Sunday, August 14, 2022

Bola Salju Bisnis Koi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

KoiPara hobiis gandrungi keindahannya. Para peternak mengantongi rupiahnya.

 

Itu rumah kedua saya,” ujar Heri Hartono sambil mengajak Trubus menuju sebuah rumah mungil berdinding bilik bambu yang berdiri di pematang kolam. Rumah itu hanya terdiri atas satu ruang tidur dan selasar berlantai bambu di bagian depan. “Ini tempat favorit saya menghabiskan waktu di akhir pekan untuk melepas penat,” ujar pegawai salah satu badan usaha milik negara itu. Di situlah Heri menikmati pemandangan ke-17 kolam tanah berbagai ukuran yang menghampar di sekeliling rumah.

Bagi Heri kolam-kolam yang terletak di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat, itu bukan sekadar pelepas penat. Dari sanalah pundi-pundi rupiahnya menggemuk. Dari kolam itu, ia memanen koi berbagai ukuran. Jika ia menjual koi berkualitas kontes, kantongnya kian tebal. “Harga koi kualitas kontes relatif, tergantung kesepakatan harga dengan si pembeli,” ujar ayah 2 anak itu.

Semula hobi

Pendapatan Heri juga bertambah dari hasil penjualan koi apkir. Koi apkir berbentuk tubuh kurang proporsional dan warna kurang tegas. Ia rutin memasok 1.500 ekor koi apkir per pekan ke para pedagang ikan hias di Pasar Parung dan Cibinong berjarak 22 km dari farm. Pantas meski baru mulai beternak koi selama 1,5 tahun, “Saya sudah kembali modal,” ujar Heri.

Padahal, kecintaannya pada koi semula hanya sebatas hobi. Pria yang hobi bermain gitar itu memelihara koi di kolam beton berukuran 2,5 m x 1,5 m x 1 m di halaman rumah. Kolam itu dihuni koi-koi impor asal Jepang.

Berawal dari hobi, Heri lalu tertantang untuk mencoba menangkarkan kerabat ikan mas itu. Koi berumur di atas 2 tahun ia jadikan induk, lalu dikawinkan di kolam berbahan fiber. Heri ternyata bertangan dingin. Dari sepasang induk menghasilkan ratusan anakan. Saat anak berumur 4-5  bulan-berukuran kira-kira 20-25 cm-Heri melelang di forum-forum komunitas pencinta koi. Dari sanalah ia mulai mendapat pembeli. Rupiah yang didapat membuat pria murah senyum itu memutuskan untuk membudidayakan koi lebih serius.

Pada 2010 Heri pun menyewa sebidang kolam tanah berjarak sekitar 2 km dari rumah. Ke dalam kolam berukuran 10 m x 20 m itu ia mencemplungkan 10 pasang induk. Dari sana Heri memanen ratusan koi berbagai ukuran. Dalam 2 tahun jumlah kolam tangkaran dan pembesaran bertambah hingga 17 kolam.

Dipicu kontes

Pemain baru koi terus bermunculan. Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, lokasi kolam Heri, semula bukan sentra koi. Di Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, sentra koi, Muhamad Maha Whisnu mulai bisnis koi pada 2009. Dalam sebulan pria 20 tahun itu menjual rata-rata 40-50 ekor koi kelas kontes. Dari perniagaan itu ia sukses meraup omzet hingga Rp20-juta-Rp25-juta per bulan.

Nun di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, juga sentra koi, Deni Luginarap menggelontorkan modal hibah Rp300-juta  dari sebuah perusahaan untuk membangun kolam budidaya koi. Menurut peternak koi di Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Ato, hingga kini jumlah peternak baru di Sukabumi terus bermunculan. Itu karena sejak 2007 hingga sekarang jumlah permintaan koi meningkat 50%. Melonjaknya permintaan itu dipicu maraknya kontes yang diselenggarakan hampir setiap bulan. Peserta kontes juga  semakin banyak. Contohnya kontes lokal di Sukabumi pada November 2010 diikuti hingga hampir 1.000 peserta.

Lihatlah pengalaman Yosef Ismatullah. Peternak koi yang juga lurah Desa Padaasih, Kecamatan Cisaat, Sukabumi, itu mendapat permintaan hingga 1.500 ekor koi grade C-seukuran dua jari-per bulan. Untuk memenuhi permintaan itu, ia membeli koi dari peternak sekitar dengan harga beli Rp5.000 per ekor. Ia menjualnya lagi dengan harga Rp15.000. Menurut peternak senior di Blitar, Jawa Timur, Agus Riyanto, permintaan koi terus meningkat pascameredanya serangan koi herpes virus (KHV) pada 2000-2003.

Pembesaran

Tingginya permintaan hobiis ibarat bola salju yang terus bergulir. Dalam rantai perniagaan koi di tanahair, kini bermunculan segmen usaha baru. Fathoni di Desa Sukosewu, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, memilih usaha pembesaran. Ayah 1 anak itu membeli burayak umur sepekan dari para peternak. Pria yang baru menekuni usaha koi pada 2009 itu lalu memeliharanya hingga siap jual pada umur 4 bulan. Peternak ayam petelur itu membesarkan koi pada 2 kolam tanah di belakang rumah berukuran masing-masing 500 m2 dan 700 m2. Pemasaran ikan samurai pun tidak hanya lewat jalur tradisional, tapi juga lewat dunia maya. (Baca: Koi Jagat Maya, Trubus edisi Maret 2012).

Menurut ketua Asosiasi Pecinta Koi Indonesia (APKI), Budi Widjaja, perkembangan hobi koi juga mendorong pergerakan bisnis pendukung hobi. “Kebutuhan bahan bangunan ikut terdongkrak,” ujarnya. Harap mafhum, koi membutuhkan kolam yang kokoh supaya bisa menampung volume air hingga ratusan ton. Permintaan alat pendukung kolam seperti filter juga ikut terkerek naik. “Permintaan naik 10-15%,” ujar pemilik Hikaru Koi di Bekasi, Jawa Barat, Budi Santoso.

Permintaan sebagian besar dari hobiis pemula yang baru membuat kolam. “Mereka saya arahkan agar melengkapi kolam dengan filter untuk memudahkan perawatan,” ujar Budi. Ada juga permintaan dari hobiis yang “naik kelas”. Awalnya hobiis mengoleksi koi kualitas biasa sehingga tidak perlu menggunakan filter untuk menjaga kualitas air kolam. Ketika hobiis mulai mengoleksi koi yang berkualitas lebih tinggi mereka butuh filter untuk memastikan kualitas air kolam terjaga. Bola salju itu terus bergulir. (Imam Wiguna/Peliput: Bondan Setyawan, Pranawita Karina, dan Riefza Vebriansyah)

Keterangan foto

  1. Heri Hartono, kembali modal meski baru mulai bisnis koi 1,5 tahun
  2. Kolam penangkaran milik Heri Hartono
  3. Yosef Ismatullah mesti bekerjasama dengan peternak lain untuk memasok 1.500 ekor per bulan
  4. Peternakan koi kini merambah ke daerah yang bukan sentra

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img