Monday, August 15, 2022

Karena Songgolangit Sembuh Rematik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Semua disebabkan rematik akut yang jadi siksaan tak terperikan. Namun, hal itu tak menggoyahkan semangatnya bekerja. Meski harus digendong bila ke kantor.

Begitulah hari-hari yang harus dilalui Ari; penuh penderitaan. Lima tahun silam, tanpa sadar jari manis tangan kanannya kaku, tak bisa digerakkan. Kondisi itu dianggap biasa saja. Sampai suatu hari rasa sakit tak lagi hanya di jari, tetapi menjalar sampai ke kaki kiri. Itu terjadi saat pria berusia 56 tahun itu di luar negeri. Ia hanya bisa pasrah.

Pulang ke tanahair, kondisinya makin memburuk. Sang istri pun tak tinggal diam. Ari dibawa ke salah satu rumah sakit di Surabaya. Di sana dokter malah merekomendasikan untuk pindah ke dokter lain khusus rematik. “Disuruh ke Prof Dr dr Gina, ahli rematik. Ia memvonis bapak sakit artritis rematoid atau rematik akut,” ujar ibu 4 anak itu.

Manca negara

Menurut Widayat Sastrowardoyo, Poli Obat Tradisional Indonesia RSU Dr Soetomo, Surabaya, rematoid menyerang sistem kekebalan tubuh. Penyakit itu mempunyai kecenderungan menahun dan bersifat progresif alias berkembang. Penyebabnya sampai sekarang masih belum diketahui. Namun, disinyalir ada faktor pencetus seperti trauma, beban kerja berlebihan, dan kelainan postur.

Sayangnya, setelah sekian lama berobat tubuh tak kunjung membaik. Seorang teman lama pun menyarankan Ari untuk berobat ke Cina. Seakan mencoba peruntungan, berangkatlah keluarga Peris itu menuju negeri Tirai Bambu. Dokter di sana juga menvonisnya sakit rematik akut dan harus segera diopname. Hampir 1 bulan ia terbaring tak berdaya di atas bangsal rumah sakit. Setelah kondisi agak membaik eksportir kapas itu kembali ke tanahair.

Namun, malang tak dapat ditolak. Tak lama, gejala serupa kambuh lagi. Sekali lagi mereka mencoba berobat ke manca negara, Taiwan. Berangkatlah sepasang suami istri itu ke Taiwan. Kembali satu bulan lamanya Ari harus dirawat. Tak lama kondisi tubuh mulai membaik. Ari kembali ke Surabaya, membenahi usaha ekspor-impor kapas yang telah lama ditinggalkan.

Seakan rematik tak ingin pergi dari tubuh pria itu. Teman lamanya menyarankan mereka tak harus pergi jauh-jauh. “Katanya di Singapura ada dokter bagus,” tutur Sumarwantini. Karena butuh pengobatan cepat, pergilah mereka ke negara Singa itu. Kali ini Ari tak harus diopname selama satu bulan. Hanya berobat jalan, minimal 2 minggu sekali. Satu tahun lamanya Ari harus mondar-mandir ke sana. Sampai akhirnya dokter Singapura menyarankan untuk berobat ke Semarang.

Pergilah sepang suami istri itu menuju semarang, tempat praktek dokter John Darmawan. Setiap minggu selama 6 bulan sang dokter memberi beragam obat. Hasilnya kadar asam urat turun dari 11,2 mg% menjadi 7,0 mg%. “Saat itu bapak sudah bisa pakai baju sendiri. Kalau bangun dari tempat tidur tidak mau dibantu lagi,” kenang ibu 4 anak itu.

Setengah miliar

Banyak sudah biaya yang dikeluarkan Ari demi kesembuhan. Toh, tanda-tanda kesembuhan belum juga muncul. “Hampir setiap berobat ke tiap negara yang dituju harus mengeluarkan uang Rp1-jutaan. Cuma untuk obat aja,” ujar wanita separuh baya itu. Berobat di r u m a h s a k i t di Indonesia juga sama saja. “Dokter bilang obatnya kan impor,” ujar Sumarwantini

Bolak-balik pengobatan ke luar negeri sudah berlangsung selama 2 tahun. Pengobatan di dalam negeri sudah 1 tahun dijalani setelah tak ada kemajuan berobat ke luar negeri. Total kocek yang sudah dikeluarkan sebanyak Rp640-juta. “Kami sudah habis-habisan. Sampaisampai usaha bapak hampir habis,” tutur Sumarwantini.

Awalnya ada sebanyak 11 unit mesin pengolah kapas dan pemintal benang. Namun, saking banyaknya pengeluaran untuk pengobatan, 10 unit terjual. Kondisi itu tak serta merta membuat Ari menghentikan usahanya. Meski dalam kondisi pas-pasan dan sakit-sakitan, ia tetap berjuang menjalankan usaha yang telah lama dirintisnya. Sampaisampai Dicky Peris, putranya, yang baru menyelesaikan kuliah Desain Grafi s dari Italia harus kembali ke Surabaya. Saat sang ayah dalam pengobatan, Dicky-lah yang menjalankan usaha itu.

Titik terang

Meski uang yang digelontorkan mencapai ratusan juta rupiah, kesembuhan belum datang. Pengobatan dokter hanya memberikan obat-obatan kimia. Dampaknya lambung Ari mengalami sakit tak terperikan. Seorang teman yang merasakan pilunya, menyarankan untuk mengkonsumsi obat tradisional, yaitu daun songgolangit.

Harapan kesembuhan kini bergantung pada tanaman yang tumbuh di lereng gunung. “Untuk mendapatkannya saya titip ke pekebun yang pergi ke sana,” kata Sumarwantini. Sebanyak satu kantong dibawa.

Sumarwantini merebus segenggam daun yang telah dicuci dan direbus setiap pagi, siang, dan sore dengan 2 gelas air hingga mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum. Setiap hari Ari mengkonsumsi 3 kali, masing-masing usai makan. Setelah itu kondisinya kian membaik. Dua bulan kemudian Ari sudah bisa berjalan sendiri, tidak harus dipapah. Merasa tak percaya pada kecepatan sembuhnya, Sumarwantini menyuruh suaminya memeriksakan diri ke sebuah laboratorium di Surabaya. Hasil laboratorium menunjukkan kandungan asam urat yang tadinya 7,0 mg% turun menjadi 2,6 mg%.

Mendengar kesaksian Ari di berbagai tempat di Surabaya, membuat beberapa penderita rematik tertarik untuk mencoba songgolangit. Seperti Ichwan yang mempunyai keluhan asam urat dan rematik sejak 2 tahun terakhir. Awalnya ia tak percaya seduhan daun songgolangit mampu menyembuhkan penyakitnya. Ternyatasetelah mencoba songgolangit selama satu bulan, kondisinya kian membaik. Sekarang tak ada lagi keluhan sakit persendiannya. (Lastioro Anmi Tambunan)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img