Trubus.id – Pemanfaatan energi panas bumi selama ini dikenal terbatas untuk pembangkit listrik. Namun, Universitas Gadjah Mada (UGM) membuktikan bahwa potensi geotermal jauh melampaui batas konvensionalnya.
Di Lahendong, Sulawesi Utara, endapan silika dari fluida geotermal diolah menjadi booster pertanian cair bernama Katrili. Endapan tersebut mengandung sekitar 60 unsur menyerupai abu vulkanik yang menyuburkan tanah.
Teknologi nano digunakan untuk mengubah endapan menjadi cairan yang mudah diserap tanaman. Produk ini telah terbukti aman dan efektif melalui uji laboratorium.
Riset ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin antara pakar geotermal, nanoteknologi, dan konservasi tanah dari UGM. Mereka bekerja sama dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Unit Lahendong.
Katrili diaplikasikan ke tanaman melalui metode semprot atau kocor dengan dosis terukur. “Katrili telah menunjukkan hasil positif pada empat komoditas pertanian di Minahasa, yakni padi, tomat, kacang Kawangkoan, dan bawang merah,” jelas Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM, pakar geotermal UGM melansir pada laman UGM.
PT PGE mendukung pendekatan Geothermal Beyond Energy yang memaksimalkan sumber daya alam untuk solusi multi-sektor. “Pendekatan Geothermal Beyond Energy menempatkan sumber daya alam sebagai solusi berkelanjutan tidak hanya untuk kebutuhan listrik saja,” ujar Direktur Operasi PT PGE, Ahmad Yani.
Bupati Minahasa, Robby Dondokambey, menyambut baik hasil riset ini sebagai solusi pertanian lokal. Ia berharap Katrili dapat diperluas ke wilayah lain di Sulawesi dan Indonesia.
Wakil Bupati Vanda Sarundajang bahkan menjadikan halaman rumahnya sebagai lokasi uji coba. Ia menanam kacang Kawangkoan dan mengajak masyarakat belajar pertanian berkelanjutan. “Saya ingin agar masyarakat melihat dan belajar tentang pertanian berkelanjutan dengan booster berbahan lokal dan ramah lingkungan ini,” ucapnya.
Keberhasilan uji lapangan dirayakan lewat panen raya di Desa Tonsewer pada 26 Mei lalu. Acara ini dihadiri petani, pejabat daerah, akademisi UGM, dan perwakilan PT PGE.
Panen ditutup dengan tarian Katrili sebagai simbol syukur dan kolaborasi. “Kami berharap lapangan panas bumi lain di Indonesia yang memiliki endapan serupa dapat menerapkan pendekatan ini,” ujar Ir. Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU, ACPE, Wakil Dekan Fakultas Teknik UGM.
Dalam dialog bersama petani, Katrili terbukti efektif di berbagai kondisi cuaca ekstrem. Petani merasakan peningkatan produktivitas dan berkurangnya penggunaan pupuk serta pestisida kimia.
Mereka juga melaporkan perbaikan kualitas tanah dan daya tahan tanaman terhadap penyakit. Inovasi ini menjadi langkah nyata menuju pertanian yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.
Foto: ugm.ac.id
