Sunday, November 27, 2022

Agro Makmur: Sukses Raja Bag Log dari Surakarta

Rekomendasi

Rutinitas sehari-hari di pelataran seluas 100 m2 itu terekam saat Trubus berkunjung ke perusahaan jamur Agro Makmur. Dari sanalah setiap minggu 13.500 bag log jamur kuping dan jamur tiram diproduksi. Dengan omzet puluhan juta per bulan, Agro Makmur menjadi produsen bag log terbesar di Surakarta, Jawa Tengah.

Seluruh bag log yang siap dikirim ke pekebun di Jawa, Bali, hingga Lombok itu diletakkan dalam 2 kumbung beranyam bambu dan beratap sirap. Antarkumbung dipisah oleh kolam berukuran 2 m x 5 m yang berfungsi menjaga kelembapan. Di kumbung berukuran 5 m x 9 m x 3 m itu ribuan bag log jamur tiram dan jamur kuping tertata rapi di rak 5 tingkat dan lantai. Masing-masing kumbung memuat 20.000 bag log.

Perusahaan di Desa Doplang, Karanganyar, itu mempekerjakan 18 karyawan. Kesibukan semakin meningkat tatkala pesanan melebihi kapasitas produksi. Sebulan silam seorang pekebun di Lombok minta dikirim 50.000 bag log. Padahal pada saat yang sama bag log-bag log di kumbung sudah habis dipesan.

Dari plasma

Adalah Soelaiman Budi Sunarto yang membidani Agro Makmur pada 1998. Nama Agro Makmur dipakai dengan harapan setelah belajar dan mandiri para pekebun akan subur dan makmur. Itu pula yang dilakoni oleh alumnus Fakultas Hukum Universitas Tujuhbelas Agustus, Semarang, setahun sebelum bendera Agro Makmur berkibar.

Saat pertama kali bermain di jamur, ia menjadi plasma sebuah produsen jamur di Magelang Jawa Tengah. “Usaha itudimulai dengan 2.000 bag log kuping dan 500 bag log tiram yang dibeli dari Yogyakarta,” ujarnya. Setahun berselangusahanya mulai menampakkan kemajuan. Kumbung pun bertambah hingga 2 buahberukuran 3 m x 4 m. Saat itu setiap 3 bulan ia mampu menjual 225 kg basah jamur kuping seharga Rp8.000 per kg.

Setelah menguasai teknik budidaya, konsultan bisnis di Perusahaan Dagang Muhammadiyah di Surakarta itu melebarkan sayap bisnis. Pengalamannya menunjukkan peluang bisnis jamur kuping sangat terbuka. “Permintaannya tinggi dan pasarnya mudah,” papar pengasuh bincang bisnis di radio Immanuel FM, PTPN FM, dan SAS FM Solo.

Pilihan menjadi produsen bag log terlintas setelah melihat banyak pekebun terpuruk karena kualitas bag log buruk. Imbasnya di musim hujan jamur kuping sulit tumbuh. Serangan kerepes pun mengganas. Melalui kerja sama dengan Badan Bimbingan Massal Ketahanan Pangan (BMKP) Provinsi Jawa Tengah, Soelaiman berhasil menemukan cara untuk meningkatkan kualitas bag log dengan menyemprot dan menyuntik pupuk daun racikannya.

Karena bag log berkualitas baik, banyak pekebun jamur turut memesan. Terbukti setiap bag log mampu menghasilkan 1,2—1,3 kg jamur kuping basah dari umumnya 0,7—0,9 kg. Peningkatan volume itu ditunjang oleh polibag yang lebih tebal dan ring berketebalan 4 mm.

Pengadonan dan fermentasi menjadi kunci sukses lainnya. Budi—sapaan akrab—memfermentasi serbuk gergaji dengan campuran kapur, lalu disiram air sebanyak 50—60% dari berat. Campuran itu didiamkan 10—30 hari. Bahan terfermentasi dicampur bekatul yang komposisinya bergantung dari jenis jamur. Jamur tiram misalnya, untuk setiap 100 kg dicampur 15 kg bekatul.

Pusat pelatihan

Tak melulu bag log, sejak 2001 Agro Makmur pun merambah ke penjualan jamur kering. Setidaknya 1 ton per bulan dibeli dari plasma yang tersebar di 8 kelompok pekebun jamur di sekitar Karanganyar. Untuk setiap kg jamur kuping kering dihargai Rp25.000—Rp26.000 per kg.

Pasar jamur kuping cukup bagus. “Untuk Surakarta saja serapan pasar tradisional masih lebih tinggi daripada pasokan,” ujarnya. Ia mencontohkan di pasar Gede kebutuhan setiap bulan mencapai 5 ton. Padahal di luar itu masih ada 2—3 pasar swalayan mampu menampung minimal 1 ton per bulan.

Sampai saat ini permintaan yang masuk ke Agro Makmur mencapai 10 ton jamur kuping kering per bulan. Sayang keterbatasan plasma membuat banyak permintaan terpaksa ditolak. “Kalau ada petani jamur kuping kesulitan pasar, kirim saja ke sini,” lanjutnya.

Untuk mengantisipasi pasar meluas pada Maret 2004 Agro Makmur pun membuat Pusat Pelatihan Pembibitan dan Budidaya Jamur yang bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan BMKP setempat. Tujuannya, “Membentuk jaringan bisnis jamur skala besar agar pekebun dapat lebih sejahtera,” tutur Soelaiman Budi mengakhri pembicaraan. (Dian Adijaya S/Peliput: Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img