Tuesday, November 29, 2022

Brandon Pukau Negeri 1.001 Sungai

Rekomendasi

Perburuan Samsul Diris ke Pulau Jawa berujung manis. Merapi yang kini berubah menjadi Brandon, diboyong sebulan silam dan meraih gelar Best of The Best pada kontes serama yang digelar Borneo Serama Club pada awal Desember 2011.

M impi Samsul memperoleh serama kualitas kontes baru terwujud setelah bergerilya ke banyak pasar unggas. Dimulai dari Pasar burung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hingga Malang dan Sidoarjo, Jawa Timur disambangi.  Namun, hasilnya nihil. Hanya ayam kate yang ia temui.

Samsul bagai mendapat durian runtuh waktu sopir taksi ke-10 yang disewa di Surabaya bercerita pernah mengantar seorang hobiis serama dari Jakarta ke sebuah farm. Ke sanalah Samsul minta diantar. Di farm itulah Samsul kepincut Merapi, serama ternakan Surabaya berdarah Malaysia. Merapi berdada busung, berleher getar, dan berkaki panjang. Serama berumur lima bulan itu juga jinak.
Begitu dalam genggamannya, Samsul mengganti nama Merapi menjadi Brandon. Nama itu diambil dari nama penyanyi bertubuh mungil asal Surabaya pemenang sebuah ajang pencarian bakat di layar kaca, Brandon De Angelo. Menyandang nama Brandon serama berbulu cokelat itu mendulang juara.
Berleher getar
Brandon sukses menaklukkan 103 serama di kontes yang digelar Borneo Serama Club dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Puncak penampilan Brandon pada pemilihan peraih gelar Best of The Best (BOB). Brandon menaklukkan tiga rival terberatnya: Keling, juara kelas jantan dewasa A (bobot     < 360 g); Zegleng, kampiun jantan dewasa B (bobot 360—500 g); dan Bima, pemenang jantan dewasa C (bobot > 500 g).
Pada partai puncak itu Brandon berlenggak-lenggok bak peragawan. Dengan kaki panjangnya ia berjalan anggun di atas catwalk sambil membusungkan dada. Sesekali Brandon mengangkat kaki, mengepakkan sayap, dan menggetarkan leher.
Suara musik yang menggelegar dan teriakan penonton selama tiga menit perebutan gelar BOB membuat Brandon tambah garang beraksi. “Ia benar-benar layak juara,” kata Widodo, juri asal Blitar, Jawa Timur. Sebelumnya Brandon mengalahkan Morgen, klangenan Sonny dari Banjarbaru dan Snoopy, milik Umar (Banjarbaru) di kelas jantan remaja. Sementara di kelas jantan dewasa A, Keling, koleksi Rafi (Martapura) menaklukkan dua serama asal Banjarbaru yaitu Untung milik Noval dan Asterik klangenan Uzhi.
Menurut Dedy Rahmadi, wakil ketua Borneo Serama Club, kontes yang diikuti serama dari Martapura, Binuang, Banjarbaru, dan Banjarmasin itu yang terbesar di Tanah Banua. Sebelumnya di Kalimantan Selatan hanya digelar 2 kontes skala latihan bersama dengan peserta kurang dari 70 serama. “Ini menjadi tonggak bersejarah tren serama di Kalimantan Selatan sejak setahun terakhir,” kata Dedy.
Provinsi yang dikenal dengan 1.001 sungai itu mengikuti euforia tren serama di Riau, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Saat ini, menurut Sigit Budhi Pramono, ketua Borneo Serama Club, jumlah hobiis di Kalimantan Selatan lebih dari 60 orang. Mereka umumnya semula hobiis burung kicauan atau tanaman hias yang kepincut serama karena sosok mungilnya.
Ayam ketawa
Kontes serama yang digelar di aula Taher Square, Banjarmasin, itu juga diramaikan dengan kontes ayam ketawa. Sebanyak 53 ayam ketawa dari Kota Banjarmasin, Martapura, Banjarbaru, Kotabaru, dan Tanjung beradu kokok memperebutkan yang terbaik. Pada kontes perdana ayam ketawa itu kategori dibagi secara sederhana: kelas frekuensi berkokok dan kelas seni berkokok. Yang disebut pertama penilaian berdasarkan jumlah kokok ayam selama    10 menit. Sementara yang terakhir penilaian berdasarkan irama: bukaan, tengah, dan penutup.
Menurut Denawi Usman, hobiis di Semarang, Jawa Tengah, pada kelas seni berkokok  lazimnya dibagi lagi berdasarkan tipe suara: gaga (dangdut) dan dodo (slow), serta geretek. Tipe gaga kokoknya mengalun dengan jeda sedang, mirip orang tertawa ngakak. Sementara tipe dodo jeda antarkokok lebih panjang, mirip ketawa Mbah Surip. Dua tipe itu yang lazim dibuka pada ajang kontes. Sementara yang terakhir tipe geretek–jeda antarkokok pendek—jarang dilombakan.
“Kategori dibagi sederhana karena jumlah peserta di setiap tipe belum berimbang,” kata Drh H Rusmin Ardhaliwa MS, panitia kontes ayam ketawa. Di kelas frekuensi berkokok dimenangkan oleh Rambo milik Natsir Muslih yang berkokok 50 kali selama 10 menit. Ia menang telak atas
2 rival terberatnya Zio Tanjung koleksi Winarno asal Tanjung dan Gagak klangenan Anto dari Banjarmasin. Zio dan Gagak hanya mampu berkokok 39 kali dan 32 kali dalam 10 menit.
Sementara di kelas seni berkokok Brenda koleksi Ir Hj Mahrita Fajar Desira menaklukkan Landas milik M Said dan Diva klangenan Miftah Farid. Pertarungan serama dan ayam ketawa di pengujung tahun itu menandai bangkitnya tren unggas di Tanah Banua. (Ridha YK, kontributor Trubus, Kalimantan Selatan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img