Monday, November 28, 2022

Gamako Cup X Kembalinya si Legendaris

Rekomendasi

Empat juri di final anis merah master menancapkan 4 bendera merah di bawah gantangan No. 12. Untung, punglor merah andalan Aay, dinobatkan terbaik di kelas paling bergengsi itu. Sang pemenang pun berhak memboyong piala bergilir Gamako Cup X.

antas Aay tersenyum bahagia. Sejak pertengahan lomba hatinya selalu was-was karena Untung tampil tidak maksimal. Ia hanya berhasil merebut juara 2 dan 3 di kelas eksekutif dan bintang anis merah. “Lawannya berat-berat. Hati saya dag dig dug saat Untung tampil,” ujar Aay. Keadaan berbalik ketika Untung bertarung memperebutkan piala bergilir.

ubuhnya di doyongkan ke depan. Ekor ditarik ke atas, lalu melompat ke kiri dan ke kanan sambil berkicau keras. Tidak terlihat sama sekali kelelahan setelah bertarung di kelas eksekutif dan bintang. “Itu ciri khasnya saat teler,” ujar Aay. Dengan gaya seperti itu, Untung mengalahkan saingan terberatnya: Dewa Fortuna dan Walet masing-masing jagoan Hansen dari Sukabumi dan H Irwan dari Bandung.

eru

Untung bukan pendatang baru di arena Gamako Cup. Ia pernah mengantarkan piala bergilir itu 2 kali berturut-turut ke tangan Aay. Pada Gamako Cup VII dan VIII Untung tampil gemilang di final master anis merah sehingga namanya melegenda. Sayang, pada 2003 piala itu berpindah tangan ke Starlet, anis merah milik H Rusdy Edi. “Wajar tahun ini ia menang kembali. Untung punya mental juara. Padahal biasanya anis merah tampil labil,” ujar Rusdy Latief, hobiis dari tim Vini Vidi Vici Bird Club.

erjalanan lomba di kelas anis merah berlangsung seru sejak tengah hari. Bintang, anis merah andalan Rusdy Latief hampir saja mencetak hattrik—menang 3 kali berturut-turut— di kelas anis merah. Ia meraih juara I di kelas eksekutif A mengalahkan 56 jagoan dari berbagai kota. Sukses Bintang semakin mengejutkan saat tampil di kelas bintang D dan merebut gelar terbaik.

ayang, di kelas bintang B ia gagal tampil maksimal lantaran lelah. Singgasana juara di kelas bintang B harus rela diserahkan kepada Alligator, anis merah klangenan Roni Wijaya, hobiis di Surabaya. Itu pula yang terjadi saat memperebutkan piala bergilir. Bintang harus mengakui keunggulan Untung yang pernah dikalahkan di kelas eksekutif. “Hampir saja Bintang mencetak hattrick. Namun, saya puas ia bisa mengalahkan burung juara dan dikalahkan burung juara,” ujar Rusdy.

Ketat

Persaingan di kelas eksekutif murai batu juga berlangsung ketat. Rolet, jagoan Udin dari Suzuki Team tampil mempesona. Variasi suara beragam dan volume keras. Ia mengalahkan 55 lawannya. Berkat kerja kerasnya ia mendapat poin 400 dari akumulasi 2 bendera merah dan 4 bendera biru. Satu merah nilainya 100 dan biru 50. Siprus saingan terberatnya hanya menggondol nilai 350 dan puas di urutan ke-2.

Sebenarnya Siprus tak kalah merdu. Selama 20 menit ia tampil gacor dengan suara kristal yang bersih dan tebal. Kepala dan ekor juga terus dimainkan saat ia bernyanyi. Sayang, “Ia kalah ngotot dibanding Rolet. Padahal soal kualitas Siprus yang terbaik,” ujar Edi Sebayang, dari Mahabarata Bird Club. Siprusmendapat 3 bendera merah dan 1 bendera biru.

Prestasi gemilang juga diraih Roket, kenari milik Roni Wijaya dari Malang, Jawa Timur. Ia mencetak hattrick—setelah 3 kali berturut-turut menang—di kelas kenari sejati, bintang A, dan B. Jawara yang malang-melintang di Jawa Timur itu terkenal bersuara panjang dan keras. Ia mempunyai variasi suara yang sangat beragam. Wajar bila beberapa hobiis menawar Roket Rp40-juta. Namun, Roni enggan melepasnya. “Saya masih sayang Roket,” ujarnya.

Peserta berkualitas

Piala Gamako Cup salah satu ajang bergengsi, setara dengan Piala Raja dan Kapolri Cup. Para peserta adalah pemain terbaik dari Lampung, Bandung, Yogyakarta, Solo, Malang, dan Bali. Setidaknya 2.000 burung beradu nyali di kontes akbar itu.

Di ajang Gamako Cup X juga menganugerahkan juara umum penangkaran. Terdapat 4 penangkar bernilai sama, yaitu Royal Josal V3BC, Wawat Saviola BC, Duta Ong dari BSD, dan Agung Yudomo. Panitia dan peserta menentukan penangkar terbaik lewat pengundian. Akhirnya dewi fortuna jatuh pada Wawat. Sementara itu, juara umum perorangan diraih Sin Rony dari Surabaya dan juara umum tim direbut Jawa Timur tim.

Menurut Bambang Arifin, ketua panitia, kontes berjalan sukses. Namun, ia mengakui ada beberapa peserta yang tampak tidak puas dengan hasil lomba. “Sulit untuk memenuhi semua keinginan peserta. Yang penting, semua pihak harus bisa legowo untuk menerima hasil yang diberikan oleh juri,” ujar Bambang Arifin seusai kontes. (Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img