Ikan kelabau, ikan konsumsi hasil domestikasi berkualitas unggul.

Sajian sup iwak kelabau itu terhidang menggugah selera. Porsinya cukup besar, bisa dinikmati satu keluarga beranggota 4—6 orang. Padahal, bahannya hanya 1 ikan. Ukurannya memang lumayan, dengan bobot 1—4 kg per ekor. Habitat kelabau di sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Masyarakat Kalimantan familiar dengan kelabau, ikan air tawar yang enak dan gurih.
Nilai ekonominya cukup tinggi, mencapai Rp35.000—Rp40.000 per kg, jauh mengungguli ikan mas yang hanya Rp22.000—Rp24.000 per kg. Sayangnya, populasi ikan endemik Kalimantan dan Sumatera itu semakin menurun akibat pencemaran dan penangkapan tak terkendali. Akibatnya semakin sulit menjumpai ikan itu di perairan umum. Setidaknya ada 17 spesies ikan kelabau yang tersebar di berbagai area seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera, Malaysia, Vietnam, Myanmar, dan Sulawesi.
Sukses memijahkan

Ikan endemis ini dikenal sebagai Osteochilus kelabau dan O. melanopleuru yang memiliki performa dan tampilan mirip ikan nilem O. vittatus yang lebih dulu dikenal masyarakat. Ikan kelabau dapat mencapai bobot 1—4 kg per ekor. Habitat ikan kelabau di alam adalah perairan sungai, anak sungai, atau danau bekas aliran sungai dan bersembunyi di rimbunan tanaman yang tumbuh di perairan.
Seperti ikan lain, reproduksi ikan kelabau, baik di alam maupun di penangkaran, memerlukan tempat khusus yang terlindung. Sayang, penurunan kualitas lingkungan akibat aktivitas manusia membuat lingkungan terlindung yang mendukung reproduksi kelabau langka dijumpai. Efeknya populasi ikan kerabat ikan mas itu merosot. Dampaknya ikan kelabau pun langka. Itu sebabnya peneliti berusaha mempelajari teknik budidaya kelabau.
Salah satunya dengan domestikasi ikan yang berasal dari alam sekaligus penguasaan teknologi pembenihannya. Teknologi pembenihan itu vital bagi pembudidaya agar budidaya dapat simultan dan menjadi usaha yang menguntungkan. Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Mandiangin, Kecamatan Karangintan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mempersiapkan indukan sejak 2011 dari tangkapan alam berbobot 250—300 gram.

Selama pemeliharaan dan pembibitan, para periser memperkenalkan ikan dengan pakan pelet, sehingga mulai beradaptasi dengan pakan buatan. Satu tahun kemudian, ketika ikan berbobot 1 kg, periset berupaya memijahkan. Satu induk jantan membuahi 2—3 induk betina. Keberhasilan pembuahan dalam suhu 26—28°C antara 84,23—97,41%. Tingkat kelulusan hidup di akuarium 86,30—91,94%, sedangkan di kolam pendederan hanya 30—45%.
Musababnya benih ikan kelabau enggan makan pelet lantaran sifatnya di alam adalah herbivora. Pakan utamanya tumbuhan, ganggang hijau, dan fitoplankton. Saat uji coba budidaya di karamba apung, jala karamba bersih dari lumut dan ganggang karena dimakan ikan. Kelabau memerlukan habitat dengan pH normal 6,5—8, salinitas 11 ppm, dan oksigen terlarut 5—8 ppm. Ikan mampu hidup pada suhu air 15—290C dengan kisaran optimal 23—28,50C.
Hemat pakan

Rasio pakan atau FCR cukup rendah, hanya 1,4. Bahkan pada penelitian lain hanya 0,897. Artinya untuk menghasilkan 1 kg daging ikan kelabau, peternak hanya memerlukan 0,897 kg pakan. Panjang betina dewasa mencapai 29 cm, sedangkan jantan dewasa 26 cm. Tingginya tidak melebihi panjang tubuh. Bentuk dan sifat ikan anggota keluarga Cyprindae itu mirip ikan mas dengan pertumbuhan optimal di air deras.
Periode pemijahan pada musim hujan, antara bulan November hingga Maret. Ikan itu tahan penyakit virus herpes koi (KHV) dan aeromonas, penyebabnya diduga karena ikan liar atau hasil tangkapan liar yang melalui domestikasi sehingga masih memiliki kekebalan tubuh yang tinggi. Masyarakat mengonsumsi ikan itu ketika bobotnya mencapai 1 kg. Saat itu tekstur daging tebal dan lembut dengan rasa mirip ikan bawal dan sedikit sensasi gurih.

Sayangnya ikan kelabau membutuhkan waktu budidaya yang cukup panjang. Untuk mencapai bobot itu perlu waktu 8—12 bulan, jauh lebih lama dibandingkan dengan ikan konsumsi lain. Ikan mas, misalnya, hanya membutuhkan 3—4 bulan hingga siap panen. Hal itu mungkin karena sifat asli ikan lokal yang tingkat pertumbuhannya lambat. Domestikasinya juga baru mulai ikan belum terbiasa mengonsumsi pakan buatan atau pelet.
Kendala lain adalah ketersediaan air dengan kualitas bagus di Kalimantan hanya 3—5 bulan, sedangkan waktu budidaya kelabau mencapai satu tahun. Pertimbangan itulah yang membuat pembudidaya ikan berpikir 2 kali untuk membudidayakan kelabau. Pembudidaya lokal yang mencoba membesarkan tersebar di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Minimnya pembudidaya membuat pasokan kelabau baru mencapai rumah makan dan pasar modern.
Sampai kini baru BBAT yang mampu memproduksi benih secara massal. Kini tim BBAT tengah merekayasa ikan kelabau genjah yang kecepatan tumbuhnya mendekati atau sama dengan ikan mas, sekitar 4 bulan. Jika terwujud, inovasi itu akan menarik banyak pembudidaya mengembangkan ikan endemik unggulan Kalimantan itu. (Juliansyah SPi MP, peneliti di Balai Budidaya Air Tawar Mandiangin, Banjar, Kalimantan Selatan)
