Monday, November 28, 2022

Dari Biji Jadi Jutaan Rupiah

Rekomendasi

Fissuratus itu ada di tangan Handry Chuhairy di Tangerang, Banten. Harganya pantas mahal karena penampilannya elok. Tubercle – ‘kelopak’ – yang tebal bertumpuk seperti petal mawar mekar. Warnanya hijau dengan saputan ungu. Yang membuatnya kian eksotis, ada tumpukan bulu-bulu berwarna putih kecokelatan di puncak dan tengah tubercle bak salju meleleh dari puncak gunung.

Handry mendatangkan dari nurseri di Pathumtani, Thailand, April 2009 bersama kaktus-kaktus berpenampilan indah lain. Sebut saja Astrophytum asterias ‘superkabuto’ big V berdiameter 7 cm dan Astrophytum myriostigma quadricostatum variegata. Masing-masing diboyong dengan harga Rp5-juta dan Rp3-juta. ‘Uncle Chorn (pemilik nurseri di Thailand, red), hanya menjual tanaman dewasa. Dia tidak menjual biji,’ kata Handry.

Paling banter Chorn melepas ‘anakan’ berdiameter 2,5 – 3 cm. Yang ini harganya lebih terjangkau. Handhi, misalnya, memboyong 300 astrophytum – jenis asterias dan myriostigma dengan diameter 2,5 – 3 cm. Harganya Rp200.000 – Rp300.000 per tanaman. Begitu kaktus-kaktus tanpa duri itu tiba di nurseri Rumah Pohon milik Handhi, dalam hitungan seminggu terjual setengahnya.

Biji ke sentra

‘Mengimpor biji dan membesarkan kaktus memang sebuah peluang,’ kata Dr Ir Arief Daryanto MEc, direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. Itulah yang dilakukan para pemain kaktus di Lembang, Jawa Barat. Sebut saja Pami Hernadi, pemilik nurseri Venita di Lembang, Bandung, yang mengimpor biji tanaman gurun dari Eropa sejak 1970-an. Jenisnya mammillaria, ferocactus, dan gymnocalycium.

Biji disemai dan dibesarkan. Pada umur setahun pascasemai, sosok dewasanya terlihat jelas. Mammillaria ialah kaktus berbentuk bulat dengan tubercle yang ditumbuhi duri. Ferocactus bentuknya seperti belimbing dengan jumlah rib 13 – 22. Sedangkan gymnocalycium ribnya agak membulat. ‘Semuanya tergolong kaktus berduri,’ kata Pami. Sebagian terus dibesarkan dan sebagian lain ditempel dengan batang bawah hylocereus, cereus, dan pereskia untuk memacu pertumbuhan.

Di Lembang, yang melakukan impor biji seperti Pami ada 4 – 5 pemain. ‘Karena para pemain itulah Lembang jadi sentra kaktus sejak 1980-an,’ tutur Rizal Djaafarer, pemain senior di sana. Mammillaria, ferocactus, dan gymnocalycium pun jadi kaktus ‘umum’ di tanahair. Produksi tanaman pun tidak lagi mengandalkan impor biji dari Eropa, tapi hasil perbanyakan sendiri.

Butuh rekayasa

Kaktus-kaktus hasil perbanyakan itu lantas menyebar ke konsumen di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. ‘Bisa setiap bulan beli mobil,’ kata Rizal menggambarkan sukses pemain kaktus di Lembang pada 1980-an. Pada 1990-an para pemain mulai mendatangkan ariocarpus dan astrophytum dari Jerman dan Belanda. Harga bijinya sama dengan kaktus ‘biasa’.

Apa lacur kaktus tanpa duri rupanya lebih rewel. ‘Tingkat keberhasilan semai hanya 30 – 50%,’ tutur Erminus Temmy Putra Pami yang kini mengelola nurseri Venita. Pertumbuhan pun lambat. Sekadar contoh ariocarpus asal biji mencapai diameter 1 cm setelah 3 tahun semai. Mammillaria, ferocactus, atau notocactus? Cukup semai setahun diameternya mencapai 5 – 8 cm.

Temmy mencoba memacu pertumbuhan dengan mengadopsi teknologi pekebun Jepang. Pada 2000, ia membuat rumah plastik UV kecil berbentuk kerucut. Lebarnya 2 m, tinggi 1,8 m. Panjang disesuaikan dengan bedengan. Dengan rumah plastik kecil itu suhu siang hari di atas 40oC dan malam hari kurang dari 20oC. Mirip suasana gurun. ‘Dengan perbedaan suhu siang dan malam yang lebar, memicu kaktus tumbuh cepat, berbunga, dan memproduksi banyak anakan,’ kata Dr Susiani Purbaningsih DEA, dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia.

Dengan teknologi ala Jepang itu pertumbuhan ariocarpus dan astrophytum lebih cepat 2 kali lipat. Sayang, cara itu tak diteruskan. ‘Lahan kami terlalu sempit. Dengan cara itu setiap bedengan harus dibuat rumah plastik,’ kata Temy.

Pengalaman Temmy mirip laporan yang terekam dalam US Cactus and Succulent Journal. David Tufenkian di California menyebut ariocarpus dan astrophytum superlambat dan sulit tumbuh. Supaya pertumbuhan terdongkrak ia menciptakan suasana Gurun Chihuahuan di Texas dan Meksiko di nurserinya.

Itu ditafsirkan David dengan menghindari media mengandung vermikulit karena bahan itu memegang air. Ia mengganti vermikulit dengan 75% kerikil batu apung berukuran 1/8 inci atau 3 mm. Sisanya arang dan sabut kelapa. Dengan cara itu ariocarpus berumur 1 tahun asal biji mencapai ukuran 2,5 cm. Itu tiga kali lebih cepat ketimbang Temmy sebelum mengadopsi teknik ala Jepang. Astrophytum jauh lebih cepat, bisa setara dengan jenis biasa. Dengan membuat suasana gurun pula Andreas Laras di Yunani sukses membungakan ariocarpus pada umur 5 – 6 tahun.

Cepat ludes

Oleh karena itu, ‘Orang boleh terjun ke bisnis kaktus eksklusif, tapi dengan modal utama: hobi,’ ujar Arief Daryanto. Harap mafhum. Jika memilih segmen itu pemain berarti mesti menunggu 5 – 7 tahun dari biji hingga siap jual. Artinya perputaran uang sangat lambat. Berbeda dengan bisnis kaktus ‘umum’ yang bisa panen tiap bulan sehingga perputaran cepat.

Namun, peluang sesungguhnya tetap terbentang. Tengok saja penjualan Aries Andi, pemilik nurseri Sekar Kampoeng di Yogyakarta. Pada awal Maret 2009 ia mendatangkan 100 pot retusus, fissuratus, asterias, dan myriostigma. Dalam hitungan 3 hari 69 pot terbang ke Makassar dengan total nilai Rp100-juta. Sisanya diserap hobiis di Surabaya.

Pada penghujung Maret kembali ia mendatangkan jenis serupa sebanyak 50 pot. Semua barang habis di Pameran di Surabaya dengan total penjualan Rp45-juta. Catatan penjualan Handry Chuhairy, lebih mencengangkan. Sepanjang April 2009 ia menjual 300 pot kaktus eksklusif senilai Rp600-juta ke 3 orang kolektor di Jabodetabek.

‘Dari sudut pandang ekonomi, ada yang namanya bandwagon effect dan snob effect. Di Indonesia kedua-duanya berpengaruh mendongkrak harga komoditas eksklusif,’ kata Arief Daryanto. Yang disebut pertama permintaan produk tinggi karena sedang populer. Sedang yang kedua permintaan tinggi karena benar-benar eksklusif, mahal, dan bisa meningkatkan status pemilik.

Artinya, pemain yang menerjuni bisnis seperti itu mesti memilih produk yang benar-benar eksklusif dan harus berusaha menjadi trend setter. Itu jelas sulit dan butuh waktu lama, makanya mesti bermodal hobi. Nurseri Uncle Chorn di Thailand konsisten menggeluti bisnis kaktus biasa dan eksklusif sejak 40 tahun silam. Kini mereka kebanjiran order karena euforia mengoleksi kaktus eksklusif di Jepang menyebar ke negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. ‘Itu namanya contageous effect alias menularnya sebuah tren dari satu daerah ke daerah lain,’ tutur Arief.

Arief bahkan memasukan kaktus eksklusif sebagai barang ostentation. Artinya, ada kecenderungan permintaan tinggi bila harganya juga tinggi. Sebaliknya bila harga rendah konsumen tidak menginginkan produk tersebut.

Pendapat itu diamini Dr Ir Ratya Anindita MS, pakar ekonomi dari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. ‘Harga kaktus eksklusif menjadi tinggi karena kombinasi 2 keadaan: sedang tren dan jumlah terbatas,’ katanya. Peluang mengembangkan tetap ada sepanjang jumlah pemasok jauh lebih sedikit ketimbang permintaan. Hanya saja perlu dipertimbangkan antara biaya produksi mengembangkan dibanding impor dari negara lain. ‘Pilih yang risikonya paling sedikit,’ tambah Ratya.

Kaktus massal

Lalu bagaimana pasar kaktus massal? Rizal Djaafarer menyebut bisnis kaktus massal sebagai sebuah komoditas seperti anggrek. ‘Selalu ada permintaan dan tidak terpengaruh tren,’ katanya. Ia menyebut setiap bulan sejak 1990-an keluar 150.000 pot kaktus massal ke berbagai daerah di luar Jawa. Sebut saja Medan, Bukittinggi, Pekanbaru, Lampung, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Manado, Bali, dan Lombok.

Toh, meski permintaan ajek tetap ada peluang bagi pemain baru untuk masuk. Erik Aryanto, mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Padjadjaran, terjun ke bisnis kaktus 4 tahun silam. Pemuda yang tinggal di Lembang itu membuka pasar mammillaria, echinopsis, dan echinocactus melalui blog pribadi sejak 2005 ia menjual 3.000 – 4.000 pot kaktus per bulan ke Batam, Medan, hingga Jayapura.

Pramana Abdul Gani di Cimanggis, Depok, mulai menekuni bisnis kaktus pada 2006. Ketika itu penjualannya 2.000 pot per bulan. Harga Rp5.000 – Rp10.000 per pot. Pada 2008, volume naik jadi 5.000 pot per bulan. Itu belum termasuk penjualan pada pameran akbar Flora dan Fauna 2008 senilai Rp200-juta. Kini penjualannya 8.000 – 10.000 pot per bulan.

Jadi seperti kata Arief, peluang pengembangan kaktus tetap terbuka sepanjang karakter budidaya dan bisnisnya dipelajari. Itulah yang dilakukan para pionir pengembangan kaktus di Lembang dengan mengimpor biji kaktus dari negeri-negeri Eropa. Karena dari biji nantinya jadi jutaan rupiah. (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yazri, Imam Wiguna, Nesia Artdiyasa, Rosy Nur Apriyanti, dan Tri Susanti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Bisa Jadi Pilihan Petani, Ini Kelebihan Varietas Cabai Jacko 99

Trubus.id — Pilihan varietas cabai menjadi salah satu penentu hasil panen yang akan didapatkan. Oleh karena itu, petani harus...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img