Wednesday, February 8, 2023

Kedelai di Bawah Sawit

Rekomendasi
Kedelai di bawah kelapa sawit TBM 2 atau berumur 13—24 bulan. (Dok. Balitkabi)

Memanfaatkan lahan di bawah tegakan kelapa sawit untuk budidaya kedelai. Tambahan omzet Rp15 juta per hektare.

Trubus — Pekebun kelapa sawit berpeluang menambah omzet hingga Rp15 juta per hektare hanya dalam waktu 71 hari. Selama ini lahan di bawah tegakan kelapa sawit kerap menganggur. Padahal, pekebun dapat memanfaatkannya untuk budidaya kedelai. Menurut Direktorat Perkebunan pada 2016 luas lahan kelapa sawit 12,31 juta hektare. Dari total itu, 46% atau 5,6 juta hektare merupakan kebun kelapa sawit rakyat yang dikelola 2,3 juta kepala keluarga.

Tim periset Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Dari kiri: Dr. Gatut Wahyu Anggoro Susanto, M.P., Dr. Novita Nugrahaeni, Dr. Kartika Noerwijati, dan Sagitarius Bambang Ermawan. (Dok. Balitkabi)

Sembari menunggu panen, berproduksi, petani bisa memanfaatkan lahan kosong di sela-sela kelapa sawit untuk membudidayakan kedelai. Peneliti kedelai dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi), Dr. Gatut Wahyu Anggoro Susanto, M.P, bersama tim peneliti lainnya menguji coba kedelai di bawah lahan kelapa sawit.

Varietas dena 1

Gatut dan rekan (Novita Nugrahaeni, Herdina Pratiwi, Siti Mutmaidah, Kartika Noerwijati, Kurnia Paramita Sari, Joko Susilo Utomo, dan Sagitarius Bambang Ermawan) menguji coba penanaman kedelai pada Februari 2018. Lokasi penanaman di Desa Tanjungjati, Kecamatan Binjai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, di lahan 40 hekatre. Umur tanaman belum menghasilkan (TBM) 1 dan TBM 2.

TBM 1 merujuk pada tanaman pada tahun ke-1 atau berumur 0—12 bulan. Sementara itu TBM 2 mengacu pada tanaman pada tahun ke-2 atau berumur 13—24 bulan. Pada jarak tanam kelapa sawit 9 m x 8 m, tim Balitkabi hanya bisa menggunakan lebar lorong 7 meter pada TBM 1 dan lebar lorong 5 meter untuk TBM 2. Harap mafhum, pada TBM 2 tanaman kelapa sawit makin besar sehingga vegetasi tanaman kian rapat. Naungan yang tersisa hanya 20—30%.

Kedelai varietas dena 1 toleran naungan hingga 50%. (Dok. Balitkabi)

“Karena kedelai yang akan kami tanam ternaungi, salah satu varietas yang kami pilih yaitu dena 1 yang terbukti cukup tahan naungan,” ujar Dr. Novita Nugrahaeni. Dena 1 merupakan varietas unggul Balitkabi yang dirilis pada Desember 2014. Potensi hasil dena 1 mencapai 2,9 ton per hektare dan rata-rata hasil 1,7 ton per hektare. Dena 1 toleran terhadap naungan hingga 50%.

Selain dena 1, mereka juga menggunakan dega 1 yang unggul dari segi umur panen (71 hari setelah tanam), argomulyo yang tahan rebah, dan anjasmoro yang berbiji besar. Tim periset menggunakan jarak tanam tunggal 40 cm x 20 cm dan jarak tanam ganda 50 cm x (30 cm x 20 cm). Penanaman benih kedelai dengan menugal. “Kami isi per lubang tanam 2—3 benih,” ujar Sagitarius Bambang Ermawan.
Pada awal tanam tim memupuk 150 kg NPK, 50 kg Urea, 50 kg ZA, 150 kg SP-36, dan 50 kg KCl. Mereka memberikan pupuk sebelum tanamann berbunga dan setelah pembentukan polong. Khusus untuk TBM 1, perlu tambahan 0,75—1 ton dolomit per hektare saat awal tanam. Gatut juga menambahkan 3 liter pupuk organik cair per hektare. Pada umur 76—88 hari setelah tanam, mereka memanen kedelai. Cirinya semua daun luruh dan polong menjadi cokelat.

Jarak tanam

Gatut menuturkan, hasil tertinggi pada TBM 1 rata-rata 2,36 ton per hektare, sedangkan pada TBM 2 mencapai 1,07 ton per hektare. “Capaian itu menunjukkan potensi lahan di lorong kelapa sawit baik TBM 1 dan TBM 2 untuk budidaya kedelai masih representatif,” ujar alumnus jurusan Pemuliaan Tanaman, Universitas Gadjah Mada, itu. Menurut Gatut kedelai varietas argomulyo berproduktivitas tertinggi pada TBM 1 mencapai 2,88 ton per hektare.

Kedelai varietas dega 1 unggul karena berumur genjah. (Dok. Balitkabi)

Jarak tanam berjarak tanam 40 cm x 20 cm. Pada TBM 2 varietas dena 1 berjarak tanam 40 cm x 20 cm memperoleh produktivitas tertinggi mencapai 1,27 ton per hektare. “Pada TBM 1 naungan masih tidak terlalu rapat, sementara pada TBM 2 naungan sudah rapat. Dena 1 terbukti lebih mampu bertahan di bawah naungan,” ujar Dr. Kartika Noerwijati, tim peneliti Budena. Hasil perhitungan Siti Mutmaidah dan rekan, total biaya produksi pada TBM 1 Rp10.070.000 per hektare. Adapun biaya produksi pada TBM 2 mencapai Rp6.301.500 per hektare.

Biaya produksi pada TBM 1 lebih tinggi karena populasi tanaman lebih banyak sehingga kebutuhan sarana produksi dan biaya tenaga kerja lebih tinggi. Hasil produksi pada TBM 1 rata-rata 2—2,5 ton per hektare sementara TBM 2 mencapai 1—1,2 ton per hektare. Harga kedelai pada musim panen Rp6.200 per kg. Penerimaan hasil budidaya kedelai di bawah naungan kelapa sawit pada TBM 1 mencapai Rp15.500.000 dan TBM 2 mencapai Rp6.301.000.

Keuntungan bersih pada TBM 1 mencapai Rp5.430.000 dan TBM 2 mencapai 1.138.500. “Keuntungan akan lebih tinggi ketika hasil panen diproses menjadi benih. Dari hasil budidaya yang baik, biasanya petani akan memperoleh 80% benih dari total hasil panen. Harga per kg benih di tingkat petani Rp10.000 per kg saat itu,” ujar Gatut. (Bondan Setyawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kementan Dorong Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Kopi

Trubus.id — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditas tanaman...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img