Saturday, May 9, 2026

Gula Semut Lontar, Jadi Sumber Pendapatan Warga di Desa Eilode

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id–Lontar merupakan tanaman spesifik di lahan kering yang beriklim kering seperti di Kabupaten Kupang, Rote Ndao, dan Sabu Raijua. Ketiga kabupaten itu berada di NTT.   Nira dari siwalan (nama lain lontar) itu dapat diolah menjadi gula. 

Salah satu pengolah gula lontar itu,  Semuel Uly. Ia  mesti ke lahan lontar pada pukul 01.00 dini hari hingga pukul 07.00 ketika musim panen raya. Selanjutnya ia memanjat tanaman setinggi 20—30 m dengan peralatan seadanya sendirian. 

Memanjat menjadi lebih lama dan berbahaya saat musim hujan karena batang licin. Risiko terjatuh pun relatif besar saat musim hujan. Setelah berada di bagian teratas tanaman, ia memotong mayang lontar dan menampung niranya dalam wadah. 

Warga di Desa Eilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu  turun setelah wadah terisi dan beralih ke tanaman lainnya. Ia bisa memanjat 25—30 tanaman dalam 6 jam dan mengumpulkan sekitar 100 l nira. 

Tahap selanjutnya Dony Uly—anak Semuel—membawa nira yang terkumpul ke rumah untuk diolah menjadi gula semut.

“Istri dan anak-anak yang mengolah nira lontar menjadi gula semut,” kata Samuel. 

Mereka menyaring nira agar bersih dari aneka kotoran seperti serpihan daun agar mutu terjaga. Kemudian keluarga itu memasak nira menggunakan kuali di atas tungku dengan api dari kayu bakar.

Mereka mesti mengaduk nira secara berkala. Api juga diatur agar tidak terlalu besar untuk menghindari gula di dasar kuali gosong. Pemasakan berlangsung 3—4 jam. Setelah mengental, kuali diangkat dari tungku dan didinginkan sekitar 10 menit. 

Proses berikutnya ibu dan anak itu mengaduk gula yang mengental memakai batok kelapa hingga berbentuk butiran. Kemudian gula semut dijemur memanfaatkan sinar matahari yang melimpah. Selanjutnya mengemas gula semut lontar.

Pertama wadah berupa stoples berisi 500 gram gula semut. Kemasan kedua berupa plastik bening yang memuat 1 kg gula semut. Semua hasil produksi gula semut itu terserap pasar. 

“Memproduksi gula semut lontar menguntungkan. Saya bangga menjadi pengolah gula semut lontar,” kata sulung dari 5 bersaudara itu.

Kapasitas produksi Semuel yang mencapai 10 kg/hari pun belum mampu memenuhi permintaan yang datang. Jika ia bisa menghasilkan 30 kg per hari pun pasti ludes terjual

Sulung dari 5 bersaudara itu pun mengajak tetangga membikin gula semut lontar. Semuel membentuk Kelompok Tani Suka Maju pada 2010. Setiap harinya mereka membuat gula semut dengan total produksi 60 kg/hari. 

Jumlah itu masih kecil dibandingkan dengan besarnya permintaan. “Ada orang Surabaya yang meminta pasokan 10 ton gula semut per kirim pada 2019. Kami belum bisa memenuhi permintaan itu karena keterbatasan modal,” kata Ketua Kelompok Tani Suka Maju itu.

Jumlah itu masih kecil dibandingkan dengan besarnya permintaan. “Ada orang Surabaya yang meminta pasokan 10 ton gula semut per kirim pada 2019. Kami belum bisa memenuhi permintaan itu karena keterbatasan modal,” kata Ketua Kelompok Tani Suka Maju itu.


Artikel Terbaru

Mengapa Buah Alpukat Baru Matang setelah Dipetik?

Trubus.id— Banyak orang heran mengapa buah alpukat justru keras saat dipanen, tetapi beberapa hari kemudian menjadi lunak dan matang...

More Articles Like This