Trubus.id — Kelimutu terkenal hingga ke mancanegara sebagai danau triwarna. Air di ketiga danau di puncak Gunung Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, itu terdiri atas 3 warna yang berubah-ubah.
Ketiga danau itu adalah Tiwu Ata Polo, Nua Muri Koo Fai, dan Tiwu Ata Mbupu yang bervolume air 1.292.000 m3. Batas ketiga danau berupa pematang sempit yang mudah longsor. Dinding pematang tegak lurus. Itulah sebabnya pematang menjadi daerah terlarang.
Pengelola taman nasional memagari sekeliling danau. Di bagian bawah pematang tampak air kekuningan karena kadar belerang tinggi. Warna air ketiga danau itu biasanya berbeda-beda—merah, hijau, dan biru—sehingga disebut danau triwarna.
Ketiga danau itu sebetulnya merupakan kawah gunung yang kemudian terisi air. Kawah itu terjadi karena letusan gunung berapi. Magma yang bersuhu hingga 3.000°C pun keluar dari perut bumi. Kelimutu 11 kali meletus antara lain pada 1860.
Cekungan di puncak gunung itulah yang terisi air dan menjadi danau. Dalam bahasa setempat “keli” berarti gunung dan “mutu” adalah arwah. Masyarakat Kelimutu percaya, ketiga danau itu merupakan tempat bersemayamnya para arwah leluhur.
Tiwu Ata Polo merupakan lokasi arwah orang jahat. Adapun Nua Muri Koo Fai tempat arwah muda-mudi. Sementara itu, Tiwu Ata Mbupu tempatnya arwah para orangtua yang bijaksana. MaE alias jiwa orang yang meninggal akan menghampiri Ratu Konde, penjaga Kelimutu.
Jiwa itu akan masuk ke danau tertentu, bergantung pada perbuatan ketika hidup. Arwah itu tak dibiarkan begitu saja. Mosalaki pu’u alias para tetua adat menyelenggarakan ritual pati ka ata mata atau memberi makan kepada arwah-arwah itu.
Di altar persembahan Perekonde, tetua adat menghidangkan nasi, daging kurban berupa babi, sirih, pinang, dan kapur untuk mereka. Objek wisata itu menjadi taman nasional pada 1997. Taman nasional itu terbagi atas beberapa area seperti zona inti, rimba, pemanfaatan, dan rehabilitasi.
