Trubus.id–Menurut peneliti sekaligus Kepala Pusat Riset Peternakan, ORPP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Santoso industri perunggasan memegang peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya melalui produksi daging ayam dan telur.
Badan Pusat Statistik mencatat pada 2022, kebutuhan ayam pedaging mencapai 81% (3,1 miliar ekor), itik manila 1% (56,7 juta ekor), ayam lokal 8% (308,6 juta ekor), dan telur 10% (379,3 juta ekor).
Menurut Santoso sektor peternakan berkontribusi besar pada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia menyampaikan bahwa aspek kesehatan, kesejahteraan ternak, distribusi, dan infrastruktur masih membutuhkan perhatian.
Meningkatnya permintaan daging dan telur ayam turut membuka peluang besar. Menurut Santoso pengembangan teknologi serta inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan mengurangi dampak lingkungan.
Riset global menunjukkan pentingnya pendekatan integratif pada unggas, seperti nutrigenomik yang mempelajari pengaruh pola makan terhadap gen. Teknologi terkini berpotensi meningkatkan gizi, tekstur, rasa daging, serta menghasilkan produk berkualitas tinggi yang lebih tahan penyakit.
Melansir pada laman BRIN bahwa pendekatan teknologi dalam industri, seperti Smart Poultry Health Welfare Management berbasis AI, blockchain, dan IoT turut memantau kesehatan unggas secara real time dan memastikan perawatan optimal. Namun, keberhasilannya bergantung pada SDM terampil dan keamanan data.
Pusat Riset Peternakan BRIN mendukung riset ayam lokal, termasuk pelestarian 18 dari 29 jenis unggas Indonesia yang tercatat di IUCN. Fokusnya juga mencakup penggunaan pakan lokal, peningkatan kualitas pakan, dan pengurangan polusi nitrogen serta fosfor dari peternakan.
“Kami lakukan riset pada pakan dan suplemen untuk memaksimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal, meningkatkan kecernaan pakan berkualitas rendah melalui penggunaan bahan pakan yang efisien, dan mengurangi polusi nitrogen dan fosfor yang dihasilkan oleh peternakan ayam,” ujar Santoso dilansir pada laman BRIN.
Adapun arah penelitian Pusat Riset Peternakan pada 2025–2029, meliputi penggunaan teknologi presisi untuk komoditas ternak strategis dan non-strategis, prinsip sistem budi daya mencakup pembibitan, pakan, vaksin, obat, dan hijauan pakan ternak, serta pengembangan model formulasi, vaksin rekombinan, obat herbal, dan teknologi peternakan berbasis otomasi.
BRIN bekerja sama dengan mitra internasional, termasuk Thailand, untuk registrasi produk di Indonesia. Inovasi lain mencakup mekanisasi dan gen editing untuk meningkatkan bobot dan kualitas daging unggas.
Santoso menyebut contoh rencana riset 2025 yakni uji in vivo ekstrak kulit kayu akway pada ayam pedaging dengan pendekatan sekuensing gen 16S rRNA.
Ia berharap hasil riset itu dapat menggantikan antibiotic growth promoters (AGP) dengan solusi yang lebih ramah lingkungan.
