Thursday, August 11, 2022

Jurus Demi Mutu Tinggi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Jumlah sapi di kandang milik  Enang Sulaeman kini 14 ekor, bertambah selusin hanya dalam 2 tahun. Populasi berlipat hanya dengan cara sederhana.

Enang Sulaeman menerima bantuan sapi? Bukan, penambahan 12 sapi dalam 24 bulan itu hasil mengubah kebiasaan. Lihatlah setiap pagi, ia senantiasa menyiapkan dua handuk untuk setiap ekor sapi yang akan ia perah. Sebelum memerah,  ayah 2 anak itu mengikat ujung ekor sapi ke atas. Tujuannya agar ekor yang bergerak-gerak itu tidak mengotori ambing. Handuk basah untuk menyeka ambing sebelum memerah, sedangkan handuk kering untuk mengeringkan ambing usai memerah.

 

Ia mengganti handuk baru setiap kali hendak memerah susu. Artinya Enang tak menggunakan sebuah handuk untuk memerah dua sapi sekaligus. Tujuannya mencegah penularan bakteri antarsapi.  Hasilnya mutu susu yang ia perah meningkat pesat. Ia menyetor susu segar berkadar lemak minimum 3,7%, total solid (TS) minimum 11,5%, serta tidak mengandung alkohol, peroksida, zat antibiotik, dan tanpa penambahan air.
Mutu meningkat
PT Frisian Flag Indonesia yang menampung susu para peternak hanya mensyaratkan kadar lemak 3,0%, TS 11,0%, serta tidak ada penambahan air dan tak mengandung peroksida, alkohol, atau zat antibiotik. Yang tak kalah mengagumkan adalah keberhasilan menekan total plate count (TPC) alias jumlah populasi bakteri dalam susu segar. Itu tercapai antara lain setelah Enang mengganti lantai kandang dengan keramik sehingga bersih.
Enang juga menjaga kebersihan kandang. Angka TPC rata-rata menjadi 750.000—800.000 koloni per ml. Menurut standar PT Frisian Flag Indonesia jumlah TPC maksimal 3-juta koloni per ml susu. Sebelum menerapkan pola higienitas itu, angka TPC mencapai 8-juta koloni. Menurut ahli sapi dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Dr Ali Agus DAA DEA, penurunan angka TPC mensyaratkan lingkungan kandang dan manajemen pemerahan yang higienis. Jika mungkin, “Gunakan mesin pemerah susu,” kata Ali.
Setelah mutu susu meningkat signifikan, keruan saja harga jual pun melonjak, saat ini Rp3.700—3.900 per liter. Bandingkan sebelumnya saat mutu susu relatif rendah, ia hanya mengantongi Rp2.500 per liter. Enang menjual minimal 240 liter per hari. Laba penjualan susu itulah yang ia gunakan untuk membeli indukan hingga jumlahnya mencapai 14 ekor. Selain perubahan konstruksi kandang dan teknik pemerahan, Enang juga memperbaiki nutrisi sapi.
Menurut Manajer Produksi dan Pengolahan Susu KPBS (Koperasi Peternak Bandung Selatan), drh Asep Rahmat Khaerudin, perbaikan nutrisi pakan dengan meningkatkan kadar protein konsentrat. Semula kadar protein hanya 12%, menjadi 16%. Konsekuensinya, “Harga pakan meningkat dari Rp1.750 menjadi Rp2.000 per kg. Toh, peningkatan volume produksi susu menjadikan kenaikan itu tertutupi,” kata Asep.
Semula minim
Sebelum Januari 2010, Enang (40 tahun) tak pernah menerapkan cara di atas. Pantas ketika itu ia berujar, pendapatannya, “Minim sekali, untuk memenuhi kebutuhan saja sulit.” Saat itu harga jual susu Rp2.500 per liter, sehingga Enang cuma memperoleh Rp27-juta per tahun atau Rp2,25-juta per bulan. Minus biaya pakan, ia mengantongi sepertiga hasil penjualan susu.
Harap maklum, saat itu kebanyakan peternak tidak menuruti sistem manajemen pemeliharaan yang baik. Kandang kotor, pemerahan sembarangan—bahkan mereka mencampur air untuk meningkatkan volume, sampai pemberian pakan yang tidak mencukupi kebutuhan nutrisi sapi laktasi. Akibatnya kualitas susu rendah sehingga harga anjlok. Celakanya penampungan menyamaratakan kualitas susu semua peternak. Penyebabnya, penampungan tidak memiliki pengukur kualitas susu hasil perahan para peternak.
Akibatnya, “Susu bagus dan jelek harganya sama,” kata H Aun Gunawan SE, kepala Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS). Itu membuat peternak kian enggan meningkatkan kualitas susu sehingga terbentuk lingkaran setan antara kualitas dan harga jual susu. Nah, pada pertengahan 2009, KPBS yang menaungi 4.500 peternak sapi di Pangalengan, Kabupaten Bandung Selatan, memperoleh bantuan dari PT Frisian Flag Indonesia (FFI) dan pemerintah Belanda antara lain berupa laktoskop dan somaskop untuk mengecek kadar laktosa.
“Peternak mesti memahami dan melaksanakan kaidah pemeliharaan dan pemerahan yang higienis,” tutur Anton Susanto, corporate communication manager FFI. Tanpa itu, jangan harap memperoleh susu berkualitas tinggi. Sebagai produsen minuman berbahan susu, FFI memerlukan bahan baku kontinu. FFI melirik KPBS lantaran lokasi yang cocok untuk pemeliharaan sapi perah—berketinggian di atas 1.000 m di atas permukaan laut dan dekat dengan pabrik FFI di Jakarta.
Untuk memotivasi peternak, KPBS memberlakukan sistem bonus dan potongan. “Kalau kualitas susu melampaui standar minimum, peternak mendapat tambahan harga; kalau kurang, dipotong,” kata Asep. Dari harga dasar pembelian susu oleh koperasi Rp2.800/l, peternak yang menyetorkan susu berkualitas baik bisa meraup bonus sehingga memperoleh total harga hingga Rp3.700—Rp3.900 per liter. Sebaliknya kalau menyetorkan susu berkualitas rendah, harga yang diterima bakal kurang dari harga dasar. Efeknya peternak pun berpacu meningkatkan kualitas susu untuk meraup penghasilan lebih.
Dampaknya produksi dan kualitas susu meningkat signifikan. Jika pada 2009 produksi susu KPBS  rata-rata 127 ton per hari, kini angka itu meningkat hingga 145 ton per hari. Rata-rata harga penjualan pun naik dari Rp3.580 menjadi Rp3.700 per liter. Padahal total populasi sapi milik anggota KPBS hanya meningkat dari 18.000 menjadi 19.500 ekor. Artinya, “Rata-rata produksi susu setiap sapi meningkat 46%,” kata Aun. Bagi peternak, itu berarti peningkatan kesejahteraan sehingga wajar jika Enang Sulaeman mampu menambah jumlah sapi. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Keterangan foto:

  1. Sapi milik Enang Sulaeman bertambah 12 ekor dalam 2 tahun
  2. Bonus atau potongan diberikan melalui kasir KPBS
  3. Dari kiri ke kanan: Direktur PT FFI Marco Spits , Dubes Belanda Tjeerd F de Zwaan, Wakil Bupati Bandung Deden Rumaji SSos, dan Ketua KPRS H Aun Gunawan meminum susu segar hasil peternak KPBS
  4. Susu harus bebas dari penambahan air, peroksida, zat antibiotik

 

 

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img