Thursday, December 8, 2022

Caiman, dari Sup Jadi Klangenan

Rekomendasi

Oleh nelayan Pantanal daging cuvier’s itu diiris tipis lalu dicelupkan ke dalam kuali dengan beberapa bumbu rempah. Cara menyantapnya sederhana: irisan daging ditelan ke mulut dengan kuah. Bagi nelayan Pantanal daging cuvier’s berwarna putih itu sumber vitalitas karena dapat memberi rasa hangat di tubuh.

Terpisah jarak ribuan kilometer, di Pondokcabe, Jakarta Selatan, jalan hidup cuvier’s lebih baik daripada kaumnya di Pantanal. ‘Jenis ini istimewa karena punya ukuran mini,’ kata Roy Genggam, kolektor reptil. Sebagai anggota keluarga Alligatoridae yang mayoritas mencapai panjang tubuh 4-4,5 m itu, cuvier’s dwarf caiman panjangnya hanya 1,3-1,5 m dengan bobot 6-7 kg. Karena ringan, ‘Jenis ini bisa digendong ke mana-mana,’ ujar fotografer itu.

Meski hidup di kawasan tropis, buaya moncong panjang berumur hingga 20 tahun itu tahan hidup pada suhu dingin 24-25° C. Harap mafhum, tubuhnya punya lapisan kulit yang keras dan tebal. Selain kulit, buaya yang menghasilkan 10-25 telur setiap kopulasi itu suka sekali makan butiran kerikil. Kerikil-kerikil punya peran sebagai penghancur makanan di lambungnya.

Kontrol piranha

Buaya mini lain adalah schneider’s dwarf caiman. Dibandingkan cuvier’s, ukuran schneider’s lebih panjang, mencapai 1,7-2,3 m. Seperti lazimnya keluarga buaya, schneider’s gemar membuka mulut untuk menakut-nakuti musuh. Di alam musuh alaminya adalah ular anakonda. Itu terutama saat schneider’s menjaga telur-telurnya yang mencapai 15 butir setiap kopulasi.

Di Surabaya, Budi Wonosasmito, juga memiliki spectacled caiman. ‘Nama spectacled diberikan lantaran di mata ada selaput, jadi terlihat seperti berkacamata,’ kata kolektor reptil itu. Tubuh Caiman crocodilus yang hidup di rawa dan sungai di Brasil itu dibalut kulit keras dan menonjol. Ukuran tubuhnya bahkan lebih besar ketimbang cuvier’s dan schneider’s: jantan 2-2,5 m dan betina 1,4 m. Tubuh besar itu memudahkannya memangsa ikan piranha. Bahkan di Venezuela buaya itu punya fungsi pengontrol populasi piranha.

Menurut Roy Genggam tren memelihara buaya mini terjadi sejak akhir 2007. Di negeri Paman Sam cuvier’s, schneider’s, dan spectacled dijadikan klangenan favorit. Untuk itu hobiis di sana membuat terarium yang tingginya sama dengan dinding rumah. ‘Terarium itu terbagi atas daratan kering dan basah, serta dihiasi tanaman air,’ kata Budi.

Selain mudah dipelihara, sifatnya yang relatif jinak membuat caiman disukai. ‘Sifatnya tak sebuas buaya muara yang ada di Luwuk Utara, Sulawesi Selatan,’ kata Halim Lowi, pakar reptil dan amphibi di Sulawesi Selatan. Di Luwuk, sepanjang 2007 C. porosus itu tercatat menelan 10 orang yang berada dekat parit. Menurut Halim di Amerika Selatan hal itu jarang terjadi. ‘Hal itu bisa terjadi saat caiman terganggu atau mengira manusia mangsanya,’ tambah Halim.

Soliter

Ketiga buaya itu tidak boleh disatukan di tempat yang sama. Maklum sebagai hewan mereka punya daerah teritori. Karena itu Budi menempatkan seekor spectacled sepanjang 30 cm dalam akuarium tersendiri berukuran 80 cm x 40 cm x 40 cm dengan ketinggian air 20 cm. ‘Tidak perlu ada daratan karena dengan air ia sudah nyaman,’ kata Budi.

Agar caiman terhindar dari penyakit, kebersihan air harus dijaga. Setiap 2 hari Budi mengganti 100% air. Cara lain, menjemur buaya di bawah sinar matahari langsung selama 15-30 menit 2 kali seminggu. Perlakuan itu juga penting untuk melancarkan sistem metabolisme caiman. Untuk pakan, ketiga caiman itu tidak pilih-pilih. Roy memberi 2 tikus putih setiap 3 hari sekali. ‘Setelah dewasa pakan diganti dengan tikus besar sebanyak 3 ekor setiap 2 kali sebulan,’ ucap Roy.

Layaknya karnivorus, ketiga buaya itu punya naluri buas. ‘Karena itu supaya jinak harus sering dipegang minimal seminggu 2 kali selama 15 menit,’ imbau Budi. Namun, saat dipegang harus memakai sarung tangan, ‘Gigi buaya itu dapat merobek kulit,’ ucap Roy. Nah, agar tenang saat diangkat, buaya perlu dipegang leher dan pangkal ekornya. Tindakan ini perlu diperhatikan semata-mata agar saat bermain dengan caiman tidak saling melukai. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img