Sunday, August 14, 2022

Hidroponik Hobi & Bisnis Asik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pilih komoditas sayuran eksklusif yang bernilai jual tinggiDua tahun terakhir hidroponik kembali marak dengan bermunculan para pehobi baru. Selain untuk hobi, sistem budidaya hidroponik juga menjanjikan laba besar.

Roni Arifin akhirnya memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan swasta untuk membuka kebun hidroponik. Di kebun 2.300 m2 Sarjana Teknik alumnus Institut Teknologi Indonesia itu menanam 8 jenis selada eksklusif seperti romaine, butterhead, dan endive yang menjadi konsumsi kaum kelas atas. Selada-selada itu selama ini pasokannya berasal dari impor dan jarang dibudidayakan di tanahair. Ia menanam selada-selada itu di 352 talang polivinil klorida (PVC) masing-masing sepanjang 4 m di atas 11 meja tanam.

Setiap meja berisi 32 talang dan setiap talang terdiri atas 20 tanaman. Pria yang belajar hidroponik dari internet, teman, dan buku itu mengadopsi sistem hidroponik nutrient film technique (NFT) lantaran praktis, ringkas, dan mudah merawat. Sistem itu mengalirkan air yang mengandung nutrisi secara kontinu sehingga seolah-olah membentuk lapisan tipis setebal 3—5 mm. Aliran air itu menjadikan kadar oksigen terlarut  berada di kisaran 6—10 ppm di suhu air 24—250C.

 

Pakchoy hidroponik, budidaya hidroponik hasilkan produk berkualitas dan ukuran seragamLaba besar

Dalam setiap siklus penanaman atau 35—42 hari, pekebun di Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu mendapat 7.040 tanaman. Satu kg terdiri atas 10 tanaman atau total volume produksi 704 kg. Itu untuk memasok hotel berbintang, restoran, dan food court sebuah lapangan golf di Jakarta. Ia membanderol produknya bervariasi antara Rp35.0000—Rp70.000 tergantung jenis selada. Dengan harga rata-rata Rp40.000 per kg, omzet Roni Rp28,6-juta per siklus.

Menurut Roni total biaya produksi per siklus Rp23,1-juta sehingga profit bersih Rp5,5-juta. Setiap bulan Roni panen selama 22 hari dari 22 siklus tanaman berbeda. Wajar kalau 2 tahun terakhir Roni kian mantap menjadikan hidroponik sebagai jalan hidup. “Permintaan mengalir deras tapi produksi belum mampu mengikuti,” kata pekebun 48 tahun itu.

Roni tak serta-merta mengelola kebun hidroponik di lahan 2.300 m2. Ia mulai  menanam selada di rangkaian hidroponik sederhana 3 tingkat dengan talang PVC dan rangka besi. Hasil panen untuk konsumsi sendiri. Setahun pertama berhidroponik, praktis ia tak memikirkan laba karena skala kecil. Itu mirip skala hobi.  Roni Arifin bukan satu-satunya pekebun sayuran hidroponik yang bermula dari coba-coba atau sekadar hobi. Banyak pehobi lain juga demikian: dari hobi menjadi bisnis.

Di Kotamadya Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, ada Andi Wibowo yang kini memasang 6 rangkaian pipa PVC berpenopang rangka baja ringan. Di lubang-lubang di permukaan pipa itu tumbuh berbagai jenis sayuran seperti selada, pakchoy, dan kailan. Luas “lahan” sayuran pria 43 tahun itu hanya 400 m2.  Andi rutin panen dua kali sepekan—pada Rabu dan Sabtu—masing-masing 4—5 kg sayuran hidroponik.

Kebun hidroponik milik Andi Wibowo di Karanganyar, Jawa TengahAlumnus Institut Teknologi Bandung itu memasarkan sayuran hidroponik ke restoran di Kota Surakarta. Harga jual variatif, yakni Rp10.000—Rp15.000 per kg untuk pakchoy,  Rp20.000 (selada), dan Rp30.000 (kailan). “Pembeli tertarik dengan produk hidroponik lantaran mulus tanpa cacat, rasa lebih gurih ketimbang sayuran konvensional, dan bebas pestisida sehingga menyehatkan,” kata ayah satu anak itu. Andi yang berprofesi sebagai ahli teknologi informasi itu memperoleh omzet  Rp1,2-juta per bulan dari perniagaan sayuran hidroponik.

 

Hobi ke bisnis

Setahun terakhir hidroponik memang kembali naik daun. Salah satu parameter tren hidroponik adalah kemunculan pehobi baru. Menurut Ir Agus Hendra, inisiator fanpage Hidroponiku di laman sosial media, pehobi baru kebanyakan berasal dari kalangan mapan menengah ke atas termasuk ibu rumah tangga, karyawan, dan pensiunan. Agus hobi berhidroponik sejak 2006. Pehobi baru muncul bukan hanya di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Bahkan, menurut Agus, ada pula pehobi di Pulau Anambas, salah satu pulau terluar yang termasuk dalam Provinsi Kepulauan Riau. Sekadar menyebut beberapa pelaku hidroponik:  Adjie Prasetyo di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Gita Soraya (Jakarta Pusat), Vivian Gunawan Ho (Jakarta Timur), Zaenal Rega Saputra dan Romagnan Michels (Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah), Kustedjo (Makassar), Sugeng Widyarso (Tangerang Selatan), dan Citra Dyah Kusumawardani (Kota Depok, Jawa Barat).

Roni Arifin meraih omzet Rp28,6-juta per siklus Citra Dyah Kusumawardani, misalnya, berhasrat memaksimalkan pekarangan rumah. Ia menyusun 6 buah pipa PVC berdiameter 4 cm sepanjang 4 m  di dinding teras depan. Di setiap pipa terdapat 20 lubang berjarak antarlubang 20 cm. Lubang-lubang itulah yang menjadi tempat meletakkan “pot” untuk menanam caisim, pakchoy, dan kangkung.  Sejak Agustus 2013 Citra rutin memanen 3—5 ikat caisim, setara 100—200 g, 2 kali sepekan.

Ia memetik dan mengemas sayuran sebelum berangkat kerja. Itu sebabnya ketika sampai di tangan konsumen, sayuran itu baru berumur 1—2 jam sehingga masih segar. Perempuan 34 tahun itu tidak pening menjual. Rekan-rekan Citra di tempat kerja menyerap habis produksi sayuran daun itu. “Mereka menyukai kondisi sayuran yang lebih segar dan enak ketimbang produk serupa dari pasar atau tukang sayur keliling,” kata alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya itu.

Citra dan para pehobi itu lazimnya memanfaatkan teknologi wick system alias sistem sumbu yang sederhana, nutrient film technique, dan substrat. Cara kerja sistem sumbu memanfaatkan daya kapilaritas seperti kompor minyak tanah (baca: Teknik Tanam Tanpa Tanah halaman 20—23). Bagi Citra dan rekan, sekali berhidroponik, memperoleh dua keuntungan sekaligus. “Hidroponik menjadi ajang penyaluran hobi menanam, sekaligus sarana membentuk jiwa wirausaha,” kata Citra.

Proses sortir dan kemas sebelum kirim di kebun Jiri Farm di Tangerang, BantenKencangnya tren hidroponik antara lain juga tampak dari penjualan perangkat hidroponik. Penyedia sarana hidroponik di Jakarta Timur, Bertha Suranto, menyediakan dua tipe hidroponik untuk hobi, NFT dan sistem sumbu. Ia mendesain NFT untuk hobi berukuran 1,5 m x 1 m terdiri atas 6 talang masing-masing 9 lubang tanam. Ia mampu menjual 5—10 unit per bulan dengan harga Rp2-juta per unit. Sementara hidroponik sistem sumbu terdiri atas 6 lubang tanam per unit.

Peraih penghargaan Young Women Innovators Award dalam perhelatan Forum Perempuan dan Ekonomi APEC  di Nusadua, Bali, September 2013 itu menjual rata-rata 30 unit hidroponik sistem sumbu per bulan. Sementara untuk hidroponik skala komersial, Purwantono DS dari PT Daya Sentosa Rekayasa, mampu menjual 10 unit per bulan. Harga satu unit hidroponik di luasan 1 ha mencapai Rp300-juta. Volume penjualan rata-rata itu dalam 2 tahun terakhir.

 

Efisien

Meski demikian bukan berarti budidaya sistem hidroponik tanpa masalah. “Cuaca yang tidak menentu menghambat produksi,” kata  Roni. Menurut Kunto Herwibowo yang menanam sayuran hidroponik tanpa greenhouse, jika cuaca terlalu panas maka sayuran terasa pahit sehingga pasar menolak. Kunto pernah mendapat komplain dari pasar swalayan. Roni mengatasi masalah itu dengan memasang jaring peneduh 60%—meloloskan sinar matahari 40%.

Sebaliknya jika cuaca mendung, maka pertumbuhan lambat. Menurut Roni jika seharian mendung, tanpa sinar matahari, maka panen juga terlambat 1 hari. Namun, jika 3 hari berturut-turut mendung, panen telat hingga sepekan. Masalah lain adalah ketersediaan sarana produksi seperti nutrisi A-B mix dan benih yang didatangkan dari mancanegara. Roni kesullitan memperoleh benih selada pada akhir tahun. Meski banyak masalah, masyarakat kini tetap gandrung hidroponik.

Instalasi hidroponik milik Bertha Suranto di Cibubur, Jakarta TimurMengapa hidroponik menjadi pilihan mereka? Bersih menjadi salah satu alasan. “Saya bisa menanam, memupuk, merawat, dan memanen tanaman tanpa harus belepotan tanah,” kata Andi Wibowo. Selama ini banyak yang berhasrat untuk berkebun, tetapi khawatir kotor atau takut cacing yang notabene menjadi penyubur lahan. Dengan mengadopsi teknologi hidroponik, hambatan itu tersingkir. Sebab, teknologi itu memang tanpa tanah, tetapi memanfaatkan air atau media nontanah. Kelebihan lain hemat lahan dan populasi per luasan bisa lebih tinggi.

Berapa luasan ideal untuk berkebun hidroponik? Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, skala ekonomis kebun hidroponik minimal 400 m2. Artinya jika pekebun ingin memperoleh laba dengan berhidroponik, maka luas tanam minimal harus 400 m2. Itu dengan pertimbangan menggunakan rumah tanam, instalasi permanen, dan setelah berjalan normal dapat ditangani oleh 1 pekerja.

 

Kurangi impor

Budidaya tanpa tanah itu berpeluang menghasilkan keuntungan tinggi. Wajar para pemain lama hidroponik seperti PT Kebun Sayur Segar (Parung Farm, Bogor), PT Momenta Agrikultura (Amazing Farm, Bandung), serta PT Kusumasatria Agrobio Taniperkasa (Kusuma Agro, Batu) terus menggarap pasar. Menurut koordinator lapangan hidroponik Kusuma Agrowisata, Muhammad Abdurochim, produksi setiap pekan mencapai 100 kg sayuran dari jenis romaine, baby kailan, petsay, kangkung, sawi putih, sawi daging, dan paprika. Mereka memasarkan produk sayuran itu di Malang, Surabaya, dan Bali. Kebun baru juga muncul seperti Jiri Farm di Tangerang sejak 2012.

Permintaan dan harga produk hidroponik terus meningkatDirektur pemasaran Parung Farm, Subagyo Joni, mengatakan permintaan dan harga sayuran hidroponik setiap tahun cenderung meningkat. Permintaan naik 15—25%, begitu juga dengan harga yang terus meningkat 10% per tahun. Penyebabnya antara lain kehadiran jaringan pasar modern nasional atau multinasional, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan gaya hidup sehat yang kian menguat.

“Kelas sayuran hidroponik lebih tinggi ketimbang sayuran konvensional, hampir sama dengan sayuran organik,” kata Ahmad Rifani, direktur PT Bimandiri, distributor dan penjualan sayuran di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat. “Meski harga sayuran organik lebih tinggi, tetapi beberapa kalangan lebih menyukai sayuran hidroponik. Sistem budidaya tanpa tanah membuat sayuran bersih sehingga pengolahan pun praktis,” kata Ahmad.

Menurut Dr Ir Anas Dinurrohman Susila MSi, anggota staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, tren hidroponik berpotensi mengurangi kebutuhan impor sayuran tanahair. “Indonesia mengimpor sayuran dan buah senilai Rp17-triliun per tahun,” kata Anas. Nilai itu menurut data Badan Pusat Statistik pada 2012 bahkan melebihi impor beras yang mencapai Rp10-triliun dan kedelai Rp13,8-triliun. Artinya, ada ceruk pasar sangat besar, yang selama ini diisi oleh sayuran impor.

Peluang itulah yang ditangkap oleh para pelaku hidroponik. Mereka semula sekadar hobi di rumah, dan tengah bersiap-siap memperluas lahan. Vivian, Sugeng, dan Citra hanya segelintir pehobi yang “bermetamorfosis” menjadi pelaku bisnis hidroponik. Sebab, sebagai hobi maupun bisnis, hidroponik memang tetap asik. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan, Kartika Restu Susilo, Lutfi Kurniawan, Muhamad Cahadiyat Kurniawan, dan Pressi Hapsari Fadlilah)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img