Di sisi bedengan yang tidak tertutup, ia menanam benih sawi putih. Benih sawi putih ia benamkan di jarak sela antara cabai dan tomat, dengan jarak antarbenih sawi juga 50 cm.

Menurut Ade populasi tomat mencapai 5.000 tanaman; cabai (5.000), dan sawi putih (19.000). Ia lantas menanam kol di bekas lubang tanam sawi. Sawi dan kol memang masih sekeluarga, keduanya anggota famili Brassicaceae.

Cegah hama

Ade mengantisipasi serangan penyakit dengan penyemprotan fungisida secara rutin. Sejak 2 hari setelah tanam (HST), ia menyemprotkan campuran masing-masing 1 sendok makan fungisida berbahan aktif klorotalonil dan  propineb serta hormon pertumbuhan dalam tangki berkapasitas 16 liter. Interval penyemprotan 3 hari. Maklum, musim hujan identik dengan musim penyakit. “Saat kemarau, penyemprotan cukup 5—7 hari sekali,” kata Ade.

Pemupukan susulan baru ia berikan pada 50 hari setelah tanam. Anak kelima dari 8 bersaudara itu melarutkan masing-masing 150 pupuk SP-36 dan ZA dalam 300 liter air lalu mengocorkan ke bawah tajuk pada pagi. Pada 70 HST, ia mengulang pemupukan dengan melarutkan 50 kg NPK dalam 300 liter air. Pengocoran SP-36 dan ZA ia ulang pada 90 HST. Selang sehari pascapanen tomat (104 HST), ia kembali mengocorkan NPK. Ade mengulang pemberian NPK masing-masing setelah 3 dan 5 kali memanen tomat.

Pada 55 HST, Ade memanen sawi. Tomat mulai panen pada 104 HST dan berlanjut setiap 4 hari selama 45 hari atau minimal sebanyak 11 kali. Adapun cabai mulai panen pada 120 HST dan berulang setiap 6 hari sampai 30 kali panen atau selama 5 bulan. Pada 70 HST, bersamaan dengan pemupukan susulan kedua, ia menanam benih kol di bekas lubang tanam sawi. Ia akan panen kol itu 3 bulan berselang alias 160 hari pascapenanaman pertama. “Panen tomat dan cabai bisa berlanjut jika kondisi tanaman masih bagus,” kata Acep. Tomat bisa panen hingga 20 kali, sementara cabai rawit bisa 50 kali.

Siasat itu terbukti jitu: Ade panen saat harga bertengger di puncak lantaran minim pasokan.  Menurut perhitungan Ade, sampai permulaan Maret 2013 lalu ia meraup omzet Rp252-juta. Padahal, saat mengunjungi kebun Ade, Trubus menyaksikan cabai rawit dan tomat ranum menanti panen. Ia memperkirakan masih bisa 2—3 kali panen tomat, sementara cabai rawit 4—5 kali lagi. Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar fisiologi dan hama penyakit tanaman di Jakarta, sistem polikultur yang dilakukan Ade sangat rentan ledakan penyakit. Maklum, budidaya tanaman dari famili yang sama terus-menerus menyediakan sumber nutrisi bagi cendawan perusak. “Terutama saat kelembapan tinggi dan diperburuk pemberian asupan unsur nitrogen berlebih,” kata Yos. Ade mengantisipasinya melalui pemberian pupuk tinggi unsur fosfor dan sulfat. Musim hujan pun berbalik dari momok menjadi momen mendulang laba. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img