Sunday, August 14, 2022

Dongkrak Imunitas,Lawan Virus Korona

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Beberapa tanaman obat seperti kunyit, temulawak, bawang lanang, secang, dan lada hitam berkhasiat meningkatkan sistem imun tubuh. (Dok. Trubus)

Virus korona mewabah dan merenggut 49 nyawa di antara 579 kasus. Konsumsi tanaman obat tertentu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Trubus — Ativitas Dr. Bayu Krisnamurthi, M.Si seabrek. Wakil Menteri Perdagangan pada Kabinet Indonesia Bersatu II itu antara lain menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor, pembicara di berbagai seminar dan lokakarya, serta mengelola yayasan. Namun, sejak 16 Maret 2020 warga Kota Bogor, Jawa Barat, itu mengurangi kegiatan di luar rumah. Kota Bogor menjadi zona merah penyebaran virus korona atau Corona virus disesase 19 (Covid-19).

Sampai 22 Maret 2020 terhitung 514 penderita positif terinfeksi. Dari jumlah itu, 48 meninggal sementara 29 penderita pulih. Penyebaran penyakit korona terjadi di 20 provinsi. Tiga kasus terbanyak adalah DKI Jakarta yang mencapai 307 kasus, Jawa Barat (59), dan Banten (47 kasus). Bayu menjaga kebugaran dengan berjalan kaki minimal 40 menit per hari. Doktor Ekonomi Pertanian alumnus Institut Pertanian Bogor itu juga mengonsumsi rimpang kunyit dan jahe.

Tanaman obat

Periset di B2P2TOOT, Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P. (Dok. Pribadi)

Beragam rimpang yang dikonsumsi Bayu antara lain kunyit Curcuma domestica dan jahe Zingiber officinale mengandung senyawa kurkumin. Demikian juga rimpang temulawak Curcuma xanthorriza. Menurut periset di Balai Besar Penelitian dan Pengembang Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Kementerian Kesehatan, Dr. Ir. Yuli Widiyastuti, M.P. senyawa kurkumin berperan ganda, yakni menjadi “sponsor” pembentukan ACE-2 sekaligus menghambat perbanyakan virus. Kurkumin menghambat pembentukan asam amino yang berperan dalam mekanisme penggandaan virus, antara lain PI3K/Akt atau NF-kB.

Apa itu ACE-2? ACE-2—singkatan dari angiotensin converting enzyme 2—adalah enzim yang diproduksi tubuh untuk mencegah kerusakan sel, peradangan, melindungi sel jantung, serta menyelubungi organ-organ vital untuk menjaga kinerjanya. Bisa disimpulkan bahwa ACE 2 adalah enzim “baik” yang bermanfaat bagi tubuh. Ahli virus dari Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. dr. Sri Budiarti menyatakan, Covid-19 menempel secara spesifik di permukaan sel inang yang memiliki reseptor ACE-2.

Budiarti mengatakan, reseptor ada di beberapa bagian tubuh manusia seperti sel epitel alveolus paru-paru, usus kecil, sel permukaan pada jaringan pembuluh darah, jantung, serta ginjal (baca: “Kuat Saat Korona Mewabah” halaman 18—19). Hal serupa dinyatakan peneliti di Department of Biochemistry University of Washington, Alexandra Walls dan rekan. Dalam jurnal Cell Press, ia mengungkap bahwa virus korona mengikat enzim ACE 2 untuk melekat di sel epitel alveolus paru-paru. Pantas virus korona membawa protein untuk menangkap enzim penting itu demi menembus pertahanan sel.

Ketua Perkumpulan Dokter Penganjur Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, M.Si. (Dok. Pribadi)

Laporan Alexander, “Structure, Function, and Antigenicity of the SARS-CoV-2 Spike Glycoprotein” itu menyebutkan setelah protein dari virus itu mengikat ACE-2, antibodi alias sistem kekebalan tubuh tidak lagi mengenalinya sebagai “musuh”. Menurut Ketua Perkumpulan Dokter Penganjur Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr. Inggrid Tania, M.Si, ada dua jenis ACE-2 yaitu menempel di permukaan sel (fixed) atau dapat larut dalam darah (soluble).

Bentuk kedua itu yang mampu memberangus virus korona “ACE 2 soluble salah satu kandidat antivirus yang mampu mencegat virus agar tidak melekat ke ACE 2 fixed di permukaan sel,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Artinya, ACE-2 dalam darah menahan “tangan” virus yang semula akan menggandeng ACE-2 fixed. Virus tidak lagi bisa menggunakan “tangan” itu untuk menempel di sel target.

Yuli Widiyastuti menuturkan, kurkumin meningkatkan mensponsori pembentukan ACE-2 dalam darah. “Sejak ditemukan 200 tahun lalu kurkumin terbukti bersifat antiradang, antikanker, antihiperglikemia, antioksidan, dan antibakteri,” ungkap Yuli kepada Trubus. Khasiat antiradang itu lantaran kurkumin mampu menghambat pelepasan sitokin proinflamasi. Menurut dr. Budiarti sitokin merupakan senyawa sinyal untuk memperbanyak sel imun. Namun, bila sitokin terlalu banyak berdampak merusak sel. Kondisi itu disebut badai sitokin.

Dokter ahli paru-paru di Jakarta, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K).

Infeksi virus menyebabkan peradangan jaringan yang memicu “badai” sitokin. Badai itu menerpa sel lain sehingga memperluas kerusakan. Kehadiran kurkumin menangkap sitokin sebelum menghantam sel berdekatan sehingga mencegah kerusakan meluas.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Jakarta, Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc, Sp.P(K) menyatakan, virus korona (severe acute respiratory syndrome corona virus 2, SARS-CoV-2) menyerang organ pernapasan. Itu sebabnya gejalanya mirip penyakit influenza yang juga menargetkan bagian sama. Erlina (55 tahun) mengatakan, tubuh berupaya melawan infeksi virus itu dengan memproduksi dahak. Pasien yang datang mengeluhkan gangguan pernapasan seperti sesak napas atau batuk maka tim medis akan memeriksa sampel dahaknya.

“Hasil tesnya menjadi dasar memutuskan seseorang terjangkit virus korona atau tidak,” ungkap doktor lulusan Universitas Indonesia itu. Erlina sekaligus meluruskan pemberitaan media yang menyatakan, pembeda gejala korona dan flu biasa adalah diare atau muntah. “Hanya pemeriksaan laboratorium yang bisa memastikan,” ujar Erlina. Para penganjur herba seperti dr. Sidi Aritjahja di Yogyakarta menyarankan konsumsi rimpang yang mengandung kurkumin untuk menangkal infeksi SARS-CoV-2.

Tiga kali sepekan

Di media sosial pada 16—17 Maret 2020 juga beredar informasi bahwa virus korona memasuki jaringan tubuh inangnya melalui reseptor enzim ACE-2. Itulah pemicu kontroversi konsumsi kunyit (baca boks: Kontroversi Kurkumin). Kandungan senyawa aktif dalam rimpang-rimpang itu tidak tunggal, bukan hanya kurkumin. Rimpang temulawak, misalnya, mengandung xantorizol dan minyak asiri. Sementara itu jahe juga mengandung gingerol yang efektif menghambat peradangan.

Menurut dr. Sidi Aritjahja, virus korona tidak bisa berkembang dalam tubuh orang yang rutin mengonsumsi kurkumin. “Virus juga ada masa hidupnya, selewat itu pasti mati. Lewat masa inkubasi 7—15 hari virus akan mati sendiri, termasuk virus korona,” kata dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu. Sidi menganjurkan konsumsi rimpang yang mengandung kurkumin. Ia menyarankan menambahkan kayumanis, cengkih, adas, atau kapulaga untuk memberikan rasa.

Selain kurkumin, kandungan gingerol jahe menghambat peradangan.

Dokter-dokter lain juga menganjurkan konsumsi kurkumin. Sementara itu dokter di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, dr. Danang Ardiyanto meresepkan meniran Phyllantus niruri untuk mendongkrak sistem kekebalan tubuh (baca “Resep Tiga Dokter” halaman 14—15 ). Namun, Sidi menekankan bahwa konsumsi kurkumin itu cukup 2—3 kali sepekan. “Aktivitas herba mampu mempertahankan daya tahan tubuh untuk 2—3 kali 24 jam. Sekali konsumsi efeknya bertahan 2—3 hari. Konsumsi setiap hari malah merepotkan,” katanya.

Konsumsi herba itu penting karena tubuh setiap hari tidak hanya terpapar virus, tapi juga polusi ketika berada di jalan. Menurut Sidi herbal memiliki kemampuan sebagai imunomodulator. Artinya dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh. Tak ada salahnya kita meracik ramuan itu sendiri. Syaratnya menggunakan alat yang terbuat dari tanah liat, porselen, besi nirkarat, atau enamel. Menurut dr. Danang Ardiyanto komponen kebugaran jasmani antara lain kekuatan, kelenturan, komposisi tubuh, daya tahan, dan kebugaran kardiovaskuler.

Para dokter mempunyai anjuran lain. “Perkuat imunitas agar virus tidak bisa menyerang sel tubuh,” kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia. Sp.PD, KR, FINASIM. Menurut Nyoman tubuh sehat menjadikan sel-sel kuat sehingga virus tidak mampu menembus membran sel. Menurut Erlina Burhan kekebalan tubuh juga mengawal sistem pernapasan. “Semua yang dilalui aliran darah pasti terlindung sistem kekebalan tubuh, termasuk saluran napas,” kata Erlina.

Harga membubung

Di tengah gaduh pandemi korona, banyak beredar anjuran mengonsumsi rimpang herbal. Dr. Sidi sampai mengunggah resep ramuan di laman media sosialnya. Anjuran minum rimpang itu mengena bagi banyak orang. Efeknya harga jadi melonjak tinggi. Meski konsumsinya tidak perlu banyak dan cukup 3 kali sepekan. Lihat saja masyarakat banyak yang menyerbu bahan herba.

Di pasar Kemirimuka, Kota Depok, pedagang bahan herba kehabisan dagangan. Kondisi serupa juga terjadi di pasar induk Kramatjati, Jakarta Timur. Tidak hanya warga ibu kota yang memborong bahan herbal. Masyarakat Yogyakarta pun melakukan hal sama. Pedagang herbal di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Purwoto, kewalahan. “Sejak buka sampai sekarang belum sempat duduk,” katanya kepada Trubus pada 5 Maret 2020.

Pedagang bahan herba di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Purwoto.

Ia tidak bisa terlalu lama meladeni pertanyaan lantaran pembeli terus membanjir. Di dalam kios, dua rekannya sibuk membungkus berbagai herba ke dalam kantong plastik transparan. Mereka menakar dan mencampur berbagai herbal lalu memasang berbagai label. Yang ramai dicari saat itu tentu saja campuran jahe emprit, kunyit, temulawak, kulit secang, dan kayu manis yang mereka labeli sebagai empon- empon korona.

Sayang, hari itu peracikan herba korona itu terhenti lantaran kehabisan jahe. Kondisi serupa juga terjadi di kios lain. Menurut pemilik kios lain di Beringharjo, Syamsiyah, pemasok menjanjikan mengirim jahe sore itu. “Tapi belum tentu juga karena beberapa hari ini berebut,” katanya. Kondisi itu keruan saja memicu kenaikan harga. Temulawak yang semula hanya Rp7.000 per kg melonjak menjadi Rp15.000.

Jahe yang menjadi bahan utama hampir semua minuman harganya melejit menjadi Rp50.000 dari semula Rp35.000. Menurut Purwoto kenaikan harga tidak terhindarkan karena permintaan bertambah. Apalagi banyak permintaan itu datang dari luar daerah. Agar lebih praktis, Nyoman Kertia menyarankan mengonsumsi ekstrak. Dengan konsumsi rimpang, kekebalan atau imunitas tubuh terdongkrak dan kesehatan terjaga. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhamad Fajar Ramadan, Sardi Duryatmo, & Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img