Sunday, January 25, 2026

Dua Sisi Bisnis Briket

Rekomendasi
- Advertisement -

Saat pandemi korona, bisnis briket tempurung kelapa bagai dua sisi. Ada yang permintaan melambung, ada pula menunda pengiriman.

Bisnis briket bakal kembali berkibar usai
pandemi. (Dok. Trubus)

Trubus — Pandemi virus korona juga melanda banyak negara di Eropa. Namun, pemberlakuan karantina akibat pandemi virus korona justru memicu kenaikan permintaan briket untuk barbekyu. “Spanyol dan Italia yang parah terserang korona pun rutin meminta kiriman,” kata Asep Jembar Mulyana yang rutin mengekspor briket ke Eropa. Produsen di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu mengembangkan briket di bawahbendera PT Tom Cococha.

Asep Jembar Mulyana mengajak produsen lain memenuhi permintaan pasar. (Dok Trubus)

Pandemi korona yang mendunia sejak awal 2020 tidak menyurutkan permintaan yang Asep terima. “Malah meningkat 25%,” kata ayah tiga anak itu. Permintaan kafe shisha yang anjlok tertutup oleh permintaan untuk kebutuhan rumah tangga yang melonjak. Saat Trubus menghubungi Asep pada April 2020, ia menyatakan kondisi itu berlangsung kira-kira dua bulan terakhir. Apalagi pada bulan-bulan itu sebagian Eropa tengah mengalami peralihan dari musim dingin ke musim semi.

Potong tata niaga

Asep Jembar Mulyana mesti mengirim 3.000 ton per musim atau 12.000 ton per tahun ke rekanan di Jerman. Sementara itu permintaan dari Timur Tengah dan salah satu marketplace internasional tidak tertangani. “Permintaan untuk barbekyu dan shisha saja belum terisi. Jepang dan Korea pun mulai menggunakan briket sebagai bahan bakar pembangkit listrik,” kata Asep yang berbisnis briket selama 19 tahun.

Ketua Umum Perpaki, Yogi Abimanyu. (Dok. Trubus)

Meski kapasitas produksi rata-rata 1.000 ton per bulan, ia kewalahan melayani permemintaan. Asep mengutamakan rekanan lama dulu. Ia mempersilakan pengusaha lain mengisi permintaan yang masuk belakangan. Pebisnis briket lain, Yogi Abimanyu (41) merasakan hal serupa. Membawa bendera Kaya Synergy Ltd, Abimanyu menyasar Turki lantaran bekas wilayah Dinasti Abbasiyah itu merupakan jembatan strategis.

Dari sana, Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa Timur, Kaukasus, dan Federasi Rusia berada dalam jangkauan. Tambahan lagi, penjualan dari mancanegara memangkas peran perusahaan perantara yang selama ini menjadi pemain utama sekaligus pemetik laba terbesar perniagaan briket tempurung internasional. Itu sebabnya, “Harga jual di sana bisa dua kali lipat harga di sini (Indonesia, red.),” katanya.

Pada Januari 2020, ia menyewa gudang dan merekrut pemasar lokal di Turki. Keputusan mendirikan perusahaan penjualan briket di Turki itu tidak muncul dalam semalam. Abimanyu mengumpulkan informasi dari diaspora—perantau Indonesia yang menetap di sana—selama hampir dua tahun. Dari berbagai informasi, Abimanyu berkesimpulan, “Ada peluang meraup omzet US$2 miliar per tahun, tapi yang terisi belum sampai separuhnya,” kata Yogi. Pada Januari 2020, Abimanyu secara legal membuka perusahaan di Turki.

Menurut ketua umum Perhimpunan Pengusaha Arang Kelapa Indonesia (Perpaki) itu selama ini peluang dan kemudahan itu justru ditangkap pengusaha mancanegara. Margin besar menjadikan mereka bisa menghimpun cukup modal untuk membuka perusahaan di tanah air.

Menunda pengiriman

Tidak semua produsen seberuntung Asep. Produsen di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sandilla Tristiany saat ini menghentikan produksi. Musababnya ia harus mengikuti anjuran pembatasan sosial dari pemerintah. Maklum, pabrik miliknya padat karya. Pekerja harus berdekatan saat mencetak, memotong, atau mengemas briket. “Pesanan yang telanjur masuk saya minta penundaan pengiriman,” katanya.

Arang tempurung harus masuk daftar negatif investasi asing. (Dok. Trubus)

Menurut Abimanyu pandemi memukul telak banyak produsen briket tempurung. Penyebabnya permintaan pembeli berkurang akibat karantina maupun perlambatan ekonomi. Alumnus jurusan Marketing dari Curtin University, Australia, itu menutup sementara kantor di Turki lantaran banyak pembeli menunda pesanan.

“Untung sewa gudang di sana sistemnya bulanan,” katanya. Tantangan lain adalah gencarnya pemodal asing yang menerjuni bisnis briket. Sejak tahun lalu, Abimanyu meminta pemerintah memasukkan arang tempurung ke dalam daftar negatif investasi. Ekspor arang tempurung mentah juga menjadi ancaman.

“Kalau tidak ada regulasi dan penegakan yang tegas, saya memperkirakan sebentar lagi kita kehabisan arang tempurung karena semua diekspor,” katanya. Ia yakin pandemi bakal berlalu dan permintaan kembali mengalir. Apalagi briket adalah bahan bakar yang habis sekali pakai. Pembeli yang membutuhkan pasti membeli lagi. (Argohartono Arie Raharjo)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img