Monday, November 28, 2022

Irama Agung Tak Terbendung

Rekomendasi
Irama Agung memenuhi syarat menjadi perkutut juara
Irama Agung memenuhi syarat menjadi perkutut juara

Perawatan maksimal kunci sukses Irama Agung menjadi kampiun.

Mayjen TNI (Purn) H Zainuri Hasyim menancapkan sebatang kayu berlapis kertas aneka warna ke tiang bernomor 125, 35, dan 121 pada pukul 11.10. Aksi Ketua Umum Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (P3SI) Pusat itu menandakan perkutut juara di kelas dewasa senior. Kelas itu yang paling bergengsi di kontes perkutut. Zainuri tidak asal menancapkan bendera tanda kemenangan itu.

Para juri mengarahkan Panglima Kodam III/Siliwangi periode 2000—2001 itu ke gantangan burung pemenang. Hasil penjurian menobatkan Irama Agung sebagai yang terbaik di konkurs Piala Raja Hamengku Buwono XXV 2014. Menurut Ketua Juri P3SI Pusat, HR Ali Badri Zaini, Irama Agung memenuhi syarat menjadi perkutut jawara. Artinya suara depan, tengah, ujung, serta irama dan kualitas perkutut berumur 16 bulan itu mendekati sempurna. “Burung itu selalu juara sejak Januari hingga Agustus 2014,” kata Ali Badri.

Juri menilai kicauan perkutut dengan teliti
Juri menilai kicauan perkutut dengan teliti

Keturunan Kaisar
Prestasi sebelumnya Irama Agung sukses menjadi juara kelas dewasa senior di kontes perkutut Piala ASEAN di Surabaya, Jawa Timur, pada 8 Juni 2014. Selain itu, perkutut itu juga menggondol gelar serupa di Piala Kapolri, pada 3—4 Mei 2014 di lapangan Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat, Bandung, Jawa Barat. Kemenangan di Piala Raja semakin mengokohkan posisi Irama Agung di puncak klasemen Liga Perkutut Indonesia (LPI).

Senyum pun menghias wajah pemilik Irama Agung, H Tohir Furi dari Madura, Provinsi Jawa Timur. “Saya senang dengan prestasi Irama Agung karena sesuai dengan target menjadi juara,” kata Tohir. Ia membeli Irama Agung Rp350-juta dari Ali Badri di Surabaya, Jawa Timur. Menurut Tohir harga tinggi itu wajar karena burung memang berkualitas prima. Tohir mengatakan Irama Agung cucu dari Kaisar, perkutut jawara yang berjaya pada 2010.

Menurut Tohir keunggulan Irama Agung antara lain rajin bersuara, berirama bagus, dan bermental kuat. Selain keturunan burung jawara, Tohir pun merawat Irama Agung sepenuh hati. Saban hari perkutut jantan itu mengonsumsi gabah dan milet. “Irama Agung dan pasangannya menghabiskan 0,25 kg gabah dan milet selama 3 hari,” ujar Tohir. Pria berumur 45 tahun itu juga memberikan vitamin sepekan sekali untuk menjaga daya tahan tubuh dan menambah selera makan.

H Tohir pemilik Irama Agung
H Tohir pemilik Irama Agung

Mendekati hari perlombaan, Tohir merawat Irama Agung secara khusus. Sepekan sebelum kontes, ia memandikan perkutut dengan sampo bayi agar terhindar dari kuman. Kemudian 3 hari menjelang lomba Tohir memberikan burung 5—7 butir kacang hijau yang direndam semalam. “Tujuannya untuk menambah vitamin,” kata pria yang menggeluti hobi perkutut sejak berumur 15 tahun itu.

Sementara di kelas dewasa yunior Angkling Darma menjadi pemenang. Perkutut milik H Nury dari Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, itu, mengungguli Artomoro klangenan H Tohir dan Diktator kepunyaan Asep KS dari Cianjur, Jawa Barat. Untuk kategori piyik, Parikesit kepunyaan H Hasan Basri dari Bekasi menjadi kampiun di kelas senior. Sementara juara piyik junior disabet Suara Uranium milik Yayang dan Anto dari Yogyakarta.

Lomba yang berlangsung di alun-alun selatan Yogyakarta itu berlangsung meriah karena dihadiri peserta dari berbagai daerah seperti Cianjur dan Bekasi, keduanya di Provinsi Jawa Barat, Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan Surabaya. Total jenderal 300 perkutut dewasa dan 320 zebradove piyik beradu merdu menjadi yang terbaik. “Lomba ini bertujuan menjalin silaturahmi antarpencinta perkutut,” kata Zainuri.

Piala bergilir lomba perkutut berbentuk mahkota raja
Piala bergilir lomba perkutut berbentuk mahkota raja

Burung berkicau
Dua pekan berselang, berlangsung kontes burung berkicau Piala Raja. Lokasi lomba di taman Candi Prambanan. Kontes yang berlangsung pada 7 November 2014 itu berlangsung riuh. Lebih dari 3.000 peserta dari berbagai daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali memadati arena lomba. Acara tahunan itu terselenggara atas kerja sama keraton Yogyakarta, Pelestari Burung Indonesia cabang Bantul, dan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kontes itu mempertandingkan 5 kelas utama, 57 kategori, dan menggunakan 3 lapangan yaitu A, B, dan C. Kelima kelas itu yakni Maharaja, Prameswari, Pariwisata, Sekar Kedaton, dan Bintang PBI. Kelas paling bergengsi yaitu Maharaja dengan tiket seharga Rp600.000 dan hadiah berupa miniatur mahkota raja dan uang tunai total Rp10-juta.

Kacer Rincong Aceh menjuarai 4 kelas berbeda di Piala Raja
Kacer Rincong Aceh menjuarai 4 kelas berbeda di Piala Raja

Burung peserta kelas Maharaja yaitu anis merah, kacer, cucak hijau, muraibatu, dan cendet. Pada kontes bertajuk Piala Raja Hamengku Buwono X itu muraibatu Pelor Mas milik Fitri BKS dari Samarinda, Kalimantan Timur, menjadi yang terbaik. Pelor Mas memang bukan muraibatu sembarangan. Burung itu langganan juara di berbagai kontes nasional. Prestasi sebelumnya muraibatu itu meraih juara pertama di kelas paling bergengsi Kapolda di gelaran Kapolda Jawa Barat pada Agustus 2014 dan kampiun di Royal Cup 2014.

Di Piala Raja Pelor Mas meraih peringkat pertama dari 3 kelas berbeda (Maharaja A, Prameswari B, dan Ring Pariwisata). Prestasi fenomenal lain diraih kacer Rincong Aceh milik M Kadafi. Burung itu menjadi kampiun di kelas Maharaja, Pariwisata B, Prameswari A, dan Prameswari B. Menurut Wahyudi, juri asal Bali, burung yang menjadi pemenang memenuhi syarat menjadi juara seperti berirama bagus dan materi lagu yang bervariasi. (Riefza Vebriansyah)

 

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img