Monday, November 28, 2022

Seri Walet (178) Undang Lembap Datang

Rekomendasi

Sebelas rumah walet di Desa Bangbayang, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, itu dikelilingi parit selebar 30 cm dan dalam 25 cm dengan air setinggi 15 cm. Cara pemilik mendongkrak kelembapan dalam rumah.

P arit dengan lebar sama juga dibuat menempel di dinding bagian dalam bangunan. Artinya, setiap sisi dinding rumah walet diapit dua parit. Setiap minggu pekerja mengecek ketinggian air dalam parit. Kalau tampak berkurang, ia akan menambahkan air sehingga tinggi permukaan air ajek 10—15 cm. Menurut Dadun Gunawan—penjaga rumah walet—frekuensi penambahan air pada parit di luar dinding lebih cepat 2 hari lantaran penguapan lebih tinggi.

Dibyo Sutresno, pemilik rumah walet, mengatakan air dalam parit penting untuk mencapai kelembapan ideal di dalam bangunan. Sebab kelembapan ruangan salah satu kunci mengundang walet bersarang. “Habitat alami walet di gua-gua tepi pantai dengan suhu harian kurang dari 30oC dan kelembapan relatif 80—90%,” kata Harry Kusuma Nugroho MBA, konsultan dan praktikus walet di Kelapagading, Jakarta Utara. Itu menyebabkan pemilik rumah walet melakukan berbagai cara untuk untuk meniru kondisi gua.
Sumur
Demi mendatangkan kelembapan 80—90% mereka membuat kolam di dalam rumah walet, menempatkan guci-guci besar berisi air, dan memasang kipas dengan pengindera suhu atau kelembapan. Dibyo memilih parit lantaran praktis untuk melakukan pengecekan dan penambahan air. Fungsi lain, air di parit menjadi penghalang masuknya hama walet seperti semut dan kecoak. Supaya genangan air tidak merusak tembok, Dibyo melabur dinding dengan lapisan penahan air di dasar parit dan dinding hingga setinggi 50 cm.
Selain parit, pengusaha liur emas itu membuat sebuah sumur berdiameter 1 m dan dalam 3—4 m di tengah-tengah rumah untuk mencapai kelembapan ideal. Ia mengadopsi pembuatan sumur dari rumah-rumah walet di Pati, Jawa Tengah. Menurut Drs Arief Budiman, konsultan walet di Kendal, Jawa Tengah, rumah walet di beberapa daerah di pantai utara Jawa Tengah memang ada yang dilengkapi sumur.
“Keberadaan sumur juga untuk mengelabui indera echolocation walet,” kata Dibyo. Indera itu membuat walet mengidentifikasi lokasi dalam kegelapan melalui suara—serupa dengan kemampuan yang dimiliki kelelawar sehingga bisa terbang dalam kegelapan malam. Bedanya, kelelawar membunyikan nada ultrasonik yang tak tertangkap telinga manusia sedangkan nada echolocation walet masih terdengar. Menurut Dibyo, keberadaan sumur yang menyerupai tabung terbuka memberi kesan kedalaman saat memantulkan bunyi. Efeknya, Collocalia fuciphaga mengira rumah yang dimasukinya memiliki kedalaman, seperti di gua.
Menurut Prof Johan Iskandar PhD, ahli burung dari Universitas Padjadjaran Bandung, indera echolocation lazim dimiliki makhluk berdarah panas yang mampu terbang dan bermanuver (mengubah arah, red) dengan cepat dalam kegelapan. “Itu memungkinkan mereka menilai jarak, kecepatan terbang, dan menentukan saat yang tepat untuk mengubah arah dalam kondisi cahaya rendah,” kata Johan.
Suhu ideal
Mengandalkan parit dan sumur, kelembapan sebelas rumah walet di lahan seluas hampir 1 ha itu mencapai 90—93% seperti tampak pada higrometer yang terpasang di dalam bangunan. “Kelembapan terlalu tinggi pun tidak baik lantaran membuat kayu lagur rentan serangan cendawan,” kata Ade Yamani, praktikus walet di Cibuaya, Karawang, Jawa Barat. Kayu bercendawan paling banter tahan 5 tahun—padahal seharusnya tahan sampai belasan tahun.
Kontaminasi cendawan juga mengurangi kualitas sarang walet. Sosoknya menjadi tidak bersih dan berbau tidak sedap sehingga nilai jual turun. Walet pun kesulitan bersarang karena permukaan kayu bercendawan menjadi licin. Akhirnya rumah walet dengan lagur bercendawan pun ditinggalkan penghuninya.
Suhu dalam rumah walet berkisar 24—28oC. Untuk mencapai kondisi itu seluruh rumah walet empat lantai itu dibangun setinggi total 10 m. Artinya tinggi setiap lantai hanya 2,5 m. Padahal pada rumah walet lain, ketinggian lantainya antara 3—4 m. “Ketinggian setiap lantai dibuat rendah untuk meningkatkan suhu di dalam,” kata Dibyo. Harap maklum, suhu harian di daerah Cicurug yang berketinggian 600—700 m dpl berkisar 18—25oC. Lokasi di Cicurug dipilih karena termasuk lintasan walet yang kerap mencari makan di kaki gunung Halimun dan Salak.
Sebelum rumah walet dioperasikan, Dibyo mengoleskan 2—3 kg putih telur itik ke dinding dalam bangunan sebagai pengganti ramuan pemikat. Menurut Arief, penggunaan putih telur itik bisa saja karena menghasilkan bau amis yang disukai walet. Hanya saja strategi itu bakal efektif jika perlakuannya rutin dan dalam jumlah besar.
Dibyo juga menyetel suara walet dari cakram pemanggil di setiap bangunan. Sebanyak 8 tweeter yang menyuarakan cericit walet itu ditempatkan di lantai dasar sehingga kumandangnya terdengar hingga keluar. Menurut Arief, dengan penempatan tepat—bervariasi tergantung bentuk rumah walet, kekuatan tweeter, jenis nada yang dikumandangkan, dan arah datangnya walet—tweeter efektif memandu walet bersarang.
Hasilnya dua minggu pascapengoperasian seluruh strategi itu, walet mampir dan berputar di dalam rumah. Tiga bulan berikutnya sebanyak 14 pasang walet bersarang. Dalam setahun, setiap rumah menghasilkan 60 sarang. (Argohartono Arie Raharjo)

Penempatan tweeter tepat bisa memandu walet bersarang
Air parit bantu dalam ciptakan kelembapan hingga 90%
Taruh bejana berisi air. Cara yang banyak dilakukan untuk dongkrak kelembapan
Strategi capai kelembapan dan suhu ideal rumah walet milik Dibyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img