Trubus.id— Bandeng murni ikan laut, tetapi banyak dibudidayakan di tambak payau. Itu dulu, kini banyak peternak yang sukses membesarkan bandeng di air tawar.
Sebagian peternak menilai, melihara bandeng lebih menguntungkan daripada ikan lain. Pertumbuhannya cepat ketimbang ikan mas maupun nila. Penggemar bandeng pun lebih luas. Tekstur dagingnya keras dan rasanya gurih.
Untuk budidaya, dari benih ukuran 15 cm perlu pemeliharaan 3—4 bulan agar jadi ikan konsumsi 3—4 ekor per kg. Perbandingan rasio pakan 1:2 (untuk menghasilkan 1 kg bandeng diperlukan 2 kg pakan) menggunakan pelet.
Kalau menggunakan benih ukuran 3 inci butuh waktu 6 bulan sampai siap konsumsi. Budidaya bandeng berbeda dengan ikan mas atau nila. Kalau diberi pakan mereka langsung melahap.
Sebaliknya, bandeng penakut. Diperlukan meja penahan pakan agar tidak tenggelam. Ketika ditebari pakan, bandeng berenang menjauh. Tetapi sesaat kemudian mereka ramai-ramai kembali menyerbu pakan yang tertahan di meja.
Pakan ikan mas bisa untuk bandeng. Yang penting pakan bisa tenggelam. Bandeng diberi pakan lima kali sehari. Mulai pukul 08.00—16.00 dengan interval 2 jam. Bandeng cepat tumbuh besar di tambak payau bersalinitas 10 ppm—32 ppm.
Nener bandeng sepanjang 1,3 cm berbobot 0,01g, dalam waktu 5 bulan menjadi panjang 26 cm—27 cm dengan bobot 125 g—180 g per ekor. Bandeng umur 9—12 bulan dapat mencapai panjang 30 cm—40 cm dengan bobot 300 g—600 g per ekor.
Bandeng mampu beradaptasi dan tumbuh besar di air tawar karena memiliki sifat euryhallen (hewan yang dapat beradaptasi dengan kadar salinitas)
