
Setandan buah aren yang ditunjuk Sunan Bonang bagai emas di mata perampok Lokajaya. Nyatanya aren memang emas hijau karena hampir semua bagian tanaman itu bernilai ekonomi tinggi. Mayang aren sohor sebagai penghasil nira, bahan baku gula dan bioetanol.
Tanaman aren tipe dalam yang sebagian besar tersebar di sentra-sentra aren tanahair biasa disadap umur 10 tahun dan mampu menghasilkan 20 liter nira per hari. Bila diolah setara dengan 2,5 kg gula atau 1,4 liter bioetanol berkadar 90%. Harga sekilo gula aren Rp7.000; sedangkan bioetanol, Rp9.000 per liter. Bila pekebun menyadap nira dari 100 tanaman, omzet yang didapat mencapai angka hampir Rp2-juta per hari dari penjualan gula aren atau Rp1-juta per hari dari pengolahan bioetanol.
Batang aren Arenga pinnata juga mengandung tepung sebagai sumber karbohidrat atau energi terbarukan. Buah aren alias kolang-kaling merupakan bahan makanan favorit bagi hampir semua kalangan. Daun tanaman anggota famili Arecaceae itu bahan baku kertas pembungkus olahan makanan. Singkat kata aren multiguna dan bernilai ekonomi tinggi. Produksi lama? Aren tipe dalam memang baru berproduksi ketika berumur 8–11 tahun ketika tanaman menjulang 15 meter.
Bersosok katai
Namun, sekarang calon pekebun punya pilihan baru. Dari eksplorasi oleh Balai Penelitian Tanaman Kelapa dan Palma Lain (Balitka) di Manado, Sulawesi Utara, ditemukan aren genjah yang berproduksi perdana pada umur 5 tahun. Pada saat itu, tinggi tanaman kerabat kelapa itu hanya 3–4 meter sehingga memudahkan pekebun untuk menuai nira atau buah. Harap mafhum, memanjat aren tak semudah kelapa karena sekujur batang penuh bekas pelepah. Pekebun memanfaatkan sebatang tangga bambu untuk memanjat.
Menurut peneliti Balitka, Ir Elsje T. Tenda, MS, di Indonesia populasi aren genjah sangat sedikit, di sentra aren sekali pun. Biasanya keberadaannya tercampur dengan tanaman aren tipe dalam. Elsje dan rekan mengunjungi sentra aren di Desa Peridan, Kecamatan Sangkuliran dan Desa Kandolo, Kecamatan Telukpandan, keduanya di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Pekebun di Kandolo belum membudidayakan aren secara intensif. Mereka menanam aren bukan sebagai tanaman utama atau monokultur, tetapi bercampur dengan tanaman lain seperti jagung, pisang, kakao, dan kelapa. Umur tanaman pun beragam. Alumnus Universitas Sam Ratulangi itu menemukan perbedaan mencolok pada tanaman aren di dua desa itu. Sosok aren di Desa Peridan, cenderung tinggi, hingga 15 meter dan waktu sadap pertama ketika berumur 12 tahun.
Adapun penampilan aren di Desa Kandolo, relatif pendek dan waktu sadap pertama lebih cepat, saat tanaman berumur 5–6 tahun. Tanaman aren genjah di Kandolo itu tersebar di lahan milik masyarakat seluas 60 ha. “Tanaman aren di Peridan termasuk tipe dalam, sedangkan di Kandolo tipe genjah,” kata Elsje.
Varietas baru
Aren genjah yang siap sadap pada umur 5–6 tahun itu mampu menghasilkan mayang setiap 2,5 bulan. Setiap mayang menghasilkan lebih dari 12 liter nira setiap hari dan waktu penyadapan lebih dari 2,5 bulan. Artinya dalam kurun 2,5 bulan, mayang akan terus memproduksi nira. Produksi nira aren genjah memang lebih rendah daripada aren dalam yang mencapai 20 liter per hari. Namun, panen nira pada aren dalam lebih lama, saat tanaman berumur 10–12 tahun.
“Jadi, pekebun tidak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk mendapatkan nira. Toh, bila diakumulasikan produksi nira aren genjah tak jauh berbeda dengan aren dalam. Justru dengan hadirnya aren genjah ini, pekebun bisa lebih cepat mendapatkan keuntungan,” kata Ir Ismail Maskromo, MSi, peneliti Balitka. Aren genjah itu lolos sebagai varietas unggul lokal pertama di Indonesia dengan nama kutim, singkatan dari Kutai Timur, wilayah tempat ditemukannya.
Menurut Elsje aren genjah di Kandolo terjadi karena adanya seleksi secara alami. Tanaman aren di desa itu memang murni berkarakter genjah dan hanya ditemukan di Kandolo. Masyarakat setempat memperbanyak penanaman aren genjah dengan memanfaatkan bibit yang tumbuh di sekitar tanaman induk. Kepala Dinas Perkebunan Kutai Timur, Ir H Akhmadi Baharuddin, MM, aren genjah berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber pendapatan utama bagi pekebun.
Sejak lolos sebagai varietas unggul lokal pada Juli 2011, permintaan bibit aren genjah terus mengalir. Padahal surat keputusan dari Kementerian Pertanian belum turun. Namun, Balitka dan Dinas Perkebunan setempat belum bisa memenuhi seluruh permintaan karena ketersediaan bibit masih terbatas. Saat ini jumlah pohon induk hanya 30 tanaman.
Untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jangka panjang, Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Timur akan membuka 5 ha lahan untuk ditanami tanaman induk aren genjah. Selain itu, dinas juga membuka 10 ha lahan kebun produksi yang akan dikelola secara intensif oleh pekebun di bawah pengawasan dinas. Dinas juga memberikan pembinaan mengenai budidaya aren genjah secara baik dan benar pada pekebun sehingga hasil panen yang diperoleh optimal. Dengan begitu, lebih banyak pekebun dapat panen emas hijau lebih cepat. (Andari Titisari)
