Wednesday, February 8, 2023

Tanam Padi dari Langit

Rekomendasi
Drone merah putih berfungsi untuk menyebar benih padi. (Dok. BBP Mektan)

Mesin penanam padi dari angkasa. Lebih cepat, makin hemat.

Trubus — Pesawat kecil nirawak berwarna putih lalu-lalang di atas permukaan sawah. Dari ketinggian 2 meter di atas permukaan tanah, mesin itu menaburkan benih padi. Peranti itu adalah drone atau pesawat nirawak, inovasi Balai Besar Pengebangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan). Menurut perekayasa BBP Mektan, Dr. Lilik Tri Mulyantara, penggunaan pesawat nirawak di bidang pertanian harus dikembangkan dan diperkenalkan kepada petani.

Menurut pria kelahiran 19 Desember 1968 itu selama ini di sejumlah tempat penananam dengan sistem sebar dilakukan dengan tenaga manusia. Sudah saatnya petani menggunakan pesawat nirawak. Satu unit pesawat mampu mengangkut 15 kg benih. Kecepatan drone rata-rata 3 km per jam. “Drone ditargetkan dapat menyebarkan 40—50 kg benih padi per hektare,” kata Lilik Tri Mulyantara.

Lahan siap tanam

Dr. Lilik Tri Mulyantara,
perekayasa drone merah putih. (Dok. BBP Mektan)

Mengoperasikan pesawat penebar benih terbilang sederhana. Petani hanya memasukkan data program ke remote control. Tangki benih padi atau hopper diisi terlebih dahulu. Dari kapasitas 15 kg tangki harus diisi 80% bagian saja atau 12 kg dengan bukaan sebesar 70%. Hal itu bertujuan untuk menghindari keluarnya benih padi terhambat akibat mampat.

Drone bergerak mengikuti titik batas operasional sesuai arahan sistem pemosisi global (GPS). Mesin yang diluncurkan pada Juni 2019 itu akan kembali ke posisi awal ketika indikator baterai menunjukkan sisa 20%. Artinya baterai harus diganti dengan yang terisi penuh, drone pun kembali menuju titik terakhir persebaran benih.

Setelah benih terisi, drone akan terbang dan kembali menebar benih. Menurut Lilik benih untuk penggunaan drone tidak sembarangan. Pria 51 tahun itu mengatakan benih yang digunakan harus dalam kondisi bersih dari debu dan akan lebih baik benih padi dalam kondisi terlapisi (coated seed) yang baik alias tidak mudah rontok. Lahan yang akan ditanami harus dalam keadaan siap tanam.

Artinya bila penanaman dilakukan di lahan kering, irigasi sawah sudah harus tersedia terlebih dahulu. Irigasi tidak sama dengan penggenangan. Penggenangan lahan sangat dihindari karena dapat menyebabkan lahan berbeda tinggi. Dampaknya benih terkumpul di bagian yang lebih rendah. Olah tanah sawah atau pembajakan juga wajib dilakukan agar benih memiliki media tanam yang baik.

Pesawat multifungsi

Drone terbang 2 meter di atas permukaan lahan dengan kecepatan rata-rata 3 km/jam. (Dok. BBP Mektan)

Pertimbangan kondisi cuaca tidak boleh luput sebelum mengaplikasikan drone penebar benih. Pasalnya drone belum dapat digunakan dalam kondisi hujan dan berangin kencang. Menurut perekayasa madya BBP Mektan itu kecepatan angin yang berlebih sangat berpengaruh terhadap kestabilan terbang drone dan ketepatan penebaran benih padi di sawah.

Drone tidak hanya menebar benih, tapi dapat juga menyemprotan pestisida, pupuk cair, dan pupuk granular. Pesawat nirawak penebar benih semula berupa drone sprayer yang khusus menyemprotkan pupuk dan pestisida. Perekayasa mengatur dengan piringan horizontal berlubang dengan kecepatan putaran 500 rotasi per menit (rpm).

Menurut Lilik teknologi mutakhir itu mampu mengatasi minimnya tenaga kerja dan alat mesin pertanian (alsintan). Menurut doktor Appropriate Technology and Sciences for Sustainable Development alumnus Universitas Tsukuba, Jepang, itu kebutuhan alat dan mesin pertanian meningkatkan efisiensi waktu penanaman dan kerja. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

Previous articleKedelai di Bawah Sawit
Next articlePertanian Cerdas
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Kementan Dorong Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan Kopi

Trubus.id — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mendorong upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada komoditas tanaman...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img