Setiap hari Niko Purnomohardjo memproduksi hingga 200 kg kopra. Satu kilogram kopra berasal dari 5 – 6 daging buah kelapa segar berukuran kecil, berbobot rata-rata 8 ons. Namun, jika menggunakan kelapa besar, ia hanya memerlukan 2 – 3 buah. Ia meletakkan daging buah kelapa segar di atas para-para bambu. Kira-kira 1,2 m di bawah para-para bambu itu ia menyalakan bahan bakar berupa sabut atau tempurung kelapa selama 24 jam tanpa henti.
Asap dari api itu mengeringkan daging kelapa hingga berkadar air 5 – 10% sehingga tahan lama. Menurut Niko sekali produksi menghabiskan sekitar 75 kg batok kelapa. Pengeringan kelapa secara alami di bawah sinar matahari sebetulnya menghasilkan kopra bermutu tinggi. Namun, proses pengeringan lebih lama, yakni 3 hari ketika musim kemarau; musim hujan, 4 – 5 hari. Itulah sebabnya, banyak produsen kopra yang mengeringkan kelapa dengan api.
Pasar luas
Jika daging kelapa berubah menjadi kopra kering, maka para pengepul siap menjemput bahan baku minyak itu di tempat. Niko mengatakan biaya produksi kopra Rp5.500 – Rp6.600 per kg. Saat ini harga jual kopra bervariasi antara Rp7.400 – Rp8.800 per kg di tingkat produsen. Niko mengutip laba bersih Rp500 per kg.
Dengan produksi rata-rata 200 kg kopra, laba bersihnya Rp100.000 per hari. Padahal, Niko memproduksi kopra 7 kali dalam sepekan. Itu berarti laba Niko dari perniagaan kopra Rp2,8-juta sebulan. Pria 31 tahun itu berpeluang melipatgandakan laba. Sebab, permintaan kopra sangat tinggi. Sebuah pabrik minyak kelapa di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, meminta pasokan rutin 6 ton per pekan hingga belum ia layani. ‘Produksinya masih terbatas,’ kata Niko.
Menurut pengepul kelapa di Saketi, Pandeglang, Provinsi Banten, Epi Suhaepi, selama ini tak pernah ada kendala menjual kopra. ‘Tinggal angkat telepon pengusaha minyak kelapa langsung datang ke lokasi. Berapa pun barang yang ada pasti diambil,’ kata Epi. Pantas Niko mengatakan, ‘Bisnis kelapa tak ada matinya.’
Yohanes Fredie Santoso sepakat pasar kopra terbentang luas. Buktinya total jenderal permintaan lebih dari 60 ton kopra per pekan, hanya sanggup terpasok 3.500 kg sehari. Padahal, ia menghubungi banyak produsen kopra di berbagai sentra di Aceh, Padang, Lampung, Sukabumi, Manado, Baubau, Kendari, dan Halmahera.
Yohanes mensyaratkan kopra kering, kadar air maksimal 7%, bebas cendawan, dan warna cokelat kehitaman. Bentuk dan ukuran kopra bebas. Sebab, produsen minyak akan menghancurkan kopra dalam proses pembuatan minyak. Pengepul kopra sejak 2010 itu hanya memetik laba bersih Rp1.000 per kg. Namun, karena volume pasokan sangat banyak, 3,5 ton, maka laba pun menggunung, yakni Rp3,5-juta sehari. Yohanes menjadi pemasok kopra karena kecelakaan.
Semula temannya minta agar Yohanes mencarikan pemasok kopra. Namun, akhirnya sang teman malah membatalkan perjanjian. Oleh karena itu pemasok mengejar-ngejar Yohanes. Kepalang tanggung, maka mantan pengusaha komputer itu menekuni distributor kopra.
Kelapa segar
Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain, Patrik Pasang STP MT, permintaan semakin tinggi karena banyak tumbuh industri minyak berbahan kelapa untuk tujuan ekspor. Dampaknya permintaan bahan baku juga terkatrol.
Itu yang menyebabkan produsen dan pengepul kopra seperti Niko dan Yohanes kelimpungan melayani tingginya permintaan. Meski demikian, bukan berarti bisnis kelapa dan kopra tanpa aral. Salah satu hambatan berbisnis kopra adalah keterbatasan bahan baku. Harap maklum, kebun kelapa komersial masih sangat jarang. Pekebun pada umumnya menanam kelapa di tegalan atau kebun dengan populasi terbatas.
Selain itu kendala lain adalah fluktuasi harga bahan baku. Yohanes pernah sepakat membeli kopra di Surabaya Rp7.000 per kg. Namun, ketika ia tiba di pengepul minta harga Rp9.000. Saat itu ia membeli 40 ton kopra sehingga harus mengeluarkan Rp360-juta dari ‘semestinya’ hanya Rp280-juta.
Selain memasok kopra, Niko juga melayani permintaan kelapa segar untuk bahan baku minyak goreng dari pabrik di Cirebon, Bekasi, Pulogadung, dan Semarang. Pabrik-pabrik itu mensyaratkan agar Niko mengirimkan kelapa dari Provinsi Banten yang berdaging tebal hingga 1,3 cm dan berkadar minyak tinggi. Biasanya hanya kelapa kelas A dan B tanpa sabut yang ia kirimkan ke pabrik dalam bentuk segar.
Ciri kelapa kelas A adalah berdiameter di atas 14 cm dan bobot di atas 1,3 kg per buah. Harga beli Rp1.800 – Rp2.000 per buah. Kelapa kelas B berdiameter 12 – 14 cm dan berbobot 1 – 1,2 kg per buah dengan harga beli Rp1.700 – Rp1.800 per buah. Di luar kelas A dan B, ia mengolahnya menjadi kopra. Pria yang pernah menempuh pendidikan di Universitas Mercu Buana itu memasok kurang lebih 22.000 butir terdiri atas 40% buah kelas A dan 60% buah kelas B per pekan. Dari perniagaan itu, Niko memperoleh laba bersih minimal Rp 400 per buah.
Menjual kelapa segar atau olahan untuk bahan baku minyak terbukti sama-sama menguntungkan. Pantas saja Niko rela meninggalkan Jakarta, kota kelahiran, dan menetap nun jauh di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kalau bukan karena laba yang menggiurkan itu, tentu saja ia bakal bertahan di Jakarta. (Susirani Kusumaputri/Peliput: Pranawita Karina)
