Monday, August 8, 2022

Gempol Manjur Gempur Malaria

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Daun gempol Nauclea orientalis berpotensi sebagai alternatif pengobatan malaria. (foto : koleksi Merry Budiarti, S. Si., M.Si.)

Daun gempol berpotensi sebagai antimalaria.

TRUBUS — Buah gempol membulat kuning dan berselimut “rambut” putih mengingatkan akan bentuk virus korona. Itulah sebabnya sebagian orang kini menyebut buah tanaman anggota famili Rubiaceae itu sebagai pohon korona. Ada pula yang menyebut lonkida. Apa pun sebutannya daun gempol Nauclea orientalis berpotensi untuk mengatasi antimalaria—penyakit endemik di negara tropis.

Pengobat tradisional di beberapa daerah seperti Kecamatan Bungku, Provinsi Sulawesi Tengah, Kabupaten Buru (Maluku), dan Provinsi Papua memanfaatkannya untuk mengobati malaria. Namun, mereka memanfaatkan batang kulit pohon gempol. Kesalahan pemanenan mengancam keselamatan pohon kerabat kopi itu. Dampaknya memengaruhi ketersediaan tanaman gempol pada masa mendatang.

Peran senyawa aktif

Sejatinya daun gempol juga tidak kalah berkhasiat dibandingkan dengan kulit batang. Riset ilmiah membuktikan bahwa ekstrak daun gempol terbukti mampu menggantikan peran kulit batang dalam melawan Plasmodium falciparum—parasit pemicu penyakit malaria. Jika demikian, masyarakat tidak perlu mengelupas kulit pohon, tetapi cukup memanfatakan daun tanaman anggota famili Rubuaceae itu.

Dalam riset ilmiah peneliti menyiapkan ekstrak daun gempol dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Kemudian peneliti membuat fraksinasi cair-cair bertingkat menggunakan pelarut heksana, etil asetat, dan metanol. Aktivitas antimalaria ditunjukkan dengan nilai konsentrasi inhibisi (IC50) yang setara dengan besar konsentrasi bahan uji untuk menghambat pertumbuhan plasmodium hingga 50%. Aktivitas antiplasmodium malaria yang paling efektif adalah fraksi heksana dengan IC50 2,79 µg/ml yang mampu menghambat plasmodium hingga 50 % (lihat tabel).

Konsentrasi fraksi itu tergolong kategori highly active bersama dengan fraksi etil asetat dan metanol. Mayoritas senyawa yang terkandung dalam fraksi heksana adalah alkaloid, steroid, flavonoid, dan terpenoid. Kandungan senyawa metabolit sekunder diduga memiliki peran aktif dalam menghambat pertumbuhan plasmodium. Alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder dengan struktur dasar nitrogen yang dapat diproduksi dari beragam prekursor.

Senyawa-senyawa aktif itu berperan mengatasi parasit pemicu malaria. Alkaloid termasuk golongan metabolit sekunder utama yang diketahui berpotensi sebagai antimalaria. Cara kerjanya dengan menghambat pertumbuhan parasit plasmodium melalui pembentukan ikatan dengan asam deoksiribonukleat atau deoxyribonucleic acid (DNA). Selain itu alkoloid juga menghambat sintesis protein parasit.

Kasus malaria

Peran steroid dalam menghambat menghambat pertumbuhan parasit melalui penghambatan pembentukan  hasil sisa metabolisme parasit dalam fase tropozoit eritrosit mencerna hemoglobin (hemozoin). Flavonoid memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan parasit dengan dua cara. Pertama, menganggu transportasi nutrisi yang diperlukan oleh parasit. Kedua, menghambat katabolisme hemoglobin serta detoksifikasi.

Peran senyawa terpenoid memasuki membran eritrosit hingga ke dalam sel melalui lipid bilayer. Kondisi itu mengakibatkan penghambatan pertumbuhan dan infasi parasit malaria. Riset ilmiah gempol untuk malaria amat penting agar masyarakat dapat memiliki pilihan untuk mengatasi penyakit itu. Namun, diharapkan masyarakat dapat menerima manfaat dari hasil penelitian ini dalam wujud bahan baku obat baru untuk mengatasi masalah resistensi terhadap obat malaria yang sudah beredar saat ini. Harap mafhum, malaria termasuk salah satu penyakit yang menyebabkan tingginya angka kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui World Malaria Report 2018 menunjukkan terdapat 219 juta kasus malaria di dunia sepanjang 2017. Asia Tenggara menduduki posisi tertinggi kedua di dunia dengan estimasi jumlah kasus malaria 5% dari total kasus malaria dunia.

Masyarakat di beberapa daerah kerap memanfaatkan kulit batang pohon gempol untuk pengobatan malaria.(foto : koleksi Merry Budiarti, S. Si., M.Si.)

Kasus itu bermula dari penyebaran parasit oleh nyamuk Anopheles gambiae betina melalui gigitan ke tubuh manusia. Akibat gigitan itu parasit masuk ke tubuh dan menempati hati, tumbuh, dan berkembang biak. Ketika dewasa parasit meninggalkan organ hati lalu merusak sel darah merah. Akibat ulah plasmodium muncul gejala anemia pada penderita malaria.

Banyaknya spesies tumbuhan obat sebagai antimalaria menunjukkan bahwa pengembangan obat baru malaria perlu dilakukan secara berkelanjutan, baik sebagai obat baru ataupun kombinasi. Tanaman lain yang terbukti secara empiris hingga ilmiah dan umum dimanfaatkan untuk antimalaria antara lain, tanaman artemisia Artemisia annua, daun sambilata Andrographis paniculata, pulai Alstonia scholaris, daun pepaya Carica papaya, dan johar Cassia siamea.

Beberapa kendala yang dihadapi pada pengembangan obat berbasis tumbuhan di antaranya resistensi parasit malaria terhadap senyawa aktif, ketersediaan jenis tumbuhan obat sebagai bahan baku yang terbatas, dan kompleksitas tahapan isolasi senyawa aktif spesifik antimalaria. Hasil kajian terkait bioaktivitas ekstrak atau fraksi daun gempol sebagai antimalaria memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. (Merry Budiarti, S. Si., M.Si., Peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img