Monday, November 28, 2022

Bukti Ilmiah Buah Merah

Rekomendasi

Dosis konsumsi buah merah acap menjadi pertanyaan kalangan medis. Namun, anjuran dosis itu kini ditunjang oleh riset ilmiah yang dilakukan oleh Prof Dr Elin Yulinah Sukandar dari Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB). Riset serupa yang merupakan kerjasama dengan majalah Trubus juga ditempuh koleganya, Dr Yahdiana Harahap dari Jurusan Farmasi Universitas Indonesia.

Elin, doktor Farmakologi alumnus ITB melakukan uji toksisitas akut pada mencit, Maret 2005. Ada 2 kelompok mencit yang dijadikan sebagai kelinci percobaan. Masing-masing terdiri atas 6 ekor: 3 jantan dan 3 betina berbobot 25—30 g. Mus cervicolor berumur 3 bulan itu dipuasakan selama 16 jam. Setelah itu sebuah kelompok diberi ekstrak sari buah merah dengan dosis 2 g; kelompok lain, 5 g per ekor.

Dosis pemberian itu mengacu pada OECD yang berpusat di Jepang. Lembaga itu sejak 2001 merekomendasikan 2 g sebagai dosis percobaan dari sebelumnya 5 g. Kemudian sampai 14 hari perilaku satwa yang aktif pada malam hari itu diamati. Ada 26 hal yang menjadi objek pengamatan Elin. Beberapa di antaranya apakah mencit mengalami tremor (tubuh bergetar), writhing (berjalan dengan menyeret perut), katalepsi (gangguan kemampuan menggantung), dan grooming (kaki kerap menggaruk-garuk mulut).

Hasilnya, pada mencit jantan tremor, writhing, dan katalepsi masing-masing 0%, sedangkan grooming 66,7%. Artinya ketiga gangguan itu tak ditemukan pada hewan percobaan setelah diberi ekstrak buah merah. Pada mencit betina tremor, writhing, dan katalepsi masing-masing juga 0%; grooming, 33,3%. Artinya, “Dosis itu relatif aman,” kata Prof Elin (baca: Dari Lab Jawaban Itu Datang, halaman 24). Jika dikonversi ke manusia yang berbobot 70 kg, misalnya, dosis itu setara 240 g. Volume tiga sendok makan buah merah sekitar 45 ml setara 36 g. Itu relevan dengan hasil riset Dr Yahdiana Harahap dan Dra Syafrida Siregar Apt.

Hasil uji toksisitas mereka menunjukkan, LD50 mencit jantan sekitar 2,687 g/kg bobot tubuh; mencit betina, 6,714 g/ kg bobot tubuh. “Potensi ketoksikan pada jantan, sedikit toksik dan pada betina hampir tak ada toksik,” ujar Yahdiana seperti tertera pada hasil pemeriksaan. Yahdiana sepakat dengan Elin, dosis buah merah yang selama ini banyak dianjurkan cukup aman.

“Harus ada penelitian lanjutan untuk mengetahui akumulasi konsumsi,” katanya (baca: Berlikunya Kuansu Jadi Penyembuh, halaman 16—17). Namun, menurut Drs I Made Budi MS, peneliti buah merah, secara empiris buah merah telah dikonsumsi puluhan tahun oleh masyarakat Papua. Hingga hari ini kasus keracunan atau efek negatif lain belum ditemukan dimasyarakat Papua.

Uji lain juga diperlukan untuk mengetahui ED50 alias dosis efektif konsumsi buah merah. Dari angka itulah diketahui Indeks Terapi (IT) dengan cara membagai LD50 dengan ED50. Menurut Dr Anas Subarnas dari Jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran, “Makin tinggi Indeks Terapi suatu obat berarti makin aman. Artinya jarak antara LD50dan ED50 makin jauh. LD50 semakin tinggi, artinya konsumsi buah merah yang banyak pun masih aman,” ujar alumnus Tohoku University Jepang.

Zat antikanker

Tak cuma periset dalam negeri yang tergerak untuk menyibak tabir rahasia buah merah. Nun jauh di Moskwa, Rusia, yang berjarak 9.297 km dari Jakarta, sebuah perguruan tinggi juga tekun meriset Pandanus conoideus. Meski wilayahnya terluas di dunia— 17.075.400 km2—buah merah tak tumbuh di Rusia. Profesor peneliti memperoleh ekstrak buah merah dari Drs I Made Budi MS.

Made dikenal sebagi peneliti pertama yang mengungkap kandungan gizi buah merah. “Buah merah luar biasa,” kata sang profesor seperti dikutip Made. Ungkapan itu disampaikan setelah ia mengkonsumsi sari buah merah. Semula ia menderita gangguan jantung dan kolesterol. Beragam keluhan akibat penyakit itu akhirnya teratasi. Periset negeri Beruang Merah itu berhasil menyingkap 3 senyawa antikanker.

Selama ini secara empiris buah merah memang tokcer mengganyang sel kanker. Contoh, Tejamukti—ia enggan disebut namanya—yang mengidap kanker lambung. Penyakit maut itu diidapnya sejak Agustus 2004. Sejak vonis itu setiap bulan ia dikemoterapi di sebuah rumah sakit di Singapura. Toh, sel kanker tak juga enyah. Itulah sebabnya pria 67 tahun itu berpaling pada buah merah.

Wiraswastawan itu rutin mengkonsumsi sari buah merah 2 kali sehari masing-masing 1 sendok makan. Dua bulan kemudian warga Kelapagading, Jakarta Utara, itu kembali memeriksakan diri ke dokter. “Sel kanker 6 kali lipat lebih kecil dibanding sebelumnya,” katanya. Hingga kini ia terus mengkonsumsi ekstrakkaef—sebutan buah merah bagi suku Ngalum. Penderita seperti Tejamukti jumlahnya ratusan orang dengan beragam jenis kanker dan merasakan kesembuhan berkat buah merah. Sekadar menyebut contoh, Linda Agum Gumelar yang mengidap kanker. Setelah mengkonsumsi sari buah merah Linda merasa tak gampang capai, tubuh lebih bugar.

Antiinfeksi

Sebetulnya apa sih 3 zat antikanker dalam buah merah? Maklum selama ini yang kerap dipublikasikan, buah merah kaya tokoferol dan betakaroten. Tentu ada zat di luar itu yang berperan melawan penyakit ganas. “Saya menduga banyak senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, fenol, dan glikosida,” kata guru besar Jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof Dr AR Sidik (baca: Pakar Bicara Buah Merah, halaman 16—17). Sayang, ketika dihubungi Tubus, Made menolak menyebutkan 3 zat antikanker. “Sebagai peneliti saya juga punya hak untuk menyimpan itu. Karena ini belum fi nal,” kata dosen Universitas Cenderawasih itu.

Menurut Dr Mappiratu salah zat antikanker dalam buah merah adalah xantofi l. “Dalam beberapa penelitian memang terungkap xantofi l dapat mencegah sel kanker,” ujar ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ahmad Sulaiman. Sejatinya xantofi l merupakan pigmen dalam kelompok karotenoid dan dapat memberi warna cokelat, krem, kuning, jingga, dan merah. Hasil penelitian Mappiratu yang juga dosen Universitas Tadulako, Palu, kadar xantofi l buah merah mencapai 2,5 g.

Di tengah upaya mengungkap rahasia zat penyembuh, ekstrak buah merah tetap diburu pasien untuk menyelesaikan beragam penyakit ganas. Lihatlah puluhan orang terus mengerubungi Made Budi usai seminar di Jakarta belum lama ini. Mereka antre untuk sekadar dapat menyapa Made sekaligus berkonsultasi soal pemanfaatan buah merah.

Bahkan kini bitam—sebutan buah merah bagi suku Amungme— melintasi batas-batas negara. Selain ke Rusia, Made kerap mengirimkan ke Singapura. Periset Korea Selatan dan Cina pun tergiur mengungkap tabir rahasia buah merah. Mereka minta pasokan ekstrak buah merah kepada Machmud Yahya, produsen di Wamena, Papua.

Beberapa konsumen mengirimkan sari sauk eken—sebutan buah merah di Wamena—untuk kerabatnya di Amerika Serikat, Australia, dan Belanda. Seorang pilot penerbangan nasional rutin membawa ekstrak buah merah ke Australia. Di negeri Kanguru kerabatnya menderita kanker payudara dan menggantungkan harapan pada keampuhan buah endemik Papua.

Riset memang sebuah keharusan supaya tak ada lagi pr-kontra soal faedah buah merah. Sebab, begitu banyak kasus empiris yang mesti dibuktikan secara ilmiah. Contoh, Made pernah mengamati 10 ibu hamil di Jayapura. Saban hari mereka diberi sesendok buah merah.“Pergerakan janin pada kehamilan bulan ke-4 seperti bulan ke-8. Daya tahan tubuh bagus,” katanya. Itulah sebabnya pemberian ekstrak buah merah dihentikan pada bulan ke-6 lantaran janin “hiperaktif ”.

Sayang, bukti empiris itu belum ditindaklanjuti dalam riset ilmiah. Yang sudah diuji adalah klaim buah merah sebagai antiiritasi/infeksi. Ini memang baru uji pendahuluan yang hasilnya amat menggembirakan. Prof Elin Yulinah Sukandar memanfaatkan 6 kelinci jantan berbobot 2,5 kg. Di punggung—setelah kulit dikerok—setiap kelinci disuntikkan 3 cendawan/bakteri berbeda: Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Microsporum gypseum. Menurut dr Willie Japaris Candida albicans cendawan penyebab penyakit infeksi pada saluran pernapasan, pencernaan, dan organ lain. Ia menyerang pasien yang memiliki kondisi tubuh lemah dan acap terjadi pada penderita HIV/AIDS.

Staphylococcus aureus jenis kuman penyebab infeksi kulit hingga terjadi bisul atau luka bernanah. Ia juga menyerang saluran pencernaan. Sedangkan Microsporum gypseum penyebab penyakit kulit, pemakan zat tanduk atau keratin, serta merusak kuku dan rambut. Selama 9 hari setelah penyuntikkan cendawan, Elin mengamati eritema alias pemerahan pada kulit, eschar atau luka, dan pembentukan udem atau yang populer sebagai bengkak.

Sehari setelah diberi bakteri dan cendawan, indeks iritasi sedang pada skala 4. Artinya, eritema berat dan pembentukan eschar. Namun, setelah luka diolesi ekstrak buah merah hari ke-2, skala iritasi turun menjadi 3. Iritasi itu kian mengecil dan sembuh total pada hari ke-8 dan sebagian ke-9. Sebaliknya, kelinci yang tak diolesi ekstrak buah merah hingga hari ke-9 belum juga sembuh. Saat itu indeks iritasi pada skala 2 (eritema sedang-berat) alias masih tetap mengalami peradangan. Dengan uji itu buah merah amat berpotensi sebagai antiiritasi/infeksi (baca: Dari Lab Jawaban Itu Datang halaman 24).

Klaim yang juga diuji adalah sebagai antiinfl amasi. Pada Maret 2005 Suwendar MSi dari Jurusan Farmasi ITB menguji klaim itu pada 3 kelompok mencit—masing-masing 7 ekor. Kaki kiri belakang mencit disuntik dengan 0,05 ml karagenan supaya membengkak. Penanganan setiap kelompok berlainan.

Pembengkakan kaki sebuah kelompok diatasi dengan cara mengoleskan buah merah. Setelah itu luka ditutup dengan plastik transparan. Kelompok lain diolesi dengan obat lain yang telah mapan di pasaran. Obat itu mengandung metil salisilat. Pengolesan kedua obat itu sejam, 4 jam, dan 8 jam setelah penyuntikkan karagenan. Sebuah kelompok lagi tanpa perlakuan apa pun.

Setelah itu luas pembengkakkan sebelum dan setelah pengolesan diukur dengan pletismometer. Rata-rata volume kaki pada hari ke-24 mencapai 0,023. Sedangkan pembengkakan yang diatasi dengan obat pembanding volume rata-rata 0,022. Volume kaki sebelum disuntik karagenan hanya 0,021. Hasil riset menunjukkan, buah merah tidak terlalu signifi kan sebagai obat antiinfl amasi.

Lima produsen

Enam bulan terakhir institusi riset tanahair memang mulai bergairah meneliti buah merah. Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (PSB IPB) tengah mengungkap khasiat dan kandungan buah merah. Menurut ketua PSB IPB Prof Dr Lathifa Darusman MS, riset dijadwalkan rampung sebulan mendatang. Puslitbang Farmasi, Universitas Airlangga, dan Universitas Katolik Widya Mandala juga demikian.

Pihak swasta yang mengendus peluang bisnis buah merah bergerak lebih dinamis. Contoh, buah  merah dikemas dalam kapsul. “Tak semua orang nyaman minum minyak buah merah. Dengan kapsul lebih praktis,” kata Aries Tiara dari Health Vision. Sejak Januari 2005 ia mengolah buah merah dalam bentuk hardcapsule. Produksinya 170 botol per pekan dengan volume masing-masing 30 kapsul. Hardcapsule diperoleh dari minyak buah merah. Agar bentuknya berubah menjadi bubuk, ditambahkan amilum atau sacharum laktis.

PT Rediss Papua meluncurkan produk soft capsule. Jadi minyak buah merah disimpan dalam kapsul tanpa diubah bentuknya menjadi bubuk. Menurut Dr Anas Subarnas dari Jurusan Farmasi Universitas Padjadjaran, pengkapsulan tidak mempengaruhi khasiat. Hanya dibutuhkan waktu lebih lama untuk penyerapan lantaran menunggu hancurnya kapsul. Untuk hardcapsule luluh dalam waktu 25—30 menit; soft capsule, 15— 20 menit setelah konsumsi.

Sriwidodo SSi Apt dari Farmasi Universitas Padjadjaran menyarankan inovasi produk dalam bentuk emulsi. Dengan menambahkan rasa, pengental, dan aroma pada ekstrak buah merah, anak kecil pun nyaman ketika mengkonsumsinya.

Belakangan ini bermunculan produsen baru skala pabrikan di berbagai kota seperti Jakarta, Karawang, Bogor, dan Bandung. Meski mereka harus mendatangkan bahan baku dari Bumi Cenderawasih. Standar mutu buah merah yang beredar di pasaran tentu beragam. Maklum, sampai hari ini belum ada standarisasi. Sejatinya Dinas Perindustrian Provinsi Papua telah menggelontorkan dana Rp35-juta untuk membuat standar itu. Sayang, pedoman itu belum disosialisasikan.

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) hingga 17 Maret 2005 baru 5 perusahaan yang mengantongi izin Departemen Kesehatan. Mereka adalah PT Rediss Papua dengan merek Rediss Papua, PT Trias Sukses Dinamika (Red Papua), PT Ultratrend Biotech Indonesia (Minyak Buah Merah), PT Mahkota Rizki (Sari Buah Merah), dan PT Berial Sumber Medica (Buah Merah).

Surat izin itu diteken oleh dr Niniek Soedijan, direktur Penilaian Obat Tradisional, Suplemen Makanan, Kosmetik Badan POM. Ia berkesimpulan, klaim secara tradisional buah merah membantu memperbaiki daya tahan tubuh. Salah satu produk yang diteliti Farmasi UI atas permintaan POM terbukti bebas logam berat, mikrobiologi patogen seperti Pseudomonas aureginosa dan Escherichia coli, serta penambahan zat lain seperti prednison dan piroksika. Itu berarti ekstrak buah merah layak konsumsi dan tidak membahayakan manusia. Bagi buah merah, jalan masih panjang agar dapat menyandang gelar obat. Ia mesti melewati serangkaian uji untuk membuktikan keampuhannya. (Sardi Duryatmo/Peliput: Hanni Sofi a & Karjono)

Penyelamat di Dasar Jurang

Tujuh hari hidup di jurang sedalam 100 m, Machmud Yahya bersama 6 rekannya merasa letih, pegal, dan tak bertenaga. Perbekalan juga menipis. Seminggu lalu truk yang mereka kendarai terjerumus ke jurang Elelem, Kabupaten Wamena, Papua. Itu adalah daerah pegunungan berketinggian 1.900 m dpl. Truk tidak terjerumus sampai ke dasar jurang, tertahan akar-akar pohon yang meraksasa. Toh, jarak truk tergantung dengan bibir jurang mencapai sekitar 100 m.

Dengan peralatan seadanya, truk diangkat ke atas. Namun, sulit sekali sehingga mobil cuma terangkat ratarata 7 meter per hari. Artinya, selama sepekan truk cuma terdongkrak 49 m dari lokasi kecelakaan. Siang bekerja keras, malam mereka beristirahat di jurang. Untuk mengurangi letih, seorang rekannya yang penduduk asli Wamena menyarankan Machmud makan buah merah. Tak jauh dari jurang terdapat banyak tanaman buah merah.

Pandanus conoideus itu akhirnya diolah bersama batatas alias daun ubijalar dan pakis. “Rasanya gurih,” ujar Machmud mengenang tragedi 1996 itu. Orang yang pertama mendatangkan becak ke Papua itu memang membawa peralatan masak. Tak dinyana setelah menyantap menu buah merah, pria kelahiran Ponorogo, Jawa Timur, 44 tahun silam itu dapat tidur nyenyak.

Keesokan paginya letih dan pegal hilang tak berbekas. Tenaga pun pulih. Ayah 3 anak itu merasa amat bugar. Hal sama dirasakan 6 rekannya. Pada hari ke-10 truk dapat terangkat ke atas jurang. Berbekal pengalaman naas itu, mantan guru sekolah dasar di Wamena itu mengolah buah merah sejak 3 tahun silam. (Sardi Duryatmo/Peliput: Karjono)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img